Tuesday, August 28, 2007

Cinta Duniawi vs Hukum Cinta Kasih


Cinta Duniawi vs Hukum Cinta Kasih

Cinta Kasih itu Sabar
Manusia yang memiliki cinta kasih adalah manusia yang sabar, baik sabar terhadap kesalahan yang dilakukan orang lain terhadap kita, sabar terhadap kekurangan orang lain, dan sabar pada saat kita menghadapi percobaan yang menimpa kita. Dengan memiliki hati yang sabar kita akan lebih mudah merasakan kebahagiaan dan ketenangan di dalam diri kita.

Cinta Kasih itu Tidak Pemarah & Tidak Menyimpan Dendam
Pernahkah kita marah dengan pacar kita karena ia datang terlambat sehingga kita harus menunggu selama lebih dari satu jam? Pernahkah kita marah terhadap orang tua kita karena mereka terlalu banyak menasihati kita? Pernahkah kita marah terhadap anak-anak kita karena mereka sering membuat kesalahan? Pernahkah kita memarahi staf di bawah kita karena ia melakukan kesalahan yang tidak disengaja? Jika pernah, maka seperti itulah sifat mendasar yang dimiliki oleh kebanyakan manusia pada umumnya. Manusia cenderung untuk mudah tersinggung dan menyimpan emosi dalam hatinya sehingga melupa menjadi amarah dan dendam.
Kita harus belajar untuk mudah memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain serta tidak menyimpan dendam dalam hati kita. Kita harus menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan cenderung untuk berbuat salah dan kita pun juga sering melakukan kesalahan terhadap orang lain dan memerlukan pengampunan.

Cinta Kasih itu Tidak Cemburu
Seseorang yang benar-benar mengasihi dan mencintai orang lain tidak selalu harus bersama dengan orang yang dikasihinya tersebut. Terkadang kita harus merelakan orang yang kita kasihi tersebut dikasihi dan dicintai oleh seseorang yang dapat membahagiakan dirinya. Sebagai contoh adalah orang tua yang suatu saat harus merelakan dan melepaskan anak-anaknya untuk menikah dengan seseorang yang dicintai dan mencintainya. Namun dengan menikahnya sang anak bukan berarti hubungan cinta kasih antara anak dan orang tua menjadi berakhir, hanya saja cinta kasih tidak selalu harus memiliki. Begitu pula halnya apabila kita mencintai dan mengasihi lawan jenis kita, hal ini bukan berarti bahwa kita harus terus-menerus bersama dia dan memilikinya sampai akhir hayat kita, tidak jarang kita harus merelakan seseorang yang kita cintai dan kasihi untuk mencintai dan dicintai oleh orang lain yang dapat membahagiakan dirinya.

Cinta Kasih itu Rendah Hati dan Tidak Sombong
Seseorang yang memiliki cinta dalam dirinya biasanya bersikap rendah hati, mau memandang sesamanya yang hina, mau melayani orang lain, tidak sombong dan mau menang sendiri.
Namun pada kenyataannya sikap rendah hati ini seakan-akan menjauh dari kita seiring dengan meningkatnya jumlah materi yang kita miliki, posisi yang kita duduki, dan sebab-sebab lainnya yang membuat kita merasa bahwa kita lebih unggul dari yang lain. Kita harus mewaspadai diri kita apabila kita sudah memiliki sifat-sifat seperti ini karena akan mulai tidak disukai banyak orang dan kita akan dapat kehilangan sesuatu yang telah kita miliki.

Cinta Kasih itu Rela Berkorban
Seorang ibu yang sangat mengasihi dan mencintai anaknya tentu rela melakukan segala sesuatu demi anaknya tersebut, bahkan walaupun ia sampai harus mengorbankan nyawanya sekalipun. Demikian pula halnya sepasang kekasih yang saling mencintai rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan nyawa kekasihnya.
Apabila kita selalu bertemu dengan orang yang mengasihi dan mencintai kita, kadang kita tidak merasakan kasih yang dicurahkan dan dilimpahkan kepada kita sampai suatu saat kita kehilangan dirinya.

Cinta Kasih itu Tidak Berkesudahan
Pernahkah kita jatuh cinta dengan seorang pria atau wanita yang menarik perhatian kita? Bagaimana perasaan kita saat pertama kali bertemu dengannya? Bagaimana keadaan hati kita pada saat kita mengungkapkan keinginan kita untuk menjadi kekasihnya dan diterima? Apakah kita merasakan dunia ini begitu indah? Apakah kita setiap hari membayangkan si dia di dalam pikiran kita? Namun bagaimana perasaan kita saat kita sudah tidak lagi menjadi kekasihnya karena satu dan lain masalah? Bagaimana perasaan kita jika melihat seseorang yang kita cintai menyakiti hati kita dan mencintai orang lain? Apakah kita memiliki perasaan yang sama ketika kita pertama kali bertemu dengannya? Saya rasa sebagian dari kita akan menjawab tidak, karena memang seperti itulah sifat mendasar yang dimiliki manusia, yaitu mencintai karena dicintai sehingga jika kita sudah tidak dicintai, maka cinta kita pun akan berakhir dan berkesudahan.
Namun di samping cinta kasih yang seperti kisah di atas, kita juga masih dapat menemukan cinta yang tulus dan tidak mengharapkan balasan, seperti cinta seorang ibu terhadap anaknya. Ia akan mencintai anaknya bagaimanapun juga kondisi si anak tersebut bahkan ketika sang anak sudah tidak mengasihi ibunya, sang ibu tetap mengasihi dan mencintai anaknya sampai akhir hayatnya.
Di samping itu juga cinta sepasang kekasih yang tulus biasanya saling mencintai walaupun keadaan pasangannya sudah tidak secantik dan sebaik seperti waktu pertama kali bertemu. Atau sepasang kekasih yang tidak berjodoh masih bisa memiliki cinta kasih walaupun mereka tidak saling memiliki. Namun tentu saja cinta kasih yang tulus seperti ini sudah agak sukar untuk ditemukan pada masa-masa sekarang ini, namun bukan hal yang mustahil suatu saat Anda yang membaca tulisan ini akan dapat memiliki cinta yang tulus dan tidak berkesudahan setelah beberapa waktu yang akan datang.
Tentu hukum cinta kasih yang telah kami jelaskan di atas bukan hal yang mudah untuk dilakukan hanya dengan sekadar membaca saja. Kita harus mencoba menerapkan secara perlahan-lahan dalam kehidupan kita sehari-hari dan merasakan perbedaanya.n





Rahasia si Untung

Kita semua pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan
dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada
saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika
bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak
pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan Donal
berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah
itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung, dont
worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya.

Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba
meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang sial. Wiseman
merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok
lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesan nya seperti main-main,
bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang
yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.

Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman
memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang
dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan
waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari
kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa?

Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan
yang tidak kecil berbunyi "berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di
koran ini". Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung
gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2 koran, Wiseman menaruh pesan
lain yang bunyinya: "berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti
Anda menemukan ini, dan menangkan $250!" Lagi-lagi kelompok sial melewatkan
pesan tadi! Memang benar2 sial.

Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya "scientific" ini, Wiseman
menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:

1. Sikap terhadap peluang.

Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih
peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak
ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan?

Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan
terbuka terhadap pengalaman-pengalam an baru. Mereka lebih terbuka terhadap
interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan
jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga
tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru.

Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New
York hendak menjual toko permata nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di
depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di
sebelahnya: "Mr. Buffet!" Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan
dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir
lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet,
salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan
jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya,
dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet.
Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak
mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada
Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko
permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.

2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.

Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika.
Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata
sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan "hati nurani" (intuisi) daripada
hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi
final decision umumnya dari "gut feeling".

Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi
akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak
berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk
mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada
kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih
mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin
tajam.

Banyak teman saya yang bertanya, "mendengarkan intuisi" itu bagaimana?

Apakah tiba2 ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu?

Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar
suara yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan.

Karena ini subyektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara.

Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam
berbagai bentuk, misalnya:

- Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. "Gue kok tiba2 deg-deg an
ya, mau dapet rejeki kali", semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering
memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2
meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang
lagi.

- Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain
ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami.
Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited
setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian
saya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih terjadi untuk beberapa
hal lain.

3. Selalu berharap kebaikan akan datang.

Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu
berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental
yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan
akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda
lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal,
bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme
dan harapan.

4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.

Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya
menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam
salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang
pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok
bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang
dari kelompok sial umunya adalah: "wah sial bener ada di tengah2 perampokan
begitu". Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: "untung saya ada
disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit".
Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus.

Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya
menjadi keberuntungan.

Sekolah Keberuntungan.

Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School.

Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang2 semacam itu adalah dengan
membuat "Luck Diary", buku harian keberuntungan. Setiap hari, peserta harus
mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi.

Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit,
tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan
semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan.

Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka,
mereka semakin sadar betapa beruntungnya mereka. Dan sesuai prinsip "law of
attraction", semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin
banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.

Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa
beruntung. Termasuk teman semua.

Siap mulai menjadi si Untung?

Semoga berguna untuk kita semua
Good Luck !

Indonesia = Atlantis, benarkah???

MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh, lumpur panas di Jawa Timur
hingga yang mutakhir gempa Indramayu. Hal itu
mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua
Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?

Plato (427 - 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis

Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan
bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah
melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis,
The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato's
Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti
luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani,
yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem
terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang
diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di
Meksiko.

Konteks Indonesia

Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof.
Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960,
mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua
yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa,
Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai
pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan
dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari
Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang
akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era
Pleistocene) . Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara
bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu,
maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang
mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung
Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di
Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau
menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol).
Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat
dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh.

Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi
secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di
kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen
Hawking.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil
itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung
berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera
sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai
bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, "Amicus Plato, sed magis amica veritas." Artinya,"Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran."

Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos
sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah
Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia.
Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia.
Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung,
Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya
tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian
meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan
gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan
remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim
kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas
penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.

Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris
Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah
pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana,
sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari
sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya. ***

Penulis, Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris-Prancis

*** Kawan-kawan boleh lihat websitenya Prof. Aryso Santos berikut:

http://www.atlan. org/articles/ checklist/


No comments: