AC Milan
Perbedaan Tanpa Handicap
Persiapan Milan pada pramusim 2007/08, dari mercato sampai uji coba, sama sekali tak memuaskan. Namun, I Rossoneri tetap optimistis mereka akan kompetitif.
Bayangkan, Milan hanya membeli satu anak muda yang belum teruji, Alexandre Pato. Karena faktor usia, pemain asal Brasil ini bahkan baru bisa didaftarkan Januari 2008.
Il Diavolo Rosso juga paling akhir membuka pemusatan latihannya. Ritiro Milan baru dimulai pada 23 Juli, sementara klub-klub lain sudah mulai mengumpulkan pemain di awal Juli.
Hasil uji coba pun memprihatinkan. Milan hanya menang meyakinkan melawan Lecco (4-0, 29/7). Kemudian mereka dua kali seri menghadapi PSV Eindhoven dan Lokomotiv Moskva di Russia Railways Cup (3-5/8), kalah dari Real Betis (0-1, 9/8), dan gagal mempertahankan gelar juara Trofeo TIM (14/8).
Lantas mengapa tim asuhan Carlo Ancelotti bisa merasa optimistis? Jawabannya adalah perbedaan kondisi saat ritiro dibandingkan musim lalu. Milan tak lagi punya handicap.
Musim lalu, karena calciopoli, Milan harus memulai kompetisi dengan defisit poin. Mereka juga harus tampil di kualifikasi III Liga Champion sehingga persiapan disusun terburu-buru.
Ini jelas berpengaruh pada kondisi fisik para pemain. Apalagi badai cedera menimpa I Rossoneri. Baru setelah istirahat Natal-Tahun Baru, Milan bisa membenahi fisik pemainnya.
Setelah itu, penampilan Milan berubah total. Dengan fisik yang lebih baik plus kembalinya para pemain yang cedera, Setan Merah finis di posisi keempat dan menjuarai Liga Champion.
Sekarang Tim Merah-Hitam merasa kondisi mereka seperti bulan Januari lalu. Tak ada persiapan terburu-buru, defisit poin yang meruntuhkan mental, dan badai cedera pemain.
“Kualitas kami tidak akan berada di bawah Inter,” tukas striker Ronaldo. Tidak seperti musim lalu saat baru membela Milan per Januari 2007, Ronnie kini siap sejak awal musim.
Namun, di tengah optimismenya, Milan harus ingat bahwa mereka memiliki jadwal paling panjang. I Rossoneri bermain di lima ajang: Serie A, Coppa Italia, Liga Champion, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub. Ronaldo dkk. harus pintar-pintar mengatur tenaga dengan melakukan rotasi pemain. (wid)
Lini Per Lini
Belakang
Tanpa perubahan, banyak yang meragukan difesa Milan. Namun, sesungguhnya I Rossoneri memiliki bek-bek kelas satu. Nesta, Kaladze, Oddo, Simic, Jankulovski, Maldini, Favalli, serta Bonera adalah pemain atau eks pemain internasional. Sayang, Milan selalu kepayahan menghadapi lawan yang cepat.
Poin: 7
Tengah
Trisula Pirlo-Gattuso-Seedorf sudah lama bermain bersama. Mereka membuat Milan memiliki salah satu centrocampista terbaik di Italia. Musim ini, peran Ambrosini, Brocchi, serta Gourcuff akan lebih dimaksimalkan setelah formasi 4-4-1-1 atau 4-3-2-1 terbukti impresif digunakan musim lalu.
Poin: 9
Depan
Kaka sekarang sudah tidak lagi dihitung sebagai gelandang. Ia sudah menjadi penyerang terbaik Milan. Seperti musim lalu, Kaka diharapkan bisa memacu performa Ronaldo, Gilardino, dan Inzaghi, atau bahkan menggantikan peran mereka apabila trio striker itu kembali “malas” menyumbang gol.
Poin: 8
Kesempurnaan Liga
Drama sepakbola Italia siap bergulir. Para pelakunya pun berusaha mati-matian untuk tampil tanpa cela. Kebudayaan sepakbola di Italia sedikit berbeda. Bukan hanya karena masyarakat lokal menyebutnya calcio atau gara-gara skandal yang telah mencoreng Serie A.
Salah satu perbedaan Serie A adalah faktor usia. Duo Milan, AC Milan, dan Internazionale, bergantung kepada pemain tua yang akan dibuang dari La Liga atau Premier League.
Paolo Maldini adalah contoh konkret. Kapten I Rossoneri ini berniat gantung sepatu pada Mei mendatang menjelang usia 40 tahun. Harapan terbesar Maldini adalah pensiun dengan enam gelar juara Liga Champion.
Maldini dan Milan punya sejarah yang unik. Sebelum Paolo lahir pada 1968, ayahnya, Cesare, berhasil mempersembahkan trofi Liga Champion bagi Milan.
Ketika Paolo Maldini berhenti merumput, kaus bernomor punggung tiga Milan akan pensiun bersamanya, kecuali Christian, putra tertua Paolo, mampu meneruskan dinasti Maldini di klub tersebut. Christian baru berusia 12 tahun, tetapi sudah berlatih bersama Milan junior.
Sementara itu, Paolo Maldini baru saja pulih setelah menjalani operasi lutut yang memungkinkan baginya untuk beraksi selama satu musim lagi. Ia akan mengenakan kaus yang sama dalam 600 partai Serie A. Prestasi pribadi Maldini termasuk tujuh scudetto, lima gelar juara Liga Champion, plus 126 cap untuk tim nasional Italia.
Maldini akan berlatih guna memulihkan kondisi fisiknya bersama Alexandre Pato, remaja asal Brasil yang memilih untuk bergabung dengan Milan alih-alih terbang ke Chelsea atau klub lain. Pato baru menginjak usia 17 tahun dan ia tidak bisa tampil di Serie A hingga Januari mendatang.
Namun, Milan memegang teguh filosofi untuk tidak menghiraukan sertifikat kelahiran dan hanya melihat talenta seorang pesepakbola. Saat ini, Milan's Lab juga tengah berusaha “memperbaiki” pemain Brasil lain, yaitu Ronaldo, yang sudah berusia 30 tahun, sehingga lemak yang ada di tubuhnya berkurang.
Di sisi lain, Presiden Klub Milan, Silvio Berlusconi, sibuk mengirimkan pesan kepada Real Madrid dan klub lain yang menginginkan sang playmaker. “Kaka tidak akan dijual dengan harga berapa pun. Mereka tidak perlu membuang-buang waktu hanya untuk mendekati saya dan menyodorkan tawaran atas dirinya.”
Milan hanya melepas pemain yang tidak lagi dibutuhkan. Ketika Serie A 2007/08 bergulir, Milan akan kembali dimotori Cafu, Filippo Inzaghi, Andrea Pirlo, dan bintang lain yang sudah menginjak kepala tiga. Milan yakin bahwa selama pemain-pemain tersebut mampu berlari, mereka pasti mampu merebut gelar juara.
Perebutan Suazo
Di kota yang sama, Inter berniat mempertahankan gelar scudetto. Presiden Inter, Massimo Moratti, pun bersikap fleksibel untuk urusan dana guna mendatangkan seorang sumber gol lagi pada musim panas ini.
Moratti meminta sang pelatih, yang sekaligus mantan striker Inter, Roberto Mancini, untuk menyebutkan dua pemain yang dia inginkan guna memperbaiki kekuatan tim. Mancini pun menunjuk eks bek buangan AS Roma, Christian Chivu, dan David Suazo dari Cagliari.
Sebelumnya, Chivu sudah memulai negosiasi dengan Barcelona dan Madrid, tetapi Inter berhasil mengalahkan kedua raksasa Spanyol tersebut. Sementara itu, Suazo adalah pemain yang sangat berharga, seorang pesepakbola asal Honduras yang menjadi legenda di Sardinia.
Sebelum Suazo datang, masyarakat setempat mengagung-agungkan sosok Luigi Riva, yang menyumbangkan 21 gol bagi Cagliari dalam satu musim. Akan tetapi, Suazo mampu mematahkan rekor tersebut dan membukukan 23 gol.
Suazo diwakili lebih dari satu agen. Itulah sebabnya Inter dan Milan sama-sama mengklaim sebagai pemilik baru Suazo pada Juni silam. Rupanya Inter langsung melakukan pendekatan kepada sang pemain. Tidak legal, tetapi cukup efektif.
Sementara itu, Milan bernegosiasi dengan presiden klub Cagliari. Pemenangnya adalah Inter karena dalam kontrak Suazo terdapat pasal yang menyebutkan bahwa ia dapat hijrah ke klub pilihannya jika klub tersebut berani membayar sepuluh juta euro kepada pihak Cagliari.
So, dua klub asal Milan ini bukan hanya bersaing memperebutkan gelar juara, tetapi juga karena alasan dendam pribadi.
Beda Ideologi
Seperti halnya Milan, Inter menaruh kepercayaan penuh kepada para pemain yang sudah lama bercokol dan memberikan yang terbaik untuk klub tersebut. Sang kapten, Javier Zanetti, sudah berusia 34 tahun. Ia dikenal dengan julukan Il Trattore alias Sang Traktor karena ketangguhannya dan ambisi pribadi untuk menyamai prestasi Maldini, yaitu merumput hingga usia 40 tahun.
Zanetti pun mengungkapkan kebanggaannya memperkuat klub yang bermarkas di ibu kota fesyen dan sepakbola Italia itu.
“Saya sangat menghormati Del Piero dan akan memberikan gelar Golden Ball kepada Maldini,” ujar Zanetti.
“Namun, hati saya tetap hitam-biru. Saya tidak bisa bersahabat dengan pemain Milan atau Juventus. Kami punya banyak perbedaan mulai dari ideologi hingga cara kerja,” lanjutnya.
Zanetti dan Maldini adalah kapten Inter dan Milan yang merupakan dua dari empat calon peraih scudetto musim ini. Milan, Inter, Juventus, dan tentu saja AS Roma bakal mendominasi liga yang tengah bangkit dari keterpurukan.
Namun, untuk pertama kali dalam 12 tahun terakhir, Serie A berhasil mengumpulkan klub-klub terbaiknya. Promosi Napoli dan Genoa telah menyempurnakan liga tersebut.
Satu-satunya yang harus dilakukan adalah menghentikan kebiasaan menyuap wasit dan membunuh para penonton atau polisi.
AS Roma
Dapat Naik Tangga
Roma mendapatkan dua pemain berkelas internasional, Juan dan Ludovic Giuly. Penambahan itu dapat membuat I Giallorossi naik ke tangga yang lebih tinggi.
Maksud tangga yang lebih tinggi adalah posisi pertama. Roma, yang musim lalu menjadi runner-up, sekarang punya potensi besar untuk menjegal juara bertahan Inter. Kemenangan 1-0 atas I Nerazzurri di Supercoppa Italia (19/8) jadi bukti.
Hasil tersebut membungkam kritik kepada Roma, yang mencapai hasil buruk selama pramusim. Il Lupo hanya sekali menang. Itu pun dari tim lemah Frosinone (1-0). Hasil lain adalah kalah dari Borussia Dortmund (0-4), West Ham (1-2), dan Juventus (2-5), dan seri dengan Leverkusen (2-2).
“Kami telah membuktikan bahwa kami adalah skuad kuat dan kompetitif yang dapat menantang siapa pun,” kata kapten Francesco Totti, seperti dilansir Il Romanista.
Roma sempat kehilangan kepercayaan diri setelah Cristian Chivu hijrah ke Inter. Hasil di Supercoppa menghilangkan hal itu. Lagi pula sesungguhnya pada musim lalu bek Rumania itu tidak tampil luar biasa. Jadi, Il Lupo bisa hidup tanpanya.
Pengganti Chivu, Juan, punya pengalaman dan kualitas yang sama. Bek tengah yang dibeli dari Bayer Leverkusen itu adalah anggota reguler di formasi utama tim nasional Brasil.
Pelapis Bertambah
Nilai lebih Roma dibandingkan dengan musim lalu adalah Il Lupo kini memiliki lebih banyak pilihan dengan kemampuan setara, khususnya di lini tengah. Sekarang Roma punya Giuly, Mauro Esposito, dan Matteo Brighi.
Akan tetapi, tidak ada pemain yang kemampuannya seperti Totti. Il capitano memang tidak tergantikan. Di situlah masalahnya. Ketergantungan Si Kuning-Merah pada Totti sangat tinggi.
Giallorossi juga selalu kesulitan setiap Simone Perrotta dan David Pizarro absen. Karakter Giuly berbeda dengan mereka. Tapi, jujur saja ia dapat memberi perbedaan. Esposito? Dia diproyeksikan sebagai pelapis Mancini dan Rodrigo Taddei.
Dari pengalaman musim lalu, kesulitan juga dialami Roma ketika Daniele De Rossi absen. Saat pramusim, Brighi belum menunjukkan permainan sekelas kapten kedua Il Lupo.
Mentalitas kurang serius saat melawan tim kecil harus dibuang Roma. Musim lalu, klub yang dikuasai keluarga Sensi ini beberapa kali gagal menang melawan tim-tim kecil. Tapi, mereka selalu hebat saat bertemu klub besar.
Perjalanan kompetisi sangat panjang. Jadi, kemenangan atas Inter, Milan, atau Juventus tak akan banyak berarti kalau gagal meraih poin maksimal dari tim seperti Atalanta, Catania, atau Siena. (Riemantono)
Lini Per Lini
Belakang
Pengalaman bek baru, Juan, akan memberi ketenangan di lini pertahanan Roma. Dia sudah nyetel dengan kiper Doni. Klub ini juga punya bek tengah bagus, Mexes dan Ferrari, serta pemain muda Andreolli. Di sayap ada Panucci, Cassetti, dan Tonetto. Dua nama pertama bisa main di kanan dan kiri.
Poin: 7,5
Tengah
Roma punya banyak gelandang dengan kualitas hampir sama. Brighi dan Aquilani untuk melapis De Rossi dan Pizarro. Giuly dapat mengisi tempat Taddei di kanan atau Perrotta sebagai trequartista. Dua gelandang serang lain adalah Mancini dan Esposito. Alvarez juga punya potensi besar.
Poin: 9
Depan
Pelatih Spalletti masih menerapkan formasi 4-2-3-1. Itu berarti Totti masih sendirian di depan. Tidak mudah buat il capitano untuk mengulang keberhasilan menjadi pencetak gol terbanyak. Kini lawan lebih paham pada pola serangan Roma. Seperti musim lalu, Vucinic menjadi pelapis.
Poin: 7,5
No comments:
Post a Comment