Tuesday, August 28, 2007

Allarme Rosso!


Allarme Rosso!

Serie A berputar lagi pada Sabtu (25/8). Selain berbahagia karena calcio telah kembali, publik Italia juga cemas. Pasalnya kompetisi belum lagi dimulai, allarme rosso atau sinyal merah sudah menyala untuk sepakbola Negeri Spageti.

Alarm berbunyi setelah kejadian di laga kualifikasi III Liga Champion di Stadio Olimpico antara Lazio melawan Dinamo Bucuresti (14/8). Pendukung Dinamo ditusuk tifosi Biancocelesti di luar stadion. Di dalam, tifosi bersikap rasis.

Dua hal tersebut bertentangan dengan apa yang diharapkan Komite Olahraga Italia (CONI), federasi sepakbola (FIGC), dan Lega Calcio. Mereka bertekad mengembalikan tifosi dan anggota keluarga ke stadion. Bagaimana mereka mau datang kalau wilayah stadion tidak aman dan nyaman?

Ini pukulan untuk Italia. Hukum Pisanu diterapkan dengan tegas pascatragedi Catania, Februari lalu. Namun, peristiwa berdarah tetap muncul, bahkan di salah satu stadion terbaik di Italia.

“Kami mengontrol situasi di dalam stadion. Itu terjadi di luar stadion. Kami akan meningkatkan kontrol, tapi mudah untuk pergi berkeliling kota membawa pisau di saku Anda,” kata Menteri Dalam Negeri Giuliano Amato seperti dikutip Ansa.

Artinya tidak ada jaminan 100% aman! Lagi pula, kata Amato, tindakan brutal tifosi sulit diberantas. Ah, jangan-jangan di tengah jalan nanti Serie A dihentikan lagi seperti setelah inspektur polisi Filippo Raciti tewas Februari lalu.

Kerusuhan dapat meletus di giornata pertama. Tifosi Genoa dan Milan sudah saling mengancam. Suporter Genoa belum dapat melupakan peristiwa Vincenzo Spagnolo tewas ditusuk tifosi Milan di luar Stadion Luigi Ferraris pada 1995.

Mercato Memprihatinkan

Kejadian di Roma menambah daftar memprihatinkan dari calcio pada musim panas ini. Hal lain adalah calciomercato yang kurang menggigit.

Musim panas ini, tidak ada pemain berkategori kelas wahid di dunia yang datang. Pada 2005 ada Patrick Vieira dan Luis Figo. Pada pertengahan musim lalu Ronaldo kembali hadir.

Hal yang tambah memprihatinkan buat Italia adalah beberapa bintang malah hijrah ke liga lain. Mesin gol Luca Toni ke Bundesliga (Bayern Muenchen), Fabio Grosso ke Ligue 1 (Lyon), Cristiano Lucarelli ke Ukraina (Shakhtar Donetsk).

Serie A masih terkena dampak krisis finansial yang melanda klub-klub pada beberapa tahun lalu. Dengan dana terbatas, mana mungkin mendatangkan pemain kelas dunia macam Thierry Henry, Ronaldinho, atau Frank Lampard?

Musim panas ini, Cristian Chivu menjadi yang termahal. Ia dibeli Inter dari Roma seharga 16 juta euro (203 miliar rupiah). Akan tetapi, nilai itu masih kalah 8 juta dari transfer termahal musim lalu saat Zlatan Ibrahimovic pindah dari Juventus ke Inter.

Meski dalam beberapa hal memprihatinkan, Serie A 2007/08 menjanjikan sesuatu yang sangat menarik. Apa lagi kalau bukan kembalinya persaingan ketat antara Inter, Milan, Juventus, dan Roma?

Jangan lupa juga ada pesona bintang-bintang seperti Kaka (Milan), Ibrahimovic (Inter), Alessandro Del Piero (Juventus), dan Francesco Totti (Roma).

Benvenuto, Serie A! (Riemantono)

Enam Besar Transfer Termahal Mercato I
Cristian Chivu (Roma-->Inter) 16
David Suazo (Cagliari-->Inter)14
Tiago Mendes (Lyon-->Juventus) 13
Vincenzo Iaquinta (Udinese-->Juventus) 11,3
Jorge Andrade (Dep. La Coruna-->Juventus) 10
Sergio Almiron (Empoli-->Juventus) 9
Ket.: Nilai dalam juta euro. Daftar ini tidak termasuk transfer Alexandre Pato dari Internacional Porto Alegre ke Milan sebesar 22 juta.


Hidup dengan Utang

Ini fakta mengejutkan sekaligus menakutkan. Semua klub Serie A beroperasi membawa utang. Menurut data per 30 Juni 2006, total utang klub Serie A mencapai lebih dari 1,4 miliar euro (18 triliun rupiah)!

Ada empat klub yang jumlah utangnya mencapai ratusan juta euro. Inter menjadi klub dengan debiti terbesar, yaitu sebesar 385 juta euro. Milan menyusul di bawahnya (289,7) kemudian diikuti Lazio (158,85), serta Juventus (141,82).

Total utang I Nerazzurri bisa begitu besar karena mereka tidak mengikuti tren penghematan yang dilakukan mayoritas klub-klub Serie A pascahantaman krisis finansial pada akhir 1990-an. Inter terus mendatangkan pemain-pemain mahal.

Antara 2005-2006 saja, Inter menghabiskan uang 62 juta euro untuk dana mercato. Pada musim panas ini angka tersebut bertambah 44 juta euro untuk menggaet Cristian Chivu, David Suazo, serta Luis Jimenez. Ini berbeda dengan yang dilakukan tim-tim lain di Serie A.

Sadar kondisi keuangannya tidak sehat, mereka menggelar beraneka aksi penghematan. Kalau biasanya hampir setiap musim merugi, klub-klub mulai mencari untung.

Hasilnya lumayan. Pada musim 2005/06 tercatat delapan klub mampu mendapatkan untung, walaupun angkanya terbilang minim. Keuntungan terbesar didapatkan Udinese (6,5 juta euro). Dua klub besar, Milan serta Lazio, masing-masing baru mampu memperoleh 2,48 dan 2,08 juta euro.

Ala Mafia

Bisa ditebak, Inter muncul sebagai klub yang paling merugi pada musim tersebut. Sepanjang musim 2005/06, buku kas La Beneamata defisit sebesar 181,5 juta euro. Asal tahu saja, angka minus ini bahkan lebih besar dari kerugian Parma yang membuat mereka bangkrut (167,3 juta euro).

Lantas bagaimana klub-klub Serie A bisa terus berkompetisi walaupun mereka hidup di tengah utang? Bukankah ada pemeriksaan kondisi finansial klub sebelum mereka resmi menjadi partisipan Serie A pada setiap musim?

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Dari menaikkan dana kapital, mencari jaminan dari bank bahwa keuangan mereka tidak berisiko kolaps, sampai membuat kalkulasi bahwa klub bisa untung dalam perjalanan musim yang bersangkutan sehingga mereka akan dapat membayar utang.

Apa pun solusinya, itu adalah cara “ala mafia”, akal-akalan klub agar memperoleh lisensi bermain. Itu sebabnya sempat ada tuduhan Inter telah memalsukan kondisi keuangannya agar mereka bisa tampil pada musim 2005/06. (Dwi Widijatmiko)

UTANG KLUB SERIE A
----------------------------
Inter 385,20
Milan 289,70
Lazio 158,85
Juventus 141,82
Udinese 70,93
Roma 65,35
Fiorentina 55,63
Palermo 50,09
Napoli 39,80
Cagliari 36,32
Atalanta 35,01
Parma 30,10
Genoa 25,56
Siena 22,58
Reggina 17,50
Empoli 13,81
Catania 12,73
Livorno 7,44
Ket.: Angka dalam juta euro, data valid per 30 Juni 2006, Sampdoria dan Torino tidak memberikan data.

>> Kembali ke Atas



Solusi untuk Survive

Dengan kondisi keuangan yang tidak sehat, klub-klub Italia jadi harus memikirkan cara agar mereka bisa survive. Berbagai tren belakangan ini bermunculan di Serie A.

Ada klub yang memberlakukan salary cap alias pembatasan gaji pemain. Lazio merupakan salah satu contohnya. Saat ini tidak ada pemain Gli Aquilotti yang memiliki pendapatan di atas 750 ribu euro (sekitar 9,5 miliar rupiah) semusim.

“Ketika saya memperkenalkan salary cap tiga tahun lalu, semua menertawakan saya. Sekarang ide kami menjadi model,” ujar bos Lazio, Claudio Lotito, di Messaggero.

Bagi klub yang tidak memberlakukan salary cap, tetap ada cara lain untuk mengurangi pengeluaran gaji. Sebut saja Juventus, yang tega memangkas 20% gaji maskot Alex Del Piero dalam proposal perpanjangan kontrak yang baru.

Ada pula tren untuk tidak menjual hak siar ke televisi secara kolektif, yang dilakukan sejak 1999. Klub menjual hak siar mereka secara individual. Efeknya, ada perbedaan signifikan antara harga hak siar klub besar dengan klub kecil.

Tren lain adalah belanja pemain yang tidak lagi menghabiskan dana gila-gilaan. Peminjaman, status kepemilikan bersama (comproprietai), atau merekrut pemain yang sudah berstatus free transfer sehingga gratis merupakan pilihan ideal.

Masalah gaji dan pengetatan anggaran belanja pemain ini yang membuat klub-klub Italia belakangan kalah bersaing dengan aksi klub Inggris atau Spanyol di bursa transfer.

“Klub Italia tidak bisa menyamai klub Spanyol atau Inggris untuk urusan transfer pemain. Jika klub Spanyol hanya membayar 10 juta euro untuk seorang pemain, di Italia bisa 15 juta euro,” ujar Wakil Presiden Milan, Adriano Galliani.

Yang menjadi hal vital adalah signing bonus, yaitu satu elemen dari harga transfer yang akan menjadi jatah pemain serta agennya. Signing bonus paling tinggi yang diberlakukan di Negeri Piza adalah 6,5 juta euro (sekitar 80 miliar rupiah).

Angka ini sudah lama dilewati liga-liga di negara top lain, terutama Spanyol dan Inggris. Wajar klub Italia jadi kepayahan merekrut bintang top dunia berharga mahal. (wid)





Tergantung Televisi

Secara standar, pemasukan klub bisa berasal dari penjualan tiket (termasuk tiket terusan), kontrak televisi, merchandising, penjualan pemain, uang hadiah, investasi, sponsorship, serta bunga bank. Porsi pemasukan ini semestinya berimbang.

Di Italia kasusnya tidak demikian. Pemasukan uang klub-klub Serie A sangat bergantung pada kontrak dengan televisi. Angkanya sampai lebih dari 50% total pendapatan klub.

Lima klub terdepan Italia bisa dianggap mewakili. Pemasukan uang Milan dari kontrak televisi mencapai 59%, Juventus 54%, Inter 58%, Roma 58%, sedangkan Lazio sebesar 53%.

Klub Italia tidak mampu memaksimalkan pemasukan dari tiket serta sektor komersial, tidak seperti klub-klub kaya negara lain. Ambil contoh klub paling kaya di dunia tahun 2006 versi Deloitte Football Money League, Real Madrid.

Pemasukan Madrid dari kontrak televisi hanya 32% dan tiket 23%. Namun, El Real mampu mendatangkan uang dari bintang mereka lewat sponsorship, lisensi, dan merchandising. Pemasukan dari sektor komersial ini bisa mencapai 45%. (wid)





Sponsor pun Megap-megap

Sponsor merupakan salah satu sumber pemasukan uang yang seharusnya banyak membantu proses operasional klub. Sayangnya di Italia, atmosfer sponsorship tidak terlalu sehat.

Tidak mudah bagi klub Serie A untuk mendapatkan sponsor. Roma misalnya baru mengikat kerja sama dengan perusahaan operator telepon selular Wind pada awal Agustus lalu.

Hingga dua pekan sebelum kick-off Serie A 2007/08 dimulai, ada empat klub yang belum memiliki sponsor ufficiale alias sponsor utama untuk dipasang di dada kostum mereka.

Bagi mereka yang sudah memiliki sponsor, nilai kontrak pun tidak terlalu luar biasa. Kalau dirata-rata, klub Serie A hanya mendapatkan 3,2 juta euro per musim dari sponsor ufficiale. Nilai kontrak yang besar hanya dimiliki klub-klub top.

Namun, pantas dicatat bahwa Inter dan Juventus mendapatkan sponsor mereka melalui praktik “kolusi”. Presiden Inter, Massimo Moratti, adalah salah satu pemegang saham utama Pirelli, sedangkan FIAT memang perusahaan penyokong Juventus.

Praktek “kolusi” ini cukup berisiko apabila sang sponsor sampai bangkrut. Masih ingat kasus Lazio dengan Cirio dan Parma dengan Parmalat? Jika sponsor sampai bangkrut, keuangan klub akan terpengaruh secara menyeluruh. (wid)

SPONSOR SERIE A
----------------------------
ATALANTA (Sit-in Sport) 1
CAGLIARI (Tiscali, Sky) 1,2
CATANIA (Energia Siciliana) 1,5
EMPOLI (-) -
FIORENTINA (Toyota 4
GENOA (-) -
INTER (Pirelli) 7,7
JUVENTUS (Fiat) 11
LAZIO (Ina Assitalia) 3,1
LIVORNO (Banca Carige) 0,7
MILAN (Bwin) 10
NAPOLI (Lete) 5
PALERMO (-) -
PARMA (-) -
ROMA (Wind) 6
REGGINA (Gicos) 1,5
SAMPDORIA (Erg) 2,5
SIENA (Monte dei Paschi) 6,5
TORINO (Reale Mutua) 2,6
UDINESE (Gaudi) 0,4
Ket.: * = per musim, angka dalam juta euro.


Trio Superiore

Serie A 2007/08 mempunyai sesuatu yang berbeda dengan musim-musim sebelumnya. Sekarang, kompetisi terbaik di sepakbola Italia itu kembali menghadirkan trio superiore.

Trio tersebut adalah Juventus, Milan, dan Inter. Mereka berada di daftar teratas untuk kategori klub paling sering meraih scudetto. Juve 27 kali, Milan 17, dan Inter 15.

Musim lalu, Juve berada di Serie B setelah dinyatakan bersalah dalam skandal pengaturan skor dan penunjukan wasit (calciopoli). Itulah kali pertama buat klub berjulukan La Vecchia Signora itu bermain di Serie B.

Kehadiran Juve membuat peta persaingan di papan atas jadi lebih merata, tak cuma di Milano (Inter dan Milan) dan Roma (Roma dan Lazio). Torino juga ikut lewat Bianconeri.

Otomatis jumlah grande partita lebih banyak dari musim lalu. Duel paling ditunggu tentu saja Inter kontra Juve. Mereka saling serang setelah Lega Calcio mencopot gelar juara Juve pada musim 2004/05 dan 2006/07 karena calciopoli.

Gelar 2005/06 yang diperoleh melalui keputusan pengadilan diklaim Inter sebagai scudetto yang jujur. Juve tentu saja marah. Mereka menyebut I Nerazzurri kotor dan ada di balik pengungkapan skandal calciopoli.

Gairah Napoli

Hal lain yang membuat Serie A 2007/08 berbeda dengan musim sebelumnya adalah kehadiran Napoli dan Genoa. Klub yang disebut terakhir ada di bawah Juve, Milan, dan Inter. I Rossoblu sembilan kali juara.

Napoli, yang bermarkas di Stadio San Paolo, disebut sebagai klub dengan tifosi paling bergairah di Italia. Bayangkan, saat berada di Serie C1 (2004-2006), San Paolo tetap dipenuhi sekitar 50.000 tifosi pada setiap laga.

Napoli disebut sebagai salah satu klub tersukses di Italia Selatan. Bersama Roma, juara Serie A 1987 dan 1990 ini menjadi andalan pihak selatan, yang disebut sebagai kaum pekerja, untuk mendobrak kekuatan dan keangkuhan utara (Milano dan Torino), pusat berputarnya uang di Italia. (Riemantono)





Derby Lebih Panas

Serie A boleh kalah dari Premier League soal finansial. Tapi, mengenai atmosfer persaingan dalam pertandingan derby, kompetisi di Negeri Spageti tidak berada di bawah negeri Pangeran Charles.

Simak pengakuan penyerang masa depan Italia yang baru hijrah ke Manchester City, Rolando Bianchi. Menurut pemain berusia 24 tahun itu, suasana di Italia lebih panas. Ahad lalu, ia menjalani derby Manchester.

“Ini derby, tapi atmosfernya berbeda jika dibandingkan dengan di Italia. Orang-orang tidak menyetop Anda di jalanan. Jadi, gairah dan rivalitas hanya terasa di dalam stadion,” kata Bianchi, seperti dilansir Tuttosport.

Jumlah Bertambah

Kehadiran Juventus dan Genoa membuat Serie A 2007/08 memiliki lebih banyak derby daripada musim lalu. Pada stagione lalu, duel sekota paling ditunggu adalah derby della Madonnina (Inter vs Milan) dan derby della capitale (Roma vs Lazio).

Sekarang, selain derby tersebut, perang di antara satu klub sekota yang tak kalah seru dan panas juga ada di Torino dan Genoa. Torino kontra Juventus disebut derby della Mole. Duel Genoa melawan Sampdoria disebut derby della Lanterna.

Pertemuan Inter dengan Juventus disebut derby d’Italia. Jurnalis Gianni Brera yang pertama kali menulis itu pada tahun 1967. Saat itu, kedua klub paling sering juara.

Ada juga yang menyatakan penyebutan derby d’Italia karena Inter dan Juventus tak pernah terpental dari Serie A. Tapi, musim lalu I Bianconeri ada di Serie B.

Derby lain yang seru di Serie A musim ini adalah pertemuan antara klub dari wilayah Toscana. Region itu punya empat wakil, yakni Fiorentina, Livorno, Siena, dan Empoli. (man)

DERBY DI SERIE A 2007/08
----------------------------
Derby della Capitale - Roma vs Lazio
Derby della Lanterna - Genoa vs Sampdoria
Derby della Madonnina - Milan vs Inter
Derby della Mole - Juventus vs Torino
Derby d’Italia - Inter vs Juventus
Derby del Sole (del Sud) - Napoli vs Roma
Derby di Sicilia - Palermo vs Catania
Derby delle Isole - Cagliari vs Palermo
Derby Toscani - Fiorentina, Siena, Empoli, Livorno
Derby Lombardi - Milan, Inter, Atalanta



Internazionale FC
Misi Juara Sejati

Sebagai peraih scudetto 2005/06 dan 2006/07, Inter kini mempunyai misi moral untuk mengulangi prestasinya itu. Musim ini, mereka mengejar status sebagai juara sejati.

Dengan segala hormat, Inter bukan juara sejati dalam dua musim terakhir. Gelar 2005/06 hanya pemberian menyusul skandal calciopoli, sedangkan musim lalu Inter memperoleh banyak kemudahan karena Juventus didegradasi ke Serie B, sedangkan Milan mengawali musim dengan pengurangan poin.

Sekarang setelah tidak ada lagi pihak yang diuntungkan atau dirugikan, La Beneamata tentu tidak mau malu. Persiapan menghebohkan dilakukan Inter di calciomercato musim panas.

Tiga pemain papan atas Serie A direkrut. Cristian Chivu, Luis Jimenez, dan David Suazo membuat komposisi I Nerazzurri komplet. Kelemahan mereka musim lalu pun dieliminasi.

Chivu bakal menghadirkan kestabilan di sektor pertahanan, Jimenez mungkin akan menjawab pencarian Tim Biru-Hitam akan seorang trequartista, dan Suazo menambah elemen kecepatan di lini depan, yang gagal dilakukan Adriano.

Tim asuhan Roberto Mancini melengkapi persiapan musim panasnya dengan menjalani rentetan uji coba mentereng. Memang tidak semua berhasil dimenangi, tapi Inter tetap mengambil manfaat dari setiap kekalahan yang dialaminya.

Kekalahan didapatkan I Nerazzurri ketika menghadapi Valencia (0-2, 28/7) dan Arsenal (1-2, 29/7) di ajang Emirates Cup, Aston Villa (0-3, 4/8), serta AZ Alkmaar (2-4, 11/8).

Sementara itu, kemenangan diraih Inter atas tim Olimpiade Cina (3-0, 17/7), Sud Tirol (2-0, 21/7), Partizan Belgrade (1-0, 24/7), Manchester United (3-2, 1/8), serta dua kesuksesan menjuarai Trofeo Birra Moretti (8/8) dan Trofeo TIM (14/8).

“Saya sangat puas dengan beberapa uji coba berat yang kami jalani di pramusim. Kami mengalami beberapa kekalahan, tapi jauh lebih berguna memainkan pertandingan berat seperti itu ketimbang memilih lawan mudah,” sergah Mancio. (Dwi Widijatmiko)





Lini Per Lini

Belakang
Walaupun statusnya pemain baru, Chivu akan menjadi bek terpenting Inter. Dia bisa bermain di kiri maupun tengah. Jantung pertahanan amat kuat karena di situ berkumpul Cordoba, Materazzi, Burdisso, dan Samuel. Kalau Maicon serta Maxwell sebagus musim lalu, Inter benar-benar top.
Poin: 9

Tengah
Inter sekarang bisa bermain dengan pola 4-3-1-2 tanpa perlu memaksakan Figo atau Stankovic sebagai trequartista. Sudah ada Jimenez dalam skuadnya. Komposisi Vieira, Cambiasso, Zanetti, dan Dacourt merupakan kombinasi antara tenaga, visi, sekaligus kemampuan mempertahankan bola.
Poin: 8

Depan
Tandem Ibrahimovic-Suazo akan membuat pening semua lini pertahanan Serie A. Yang satu jago melepas umpan-umpan tak masuk akal, yang lainnya sangat cepat. Inter juga masih punya Crespo, Adriano, Recoba, dan Cruz, yang di klub lain dengan mudah akan masuk ke dalam daftar starting XI.
Poin: 9

No comments: