Friday, May 25, 2007

MEMBAWA KABAR BAIK ATAU MEMBAWA KERESAHAN?

Sebagai seorang profesional yang berkecimpung dalam dunia teknologi informasi,
saya mengikut sejumlah mailing list, baik terkait dengan teknologi informasi maupun
bidang lain yang saya rasa dapat membawa manfaat buat saya. Dan saya ingin menyampaikan
pengalaman saya tentang sudut pandang saya dan seorang percaya yang secara tidak sengaja
berinteraksi dengan saya melalui email dalam situasi pembicaraan yang cukup menarik.

Ceritanya adalah sebagai berikut:

Suatu saat saya membaca email dari suatu milis yang isinya kurang lebih tentang
psikologi, filsafat, dan keyakinan hidup.
Saya tergelitik mendapati email dari member lain yang menceritakan suatu kekejaman
pelaksanaan hukuman pelanggaran dosa yang diceritakan dalam bahasa indonesia dan Inggris.
Email ini juga mencantumkan link ke video rekaman pelaksanaan hukuman ini.
Kekejaman ini dilatarbelakangi suatu keyakinan yang mengharuskan tindakan dosa berat
haruslah dihukum dengan berat, seperti pemotongan kaki, hukum cambuk, rajam batu, dll.

Email ini saya copy dan saya kirim ke rekan-rekan saya seiman dimana saya mengirimkan
email ini ke teman dengan iman keyakinan Kristiani dengan maksud menginformasikan bahwa
ada keyakinan tertentu menerapkan hukuman mengerikan untuk pelanggaran dosa dan saya ingin
menginformasikan pada teman-teman saya seiman untuk mengetahui dan menyadari bahwa
di luar iman kita, pelanggaran dosa di dunia sudah harus menanggung hukuman berat yang
harus ditanggung di dunia ini di mana pelanggaran ini tidak memiliki kemungkinan diampuni,
dan para penganut keyakinan ini harus menerapkan pelaksanaan hukuman ini dengan maksud
supaya tercipta suatu masyarakat yang kudus dan suci.

Maksud dari pelaksanaan hukuman ini mungkin baik, yaitu ingin menciptakan masyarakat
rohani yang kudus, suci. Tetapi secara kemanusiaan, pelaksanaan hukuman ini adalah
mengerikan dan menakutkan. Dan tidaklah mungkin tercipta suatu masyarakat kudus
dan suci di dunia ini yang dilatar belakangi oleh hukum atau aturan agama yang
memberikan sanksi berat bagi pelanggaran dosa berat.
Mengapa?
Karena tidak ada seorangpun yang dapat hidup suci dan sempurna selama hidupnya.

Ternyata setelah mengirimkan email ini, ada satu penerima membalas dengan isi yang
cenderung menyalahkan tindakan saya mengirimkan email tersebut.
Dia saya kira teman saya yang saya kenal, ternyata bukan, tetapi dia memiliki iman
yang sama.

Saya heran kok saya bisa mendapati email dari dia yang cenderung menyalahkan saya
dan membalas email saya dengan bahasa yang formal dan serius. Kalau dia teman yang
mengenal saya, saya rasa dia tidak akan mengirimi email ke saya dengan bahasa semacam itu.

Ternyata setelah saya tanyakan ke seorang teman yang lebih mengenal teman yang saya kira
adalah pemilik email itu mengatakan bahwa email itu bukan email teman yang saya kenal,
tetapi orang lain dengan nama depan sama, dan kebetulan dulu adalah anggota gereja saya
juga. Jadi saya salah mengira dia teman saya....

Bagaimana saya bisa mendapati emailnya?
Saya mendapati emailnya dari recipient/daftar penerima forward
teman gereja saya, di mana saya kira dia adalah mantan teman gereja saya juga maka
saya mengiriminya juga. Dan rekan inilah yang membalas email saya.

Intisari emailnya seperti berikut:
'Isi email Anda bisa meresahkan negara, sebaiknya kita harus menghargai keyakinan lain
dan sebaiknya Anda jangan mengirimkan atau menyebarluaskan email ini'

Saya menyadari maksud baiknya, tetapi saya mendapati bahwa dia berbicara dalam konteks
yang perlu ditelusuri lebih lanjut yang memicu saya menulis artikel ini.

Memang isi email saya mungkin bisa meresahkan banyak orang, tetapi apakah dengan meresahkan
orang, apakah suatu berita atau informasi yang merupakan fakta tidak boleh diberitakan?

Coba kita pikirkan, Tuhan Yesus merupakan seorang tokoh yang membawa keresahan terbesar
di masanya...
bahkan sekarang pun pengikutnya dianggap membawa keresahan di mana-mana...

Mengapa? Karena Tuhan Yesus memberitakan tentang pertobatan, tentang hukum rohani yang
berbeda dengan hukum sebelumnya, tentang penghukuman kekal, tentang kehidupan kekal.
Apabila Tuhan berbicara sesuatu yang tidak membawa keresahan, tidak mungkin Dia akan
disalibkan oleh orang-orang pada saat itu.

Dia membawa keresahan terbesar di masanya karena pengajarannya sungguh membuat para
petinggi agama maupun pemimpin politik menjadi resah dan terancam.

Bila seorang beriman menceritakan pada seorang yang tidak beriman tentang neraka,
pasti seorang yang tidak beriman itu bisa merasa resah... Mengapa?
Mungkin orang beriman itu selama ini tidak memikirkan tentang neraka, tetapi
dia mendengar tentang neraka yang mengerikan, di mana dia akan masuk di dalamnya
bila dia tidak bertobat. Dia pasti resah karena mengetahui ada hukuman kekal yang begitu
mengerikan dari Tuhan bagi orang berdosa.

Orang beriman ini pasti dianggap meresahkan dan orang tidak beriman itu bisa jengkel
atau resah... dan keresahan ini bisa dialaminya dalam waktu singkat atau pun berlarut-larut.
Keresahan ini bisa dia lupakan atau dia perhatikan dan renungkan. Bila dia merenungkannya,
hal ini bisa membawa perubahan hidup dan pertobatan dalam kehidupannya karena dia menjadi
takut, takut akan hukuman dosa di neraka. Dan dia menyadari bahwa bila dia seorang berdosa..
, dia akan mencari Tuhan yang memberikan pengampunan dan kasih karunia dari Tuhan
melalui anakNya yang tunggal yang mampu memberikan penebusan dosa.
Bila dia melupakan cerita ttg neraka, saya rasa suatu saat pada waktunya
akan muncul memori tentang berita neraka ini yang mungkin akan menimbulkan keresahan lagi
sehingga dia akan merenungkannya.

Penginjil, pengikut Kristus adalah orang-orang yang dianggap membawa keresahan oleh sebagian
orang.... Saya juga dituduh membawa keresahan karena email itu..

Tetapi saya menyadari bahwa pendapat rekan seiman yang berkata bahwa saya mengirimkan
email yang membawa keresahan adalah benar...
Mengapa? Karena memang pemberian hukuman dosa dari keyakinan itu adalah kejam dan menakutkan.
Saya sendiri cukup ngeri terhadapnya dan saya bersyukur saya bukan penganut keyakinan itu....
Saya adalah pengikut Kristus dan saya telah diampuni olehnya... apabila saya jatuh dalam dosa,
saya akan mengakui dosa di hadapanNya dan meminta dia membasuh saya dengan darahNya maka
Ia akan mengampuni dan menyucikan segala dosaku. Puji Tuhan buat kasih karuniaNya..

Bahkan penganut keyakinan itu sendiri sebagian daripadanya juga resah.... karena mereka juga
takut terhadap penerapan hukum agama itu. Mengapa? Karena mereka menyadari pasti ada sebagian
orang yang akan melakukan pelanggaran dosa, dan harus menerima hukuman itu.
Dan sebagian besar dari penganut agama itu yang adalah pelaku pelanggaran dosa berat tentu
akan lebih takut lagi...

Jadi jangan takut kalau kita dianggap meresahkan orang.... selama berita yang kita beritakan
adalah benar dan bisa membawa perubahan hidup maupun pertobatan bagi orang lain.
Terlebih apabila berita yang kita ceritakan adalah berita Injil, berita tentang keselamatan,
berita tentang kebangkitan, kehidupan kekal maupun hukuman kekal.

Melanjutkan tanggapan saya terhadap email rekan itu:
Tentang menghargai keyakinan orang lain, saya setuju dengan kata "menghargai" ini,selama
kita mengartikan dengan benar.

Menghargai bukan berarti setuju....
Bila saya menghargai pendapat Anda... apakah saya mesti setuju dengan Anda?
Bila Anda menyukai jeruk, saya menghargai pendapat Anda bila Anda menolak pemberian apel dari saya
karena Anda mengatakan terus terang bahwa Anda suka jeruk dan tidak suka apel.
Tetapi apakah Anda menghargai pendapat saya dengan berkata bahwa Anda juga suka apel padahal
kenyataannya Anda suka jeruk? Lalu apakah anda perlu berusaha menyukai apel? Saya rasa
kita tidak harus bertindak seperti itu bukan? Memang ada orang yang merasa perlu menghargai
dengan berkorban dari ketidaksukaannya dengan memakan pemberian apel dari saya.
Tetapi sebenarnya saya tidak berharap memaksa seseorang untuk juga menyukai apel atau
menerima pemberian apel saya bila dia memang tidak menyukai apel.

Demikian juga bila saya menceritakan suatu informasi yang mungkin kurang positif tentang suatu
objek, bukan berarti saya tidak menghargai objek itu.
Bila saya bercerita tentang kekurangan dari jeruk pada orang yang suka jeruk... apakah dia
berhak marah terhadap saya? Saya rasa tidak, mengapa? Karena saya adalah seorang pecinta apel
yang mungkin lebih mengenali kekurangan jeruk.

Jadi memang benar kita tidak boleh mengata-ngatai atau menganggap rendah penganut
agama atau keyakinan lain. Tetapi bukan berarti saya menyetujui ajaran agama atau keyakinan lain..
Mengapa? Karena memang ajaran agama lain tidak sesuai dengan keyakinan hati saya.
Kalau saya harus menghargai dengan menyetujui ajaran agama atau keyakinan lain, apakah saya
perlu mengikuti juga? Berarti saya perlu memiliki lebih dari satu agama atau keyakinan.
Tentu tidak kan..

Saya juga tidak menyalahkan penganut agama lain yang mungkin melihat kekurangan dari iman atau
keyakinan Kristen...
Mengapa? Karena mereka memang belum meyakini iman Kristen...mereka belum mengenal pribadi Tuhan
Yesus...
Jadi saya tidak perlu sakit hati atau jengkel dengan penganut agama lain yang memang tidak
menyetujui atau mengiyakan tentang ajaran dan keyakinan Kristiani.
Tetapi saya akan belajar memahami mengapa mereka meyakini keyakinan atau agama lain
tersebut... dan saya menghargai pilihan keyakinan penganut agama lain tersebut.

Hanya saja mungkin saya akan tetap menginformasikan (bukan memaksakan) tentang kelebihan
apel (karena saya pecinta apel) dan menginformasikan kekurangan jeruk (karena saya
tidak suka jeruk) pada pecinta jeruk supaya mereka juga bisa menyukai apel... secara
sukarela.

Apabila yang saya analogikan apel yang saya suka adalah kasih Tuhan Yesus,
walau saya dianggap meresahkan oleh orang yang tidak suka "apel", saya akan tetap
menceritakan kebaikan dan kelebihan "apel" karena saya berharap yang tidak suka
"apel" dan lebih menyukai "jeruk" bisa menyukai "apel" yang saya sukai.
Apalagi kasih Tuhan Yesus membawa ke pertobatan, penebusan dosa dan kehidupan kekal.

Jadi kalau Anda dianggap meresahkan, puji Tuhan karena Tuhan Yesus juga dianggap meresahkan.
Jadi jangan takut, bila Anda berbicara tentang kabar baik, tentang kabar meresahkan
tetapi yang dapat membawa perubahan hidup, membawa perenungan ke arah pertobatan bagi para
pembacanya.

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh karena nama Tuhan Yesus....

Terima kasih buat pengirim email ke saya yang menyadarkan saya bahwa memang sudah seharusnya
orang Kristen dianggap pembawa keresahan yang membawa perubahan hidup dan keselamatan bagi
orang lain.
Jadi saya tidak malu lagi dikatakan orang yang mengirim email yang membawa keresahan....

Puji Tuhan!!

No comments: