Tuesday, August 28, 2007

Sudah Sampai Belum?


Sudah Sampai Belum?

JAWABAN.com - Musim liburan telah tiba. Tidak lama lagi, kita sudah bisa menikmati rekreasi, pergi ke villa, mengunjungi rumah kerabat, taman hiburan, atau ke berbagai daerah wisata. Saat liburan ini saya kembali mengingat pengalaman liburan saya bertahun-tahun lalu, tapi kali ini saya mengajak anda melihat sisi yang berbeda, yang mungkin tidak asing lagi bagi anda.

Pertengahan Agustus, saat itu sedang liburan musim panas, kami sedang dalam perjalanan. Kami sekeluarga terjebak di dalam mobil seperti ikan sarden, udara sangat panas, ayah tampak tidak sabar dan kami sedang kekurangan bahan bakar mobil. Ibu saya menoleh ke belakang dan mencoba menenangkan kami. Lalu, tiba-tiba adik bungsu saya, untuk yang ke 24 kalinya, dengan tidak sabar berteriak, “Sudah sampai belum?!” Spontan saya melihat reaksi ayah lewat kaca spion depan, menunggu hukuman seberat apa yang menunggu kami. Mengejutkan, saya melihat bibirnya merapat dan wajahnya menegang, ayah berbisik menahan kesal pada ibu tentang “Tidak bisakah dia melakukan sesuatu dengan anak-anak!”

Sebagai orang dewasa, kadang kita berusaha untuk bisa bertahan di masa kecil kita, dan berharap kita bisa mempelajari satu atau dua hal di sepanjang pertumbuhan kita menjadi dewasa. Dalam perjalanan kita bersama Tuhan, seperti orang tua yang baik, Dia dengan penuh kasih mengingatkan kita untuk membuang sikap kekanak-kanakan. Salah satu yang saya pelajari dari hal ini adalah bagaimana membuang penyesalan atas hari kemarin dan kekuatiran atas hari esok. Saya telah menjadi lebih baik dalam mempelajari tentang pentingnya “hidup dalam saat ini”.

Paulus mengingatkan kita dalam Filipi 3:13
“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

Saya percaya bahwa salah satu bagian penting dari panggilan tertinggi kita adalah memahami bahwa tidak ada seorangpun dari kita yang dijanjikan tentang hari esok. Dan jika hari ini, kita memperlambat langkah kita dan mendengarkan “suara lembut” itu menuntun setiap langkah kita, kita tidak perlu kuatir akan jatuh dalam jebakan “sudah sampai belum?”

Saya telah menghabiskan sebagian besar hidup saya berusaha tanpa henti untuk mencapai tempat akhir atau tujuan akhir. Saya begitu sibuk bekerja dengan sangat keras untuk menjadi “cukup baik” dan “layak” sampai-sampai saya kehilangan pandangan terhadap kebenaran yang sesungguhnya. Saya telah melupakan fakta bahwa Kristus telah menyatakan saya “layak” lewat penebusanNya atas saya 2000 tahun lalu. Dia telah membayar penuh segala dosa saya sehingga saya bisa berjalan dengan bebas tanpa tekanan atau beban untuk berusaha menjadi “layak” lagi.

Saat kebenaran itu menyadarkan saya, saya tidak lagi melihat dari bawah ke atas, tapi dari atas ke bawah. Saya melihat bahwa kasih karuniaNyalah yang telah menyatakan saya “layak” terlebih dahulu sehingga saya bisa hidup maksimal bagi Dia, dibandingkan pandangan bahwa saya berusaha dengan segala cara dan memaksa seluruh kemampuan saya agar saya dinyatakan “layak”. Tuhan membawa saya sedikit demi sedikit melalui metamorfosis, dari usaha-usaha manusia untuk dinyatakan “layak”, menjadi kesadaran bahwa karena saya “layak”, maka saya mampu melakukan segala sesuatunya dengan lebih baik. Sama seperti seorang anak kecil yang tidak berusaha belajar berdiri dan berjalan karena dia ingin mendapatkan kasih sayang orangtuanya, tapi sebaliknya, dia bisa berdiri dan berjalan karena dia telah menerima kasih sayang dan bimbingan orang tuanya.

Saya akui perjalanan musim panas itu tidak mudah. Jangan pernah kuatir apakah anda sudah sampai di tujuan atau belum. Saya sarankan anda meletakkan peta dan lihat kompas. Keluarlah dari mobil dan pegang kompas anda dengan stabil ke arah Surga, dan mulailah berjalan. Seiring perjalanan anda, kalau boleh saya tambahkan, anda akan tahu dengan pasti saat anda telah sampai di tujuan!(fis)

Sumber: cbn - cbni


Sebuah Percakapan Dengan Oma

JAWABAN.com - Kupegang tangan omaku dan mengamati jari –jemari itu. Ini adalah tangan yang biasa membuat kue untuk opa. Ini tangan yang membesarkan mamaku. Ini tangan yang juga ikut merawatku sejak aku lahir. Ini tangan yang sangat aku sayangi.

Aku teringat akan beberapa hal yang aku harus jalani belakangan ini da berkata, "Oma, menurut oma arti hidup ini apa sih? Maksudku kita sering melewati banyak waktu yang sangat menyakitkan bagi kita. Tapi waktu kita belajar mencitai, kita malah harus merasakan sakit lagi…."

Dia kemudian memberikan sebuah senyuman ... senyuman yang menyiratkan sebuah kebijakan yang terpupuk selama puluhan tahun dan senyuman yang penuh kasih sayang. Lalu ia berkata, "Sayang, inti hidup ini ialah kasih, memberi dan menyaksikan generasi kamu tumbuh besar. Hidup sama sekali bukan untuk menjadi kaya atau mencapai suatu status sosial tertentu tapi untuk menghormati sesama manusia, memiliki integritas, dan semua itu dibalut oleh kasih. Ini tentang menyadari bahwa kamu hanya punya satu kesempatan saja untuk menjalani hidup ini dengan baik. Dan satu kesempatan itu tidak dimiliki orang lain. Setiap orang punya bagian masing-masing yang berbeda. Tuhan memberikan bagian itu untuk setiap manusia dengan keunikannya dan tidak ada seorangpun yang mampu menjalani bagian itu dengan cara yang sama seperti yang lain. Dalam panggung kehidupan, hanya ada satu kali kesempatan untuk tampil dan hanya aku yang bisa memainkan peranku sendiri

"Kamu bilang tentang mencintai dan disakiti. Memang itu terjadi. Tapi oma pastikan itu semua layak dijalani. Coba pikirkan. Kalaupun misalnya kita harus kehilangan orang yang kita cintai, minimal kita pernah mencintainya. Minimal ada satu waktu dalam hidupmu kamu pernah berada di tahap yang terindah bernama cinta”.

"Inti hidup adalah menyadari bahwa kamu hidup untuk suatu tujuan tertentu, dan tujuan itu ialah melakukan apa yang sudah Tuhan rencanakan atas hidupmu. Banyak orang di luar sana yang mencari sesuatu, berusaha mencari tahu siapa sebenarnya mereka dan apa yang harus lakukan. Oma kasih tau ya, jika kita sudah bertemu dengan Tuhan maka tidak ada waktu lagi untuk mencari-cari tau. Yang ada ialah kita sibuk menjadi dan melakukan apa yang Tuhan inginkan”.

"Dan satu hal lagi. Hidup ialah menyadari bahwa kamu tidak hadir secara kebetulan. Ada Seseorang di atas sana yang mencintai kamu lebih daripada yang pernah kamu bayangkan. Tuhan yang baik itu yang memelihara kita dan meletakkan mimpi atas setiap kita sehingga setiap kita hidup untuk mencapai mimpi itu dengan setiap kemampuan terbaik yang Ia beri”.

Percakapan indah dengan oma siang itu berakhir. Malamnya kami duduk berdua di beranda rumah. Aku letakkan kepalaku di lututnya saat ia mulai bercerita tentang masa mudanya, tentang opa dan tentang anak-anaknya. Ketika aku mendengarkan, jangkrik-jangkrik mulai ikut mengiringi cerita oma dan bintang-bintang mulai ikut bersinar terang menyalakan malam yang gelap. Dan ketika malam makin larut dan kami harus pergi tidur, masih terngiang perkataan oma sekali lagi, “sayang, hidup ini adalah mencintai, berada sesuai rencana Tuhan dan meraih mimpimu”.

Aku tidak akan pernah melupakan percakapan dengan oma sampai tahun-tahun kedepan seumur hidupku. Aku akan selalu ingat bahwa dalam panggung kehidupan hanya ada satu kali kesempatan untuk tampil dan hanya aku yang bisa memainkan peranku sendiri. Hidup itu sebuah panggung. Aku ada diatasnya, tirainya sudah diangkat dan mimpi sidah dilahirkan. TIdak ada latihan. Ini adalah pelaksanaannya. Aku tahu bahwa oma sudah menjalankan perannya dengan baik. Dan ini giliranku.
(liv)




Meninggalkan Jejak

JAWABAN.com - Kalau anda sedang dalam perjalanan ke luar kota, atau melewati jalan raya di kawasan industri, pernahkah anda melihat di sisi jalan ada rumput dan ranting kering? Mereka bertebaran di sekitar batang-batang pohon yang sudah mati. Sekilas pemandangan ini tampak sangat mengganggu, apalagi biasanya dalam perjalanan siang hari, udara sangat panas dan kita sering terjebak macet, seakan-akan kita merasa bertambah letih melihatnya.

Mereka, entah sudah berapa lama tergeletak begitu saja. Kita mungkin tidak pernah membayangkan bahwa dulu mereka pernah begitu hijau dan rindang, sehingga tampak menyejukkan bagi siapapun yang melihat. Selain itu, saat siang hari udara di sekitar mereka pasti tidak sepanas sekarang.

Sadar atau tidak, banyak orang pernah berpikir bahwa seperti itulah hidup. Lahir, tumbuh dewasa, sekolah, bekerja, berkeluarga, bertambah tua dan kemudian meninggal. Tahun-tahun yang berjalan dalam hidup kita seakan tidak berarti saat kita sadar bahwa pada akhirnya nanti, apapun yang kita perbuat, toh pada akhirnya kita juga akan mati, dan segala yang telah kita lakukan sepanjang hidup kita perlahan akan lenyap, atau bahkan tidak akan ada yang pernah mengingat perbuatan-perbuatan kita. Jadi kenapa selama hidup yang singkat ini kita tidak bersenang-senang saja dan melakukan apapun yang kita mau?

Memang benar, secara umum itulah perjalanan hidup yang dilalui setiap orang, dan kita tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan bahwa kita tidak bisa hidup selamanya. Tapi bagaimana kalau kita mencoba membayangkan, seandainya para penemu berpikir seperti itu? Sudah pasti, mungkin sampai saat ini tidak ada listrik, tidak ada telepon, tidak ada alat transportasi, tidak ada komputer,… Wah, padahal hampir semua sistem di dunia menggunakan komputer sebagai otak utamanya… Hei, tapi kita kan bukan seorang penemu seperti mereka? Meskipun menurut kita, kita ini hanyalah “orang biasa” saja, tapi masing-masing dari kita ada di dunia ini untuk suatu tujuan, apakah itu suatu tujuan yang “istimewa” atau yang “biasa-biasa saja”, itu tidak pernah merubah kebenaran bahwa kita diciptakan untuk tujuan yang unik. Bukankah kita sendiri yang membuat kategori dan pemeringkatan “istimewa” dan “biasa-biasa saja”?

Dalam Yeremia 1:4-5, ada satu kebenaran bahwa Tuhan telah mengenal kita sebelum kita ada, dan Dia juga telah menetapkan kita untuk menjadi “seseorang” yang punya fungsi unik, yang tidak bisa digantikan oleh siapapun juga, karena setiap orang juga mempunyai karakter dan pribadi yang unik.

Selama hidup kita, kita pasti meninggalkan sesuatu untuk generasi di bawah kita, terlepas dari apakah itu suatu hal yang baik atau buruk. Apapun yang kita lakukan, kita pasti meninggalkan jejak-jejak kaki. Kita bisa memilih untuk membiarkan hidup berlalu begitu saja atau kita bisa memberi arti dalam kehidupan orang lain lewat hal-hal yang kita lakukan.
(liv)

Sumber: cbni-Fifi Sunari

No comments: