
Mengapa Kita Selalu Lupa..?
Terlihat seorang bapak-bapak dengan sabar dan tekun memilah barang-
barang yang kira-kira masih berharga dan dapat digunakan kembali,
diantara puing-puing reruntuhan rumahnya yang sudah hampir rata
dengan tanah. Sulit diceritakan kira-kira apa yang menjadi
perasaannya saat itu. Dari mimik mukanya yang terlihat sangat serius,
mungkin bercampur rasa gundah sambil berupaya untuk tabah dan
tawakal.
Cukup lama saya berdiam berdiri di depan pintu pagar-rumahnya yang
sebagian masih utuh, sementara sebagian lagi sudah condong ke depan
hampir ambruk. Sampai kemudian si bapak tersebut sadar akan kehadiran
saya di situ, kemudian berusaha untuk tersenyum, dan bergegas turun
dari reruntuhan berusaha menyambut kedatangan saya.
Kami bersalaman. Saya pun tidak kuasa lagi untuk berkata-kata. Mau
mengungkapkan rasa ikut prihatin? Sepertinya kok sudah sering bapak
ini mendengarnya. Berusaha untuk berbagi agar si bapak bisa bersabar?
Kurang sabar bagaimana bapak ini, dalam kondisi rumah yang
dibangunnya sedikit demi sedikit sejak beliau masih muda, saat itu
telah hancur tinggal puing, tapi masih menyempatkan untuk berusaha
tersenyum menyambut kedatangan saya. Tidak ada kata yang mampu saya
ucapkan saat itu.
Bapak ini adalah salah seorang teman saya sesekali mengobrol bila
saya berkunjung ke Yogya.
"Hancur lebur sudah,..", katanya singkat kemudian.
Saya pun menanyakan kesehatan seluruh keluarganya. Alhamdulillah,
semua selamat dan sehat. Saat itu seluruh keluarganya untuk sementara
ngungsi di rumah salah seorang keluarga menantunya di daerah
Kaliurang, daerah Yogya sebelah utara. Hanya dia seorang ditemani
beberapa tetangga, yang sudah tiga hari itu hidup bertenda di depan
rumahnya.
Biasanya bila kami bertemu, tak henti-hentinya kami ngobrol ngalor-
ngidul tentang banyak hal. Tapi siang itu, cukup lama kami hanya
berdiri terpaku berdiam diri memandangi puing-puing rumahnya dengan
pikiran dan perasaan masing-masing.
Siang itu adalah hari Senin. Tepat hari ketiga sejak gempa bumi
menggetarkan wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, pada tanggal 27 Mei
2006 lalu. Sebuah pemandangan luar biasa terjadi di kompleks
perumahan itu, di pinggiran kota Yogya bagian selatan. Kompleks
perumahan yang semula begitu asri, telah berganti rupa dengan puing-
puing reruntuhan. Suasana duka masih menyelimuti atas kepergian
beberapa warga disitu yang saat gempa terjadi menjadi korban.
Saya kebetulan hidup dan dibesarkan dilingkungan yang
sepertinya `serba baik-baik saja'. Melihat pemandangan duka tentang
bencana alam, kelaparan, atau bermacam kesedihan lainnya seakan hanya
berupa pemandangan `di luar sana', dan terlihat hanya ada di
televisi. Tapi siang itu saya melihat sesuatu yang lain. Saya melihat
dengan mata sendiri, bahwa sesuatu yang tidak `serba baik-baik saja'
juga terjadi terhadap orang-orang di sekitar saya, orang-orang yang
saya kenal secara dekat, orang-orang yang cintai.
Apakah Tuhan sedang murka? Saya berusaha untuk tidak berprasangka
buruk demikian terhadap Sang Pencipta. Karena bagaimana pun juga, apa
pun yang terjadi pada kita manusia, adalah sesuatu yang pasti terbaik
bagi kita. Kita diberi kesempatan menjalani kehidupan di dunia ini
oleh-Nya saja, saya pikir sudah merupakan sesuatu ke-Maha Baik-an
Tuhan terhadap kita manusia.
Apakah alam sedang marah kepada manusia? Saya pun tidak berpendapat
demikian. Saya termasuk orang yang percaya bahwa bagaimana pun juga
alam akan berlaku sesuai kodratnya dari Sang Kuasa, untuk `berjalan'
sesuai hukum alam-Nya. Kewajiban kita manusia yang diberi akal dan
pikiran oleh Tuhan untuk berusaha selalu `membaca' hukum
alam. `Membaca' gerak-geriknya, `membaca' kecenderungannya. Wajar,
kalau kita sebagai manusia yang selalu belajar, kalau suatu ketika
kita `salah baca' atau `terlewat dalam membaca' berlakunya hukum
alam.
Anyway, terlepas dari masalah kenapa, ada hal yang kita sebaiknya
belajar dari itu semua. Belajar dari pengetahuan yang menurut saya
paling mendasar bagi kita dalam kita menjalani hidup di dunia ini.
Sebuah pelajaran yang berawal dari pertanyaan besar `Untuk apa kita
hidup di dunia ini ?'.
Dan atas kejadian gempa itu, seakan pelajaran tadi begitu intensif
merasuki pikiran, pengetahuan dan hati kita. Betapa tidak, dalam
waktu yang sangat singkat, banyak orang bisa belajar, mendalami
sekaligus memaknai hal-hal seperti : `Menumbuhkan simpati dan empati
dari dalam diri' untuk ikut merasakan bagaimana sih rasanya orang
yang sedang ditimpa musibah, belajar untuk merelakan sebagian rejeki
jerih payah kita untuk diberikan kepada orang yang ditimpa musibah,
belajar untuk mengerti bahwa kita manusia adalah saling membutuhkan
dan haruslah saling mencintai satu sama lain, belajar bahwa kita
manusia `tidak ada apa-apanya' dihadapan Tuhan.
Sebuah pelajaran-pelajaran yang kita lupa ketika kita dihinggapi rasa
kesal ketika kita sedang buru-buru ke kantor mengejar dead-line, tiba-
tiba jalan kita terhalang oleh seorang pengemudi becak tua di depan
yang sudah tidak mampu lagi mengendarai becaknya secara cepat. Sebuah
pembelajaran yang mungkin tidak kita ambil pusing ketika suatu saat
kita mendapat rejeki yang berlimpah sementara sebelah rumah kita
sendiri sedang mengalami kesulitan ekonomi. Pengetahuan yang seakan
terlupakan, tenggelam oleh sombongnya perasaan kita ketika kita
berada di puncak karir kita, dan selalu menganggap lebih rendah orang-
orang para office-boy, penyapu jalan, para pemulung, pedagang kaki-
lima.
Namun herannya memang, pelajaran itu kembali dilupakan ketika kita
tenggelam kembali dalam hiruk-pikuk keseharian kita. Ketika kejadian
seperti di Yogya itu seakan kembali `jauh' dari kita. Kita hanya akan
belajar lagi mengenai pentingnya kebersamaan, saling berbagi,
munculnya sikap rasa interdependency, hanya ketika kejadian seperti
di Yogya itu menimpa, itu pun atas peran media yang menginformasikan
secara terus menerus dan begitu close-up-nya.
Sebuah contoh misalnya akan arti sebuah `think win/win'. Dalam
kondisi biasa kebanyakan orang bisa dipastikan akan selalu
berpendapat bahwa arti win/win bagi dirinya adalah bilasaja mereka
mendapatkan hal-hal yang mereka inginkan. Sulit sekali untuk berpikir
tentang kita memberikan sesuatu kepada orang lain sambil saat itu
kita merasa bahwa itu adalah kondisi win/win buat kita juga.
Tapi lihatlah pada situasi bencana seperti ini. Banyak kemudian orang-
orang secara rela memberikan apa yang dimilikinya, memberikan
waktunya, memberikan tenaganya, memberikan pemikirannya dengan
sukarela, dan bernafas begitu leganya ketika orang yang menerima
bantuan sekedar memberikan senyuman. Inilah juga menurut saya
merupakan esensi pembelajaran akan kondisi win/win.
Hanya saja, haruskah `think win/win' yang seperti ini hanya akan
terjadi ketika musibah melanda? Kenapa tidak setiap hari terjadi pada
kita? Kita berinisiatif memberikan tumpangan mobil kepada orang yang
kita kenal yang kebetulan sejalan dengan kita, menurut saya adalah
juga think win/win. Kita berhenti sejenak untuk sekedar membantu,
ketika melihat seorang petugas angkat barang yang sedang kepayahan
mengangkat barangnya ke atas mobil angkutan, itu juga think win/win.
Tuhan memang Maha Bijaksana, tak henti-hentinya kita diberi bahan
untuk selalu belajar dan belajar. Pertanyaan besarnya sebenarnya
adalah: mengapa kita selalu lupa�?
No comments:
Post a Comment