Wednesday, August 29, 2007

Lebih Dari Sekedar Bekerja


Lebih Dari Sekedar Bekerja

JAWABAN.com - Ucok, di mata orang banyak barangkali hanyalah seorang tukang tambal ban yang mangkal di Jalan Soekarno Hatta, Bandung. Tapi bagi saya dia lebih dari sekadar tukang tambal ban. Apa yang dikerjakannya memiliki nilai plus bagi hidup saya.

Dia adalah orang yang berjasa bagi saya - setidaknya pada hari itu - saat ban mobil saya bocor. Bayangkan jika ban mobil saya tidak segera ditambal, bisa jadi hal-hal buruk akan menimpa saya, seperti kecelakaan lalu lintas. Pekerjaan dia juga memuluskan agenda pekerjaan saya hari itu. Ucok juga membuat saya bisa segera berkumpul kembali dengan istri dan anak saya di rumah.

Orang seringkali merasa minder dengan pekerjaannya. Barangkali dia berkata, Ah, aku ini hanya karyawan biasa. Aku hanya seorang satpam. Aku hanya seorang pembersih toilet. Aku hanya tukang kebun. Aku hanya seorang pembantu rumah tangga. Aku hanya seorang guru, dan sebagainya. Benarkah demikian?

Baru-baru ini ketika saya memberikan pelatihan kepemimpinan kepada para guru dan kepala sekolah di Bandung, saya mengatakan kepada mereka : ”Jika Anda menjadi seorang pemimpin dan guru yang baik maka Anda bisa berkata : ’Hari ini aku melihat seorang bertumbuh menjadi orang yang lebih baik dan aku tahu aku telah membantunya.’” Pernyataan sederhana itu terbukti kebenarannya ketika saya diminta untuk menjadi dosen tamu di kampus saya : Jurusan Teknik Kimia Universitas Katolik Parahyangan Bandung, tahun silam. Saya bertemu dengan dosen sekaligus mantan ketua jurusan saat saya masih kuliah.

Dengan senyuman yang ramah dia menyapa saya dan berkata : ”Paulus, saya selalu ikut merasa bangga setiap kali saya melihatmu di media massa.” Oh Tuhan, betapa terharunya hati saya. Rupanya, belum lama berselang, dia membaca harian KOMPAS yang memuat foto saat saya membawakan seminar dan meluncuran buku di angkasa. Event tersebut adalah yang pertama di dunia dan sempat di catat dalam rekor MURI (Museum Rekor Indonesia).

Sedikit-banyak saya masih ingat betapa kasih, perhatian dan pengajaran yang diberikannya semasa saya kuliah ikut membentuk diri saya. Saya sering berpikir, hanya orang sombong dan lupa ingatan sajalah yang berani mengklaim kalau apa yang dicapainya semata-mata karena usahanya sendiri.

Makna Pekerjaan

Bertolak dari cerita sederhana di atas, saya ingin mengajak kita semua untuk melihat lebih jauh manfaat dari pekerjaan kita bagi sesama. Siapa saja orang yang kualitas hidupnya menjadi lebih baik karena apa yang Anda lakukan? Apakah pekerjaan Anda sungguh memberikan nilai plus (bukan nilai minus) bagi pekerjaan dan hidup orang lain? Apa makna pekerjaan bagi Anda? Jawaban Anda atas pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut tampaknya akan menentukan seberapa berarti pekerjaan Anda saat ini di mata Anda. Sejauh pengamatan saya, cara pandang kita terhadap pekerjaan kita akan sangat menentukan prestasi kerja kita. Tanpa bermaksud untuk menggurui atau menyatakan diri sebagai pakar, perkenankanlah saya untuk menawarkan beberapa rumusan mengenai makna pekerjaan.

Pertama, pekerjaan sebagai sarana untuk mencari nafkah. Tampaknya inilah makna pekerjaan yang paling dasar dan ada dalam diri setiap pencari kerja. Minimal, didorong oleh keinginan agar tidak menjadi beban bagi orang lain, seseorang akan berusaha menemukan pekerjaan yang bisa mencukupi kebutuhan hidupnya.

Cara pandang seperti ini tidaklah salah. Namun jika seseorang hanya memandang pekerjaan sebagai sarana untuk mencari nafkah maka ia akan cepat merasa bosan dan melihat pekerjaannya sebagai sebuah beban. Sangat sulit baginya menemukan kesenangan dalam bekerja. Bagaimana mengatasi hal ini?. Cobalah memandang pekerjaan dari sisi lainnya.

Kedua, pekerjaan sebagai sarana untuk mengekspresikan potensi diri.Seorang pemuda yang sejak kecil hobi bermain komputer pernah ditanya mengapa ia memilih pekerjaan di bidang information technology (IT)? Sambil tersenyum, ia menjawab, ”Saya menyukai pekerjaan ini dan melalui pekerjaan ini saya menemukan siapa diri saja!” Wow, sebuah jawaban yang luar biasa!

Ketiga, pekerjaan sebagai sarana untuk mengembangkan potensi diri. Seorang mahasiswa sejak kuliah sangat aktif menulis untuk media kampus. Suatu ketika, saat musim liburan semester, ia mendapat kesempatan untuk magang di sebuah majalah berita mingguan terkemuka di negeri ini. Kesempatan magang tersebut tidak disia-siakan. Ia memanfaatkannya semaksimal mungkin dengan belajar dari wartawan-wartawan senior di kantornya. Ia juga tidak segan-segan meminta masukan atas tulisan yang dibuatnya. Terkadang memang timbul rasa kecil hati manakala begitu banyak kritikan ia terima. Namun ia bersikap terbuka dan belajar untuk terus memperbaiki diri.

Seusai masa magang ia kemudian memperoleh pekerjaan di majalah yang sama. Tekadnya untuk terus mengembangkan diri membuatnya mengambil kursus jurnalistik tingkat lanjut dengan biaya sendiri. Ia juga membeli puluhan puluh jurnalistik, membacanya dan mendiskusikannya dengan mereka yang dianggap ahli di bidang tersebut. Tahun berganti tahun dan kini kualitas tulisannya telah meningkat jauh. Ia juga telah berhasil menulis sejumlah buku yang masuk kategori best seller.

Keempat, pekerjaan sebagai sarana untuk belajar hal-hal baru. Ada mitos yang mengatakan kalau bagian keuangan di sebuah perusahaan selalu berbenturan dengan bagian pemasaran. Namun hal itu tampaknya tidak berlaku bagi Linda. Meski dikenal sebagai seorang staf keuangan, Linda dikenal juga memiliki pengetahuan yang amat baik dalam bidang pemasaran, penjualan, dan sebagainya. Mengapa? Ia termasuk orang yang gaul. Ia berteman dengan staf dari bagian lain di perusahaannya dan makin menyadari kalau kesuksesan perusahaan ditentukan oleh kontribusi semua bagian.

Kelima, pekerjaan sebagai sarana untuk memperluas jaringan. Linda dalam contoh sebelumnya adalah tipe karyawan yang unggul dalam membina hubungan baik. Ia juga berhubungan dengan staf keuangan dari perusahaan lainnya yang berada di gedung yang sama. Ia juga aktif dalam asosiasi sesuai dengan profesinya dan mengikuti sejumlah mailing list yang berhungan dengan pekerjaannya. Tidak heran jika Linda termasuk orang yang sangat mudah untuk mendapatkan berbagai informasi penting.

Keenam, pekerjaan sebagai sarana untuk melayani orang lain. Alan Loy McGinnis benar ketika mengatakan tidak ada pekerjaan yang lebih mulia di dunia ini ketimbang membantu orang lain –membantu seseorang meraih kesuksesan (there is no more noble occupation in the world than to assist another human being –to help someone succeed). Betapa berartinya hidup ini jika kita menyadari apa yang kita lakukan membawa manfaat bagi sesama, minimal bagi rekan kerja kita, perusahaan kita dan bagi customer yang menggunakan produk atau jasa kita. Betapa bahagianya kita jika kita sungguh mengetahui produk atau jasa kita dapat membantu meningkatkan kualitas hidup orang lain atau membantu mereka memecahkan masalah mereka. Sayangnya, masih banyak orang yang cenderung mengutamakan profit atau upah di atas segalanya. Padahal jika kita mau memberikan yang terbaik, semuanya itu akan datang dengan sendirinya. Apa yang kita tabur akan kita tuai!

Ketujuh, pekerjaan sebagai sarana untuk mempersiapkan diri menjadi wirausaha (entrepreneur). Ketika memberikan pelatihan kepada 110 karyawan terbaik sebuah bank terkemuka di negeri ini, beberapa di antara mereka menyatakan kekecewaannya karena sudah lama bekerja namun tidak juga naik jabatan. ”Saya sudah bekerja lebih dari 15 tahun. Teman-teman seangkatan saya sudah pada jadi kepala cabang, tinggal saya,” begitu kata mereka. Saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan namun saya juga mengingatkan mereka untuk tidak kecil hati. Saya ingat nasihat seorang pengusaha sukses mengenai kapan waktu yang paling tepat bagi seorang karyawan untuk terjun berwirausaha. ”Salah satunya adalah ketika Anda bisa mengurus diri Anda sendiri tanpa disuruh-suruh orang lain. Sebab sebagai pengusaha, Anda harus mampu mengatur diri Anda sendiri dengan baik karena Andalah pemimpinnya,” katanya. Sebuah nasihat yang sangat berharga!

Kedelapan, pekerjaan sebagai sarana ibadah.. Saya ingin agar nama Tuhan dipermuliakan melalui hidup dan karya saya. Hasrat terbesar saya adalah agar pada suatu hari saya bisa mendengar-Nya berkata : ”Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Itulah saat yang sangat saya rindukan, ujar seorang sahabat. Bagaimana menurut Anda?

(nat)

Sumber: Paulus Winarto



Reach Your Dream – Bag.2

JAWABAN.com - Di bagian pertama tulisan ini, Paulus Winarto telah membagikan tentang kuasa yang dimiliki mimpi untuk mengubah masa depan. Bagian kedua tulisan ini akan mengulas tentang perjalanan yang perlu dilakukan untuk perwujudan mimpi.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya agar impian kita dapat menjadi kenyataan? Berdasarkan pengalaman pribadi dan dari apa yang saya pelajari ada sejumlah tahap penting yang diperlukan agar sebuah impian dapat menjadi kenyataan.

Pertama, perjelas impian Anda. Buatlah impian Anda menjadi sebuah target dan tuliskan. Anda harus bisa membayangkan dalam pikiran Anda impian Anda tersebut. Orang sering mengatakan jadikan target Anda itu memiliki unsur S.M.A.R.T.

S = specific (buatlah se-spesifik mungkin),
M = measurable (dapat diukur atau ada angkanya. Misalnya ingin punya uang berapa rupiah atau mobil dengan harga berapa),
A = achievable (dapat diraih, buktinya sudah ada orang yang meraihnya saat ini)
R = realistic (realistis, artinya sesuai dengan sumber daya yang saat ini Anda miliki atau masih dalam kendali Anda, bukan orang lain)
T = time bound (ada batas waktunya, artinya kapan Anda ingin itu terwujud).

Kedua, coba tuliskan manfaat yang bisa didapatkan jika impian itu terwujud. Sebaiknya manfaat itu bukan hanya bagi diri Anda sendiri melainkan juga bagi orang yang paling Anda cintai, orang-orang di sekitar Anda dan sesama umat lainnya. Semakin besar manfaat yang bisa Anda peroleh maka Anda akan semakin bersemangat dalam menggapainya. Apalagi jika kita sadar nama Tuhan akan semakin dimuliakan jika impian itu terwujud.

Ketiga, doakan impian Anda tersebut. Mintalah bantuan Tuhan sebab bagaimana pun kerasnya kita bekerja akan sia-sia jika Sang Sumber Segala Rahmat tidak memberkatinya. Terkadang impian kita tidak kunjung terwujud karena bertentangan dengan kehendak-Nya atau memang belum waktunya. Untuk itu, usahakan Anda meluangkan waktu yang cukup sehingga dapat berkomunikasi dengan-Nya mengenai impian Anda ini.

Keempat, identifikasi semua masalah atau hambatan. Anda harus mengetahui semua hambatan yang kiranya akan Anda hadapi dalam rangka mewujudkan impian tersebut.

Kelima, identifikasi orang, kelompok orang atau organisasi yang kiranya dapat membantu Anda mewujudkan impian tersebut. Barangkali Anda akan mendapatkan ada orang, kelompok atau organisasi yang dapat bersinergi dengan Anda bahkan bisa jadi mereka memiliki impian yang sama sehingga Anda bisa bekerja sama dengan mereka.

Keenam, identifikasi pengetahuan dan ketrampilan apa saja yang sangat Anda perlukan dalam upaya untuk meraih impian tersebut. Barangkali Anda harus membaca buku-buku tertentu, mengikuti kursus, seminar atau training. Jangan ragu untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Les Brown pernah berkata : “To achieve something you have never achieved before, you must become someone you have never been before.” Ya, untuk mencapai sesuatu yang belum pernah Anda capai Anda harus menjadi orang yang berbeda dari sebelumnya.

Ketujuh, buatlah plan of action. Ini adalah langkah-langkah yang akan Anda tempuh.

Kedelapan, lakukan action. Tanpa action, Anda hanya akan menjadi anggota organisasi terlarang bagi orang-orang yang ingin sukses yakni NADO (no action dream only).

Kesembilan, jaga sikap mental Anda. Tetaplah berpikir positif dan beranilah bangkit dari kegagalan. Ingatlah bahwa sikap positif akan menarik sukses semakin dekat kepada diri Anda! Kesepuluh, evaluasi secara kontinyu langkah Anda. Sekiranya diperlukan perubahan, jangan ragu untuk melakukannya. Jangan kaku! Bersikaplah fleksibel dalam soal cara atau metode.

Perkenankanlah saya menutup jumpa kita kali ini dengan sebuah nasihat yang sangat berharga dari Dr. Benjamin Mays : “Perlu sekali menumbuhkan dalam pikiran kita pendapat bahwa berbagai tragedi dalam kehidupan tidak boleh menjadi alasan tidak tercapainya impian kita. Tragedi apapun jangan sampai menjadi alasan impian kita tidak tercapai. Mati dengan impian yang tidak tercapai bukanlah suatu bencana, namun tidak mempunyai impian sama sekali adalah sebuah malapetaka. Tidak bisa menggapai bintang bukanlah sesuatu yang memalukan namun tidak mempunyai keinginan menggapai bintang sangatlah memalukan. Kegagalan itu biasa tapi tidak punya kemauan itu kekeliruan besar!”.

Selamat bermimpi!

Tentang penulis : Paulus Winarto adalah pemegang dua Rekor Indonesia dari MURI (Museum Rekor Indonesia), yakni sebagai pembicara seminar pertama yang berbicara dalam seminar di angkasa dan penulis buku yang pertama kali bukunya diluncurkan di angkasa. Sejumlah bukunya masuk dalam kategori best seller nasional, seperti First Step to be An Entrepreneur, Top Secrets of Success, Reach Your Maximum Potential dan The Leadership Wisdom. Paulus dapat dihubungi melalui e-mail: pwinarto@cbn.net.id.(nat)

Sumber: Paulus Winarto - Maximum Potential

No comments: