SIFAT YANG DIMILIKI OLEH PEMIMPIN LUAR BIASA

Chris Widener
Saat seseorang memutuskan (baik secara sadar atau tidak) untuk mengikuti
kepemimpinan anda, keputusan itu terutama karena satu atau dua hal berikut:
karakter anda atau kemampuan anda. Mereka ingin memastikan apakah anda
adalah seseorang yang pantas mereka ikuti, atau apakah anda memiliki
kemampuan untuk membawa mereka pada keberhasilan. Tentu ada banyak
pertimbangan, namun kali ini kita akan memusatkan perhatian pada diskusi
untuk mengetahui macam-macam karakter yang membuat orang lain mengikuti
kepemimpinan anda.
1. Integritas.
Integritas adalah melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang anda katakan akan
anda lakukan. Integritas membuat anda dapat dipercaya. Integritas membuat
orang lain mengandalkan anda. Integritas adalah penepatan janji-janji anda.
Satu hal yang membuat sebagian besar orang enggan mengikuti anda adalah bila
mereka tak sepenuhnya merasa yakin bahwa anda akan membawa mereka menuju ke
tujuan yang anda janjikan. Apakah anda dikenal sebagai seseorang yang
mempunyai integritas? Bila ya, maka anda layak menjadi seorang pemimpin yang
luar biasa. (apakah pemimpin kita sudah tidak diragukan lagi integritasnya ?)
2. Optimisme.
Takkan ada orang yang mau mengikuti anda bila anda memandang suram masa
depan. Mereka hanya mau mengikuti seseorang yang bisa melihat masa depan dan
memberitahukan pada mereka bahwa di depan sana terbentang tempat yang lebih
baik, dan mereka dapat mencapai tempat itu. Apakah anda melihat gelas itu
separuh kosong? Bila ya, anda adalah seorang pesimis. Apakah anda melihat
gelas itu separuh berisi? Bila ya, anda adalah seorang optimis. Apakah anda
melihatnya sebagai segelas penuh; yaitu separuh berisi air dan separuh lagi
berisi udara? Maka anda adalah seorang yang super optimis. Apakah anda
dikenal sebagai seorang yang optimis? Bila ya, anda layak menjadi seorang
pemimpin yang luar biasa. (boleh saja asal jangan kebablasan, yakin tapi tidak
realistis buat apa!)
3. Menyukai perubahan.
Pemimpin adalah mereka yang melihat adanya kebutuhan akan perubahan, bahkan
mereka bersedia untuk memicu perubahan itu. Sedangkan pengikut lebih suka
untuk tinggal di tempat mereka sendiri. Pemimpin melihat adanya kebaikan di
balik perubahan dan mengkomunikasikanny a dengan para pengikut mereka. Jika
anda tidak berubah, anda takkan tumbuh. Apakah anda anda dikenal sebagai
seseorang yang memicu perubahan? Jika ya, anda layak menjadi seorang
pemimpin yang luar biasa. (kalau pola kerja dan atitutnya orientasi kepentingan
pribadinya terus, bagaimana bisa mengemudikan orang lain menuju perubahan?)
4. Berani menghadapi resiko.
Kapan pun kita mencoba sesuatu yang baru, kita mengambil resiko. Keberanian
untuk mengambil resiko adalah bagian dari pertumbuhan yang teramat penting.
Kebanyak orang menghindari resiko. Karena itu, mereka bukan pemimpin. Para
pemimpin menghitung resiko dan keuntungan yang ada di balik resiko. Mereka
mengkomunikasikanny a pada pengikut mereka dan melangkah pada hari esok yang
lebih baik. Apakah anda dikenal sebagai seorang yang berani mengambil
resiko? Jika ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa. (jangan
berani berteriak optimis tanpa peduli pendapat pengikut tapi saat terjadi seakan
tidak menerima kenyataan dan meleparkan tanggung jawab kepada kelompok untuk
menanggungnya. )
5. Ulet.
Kecenderungan dari pengikut adalah mereka menyerah saat sesuatunya menjadi
sulit. Ketika mereka mencoba untuk yang ke dua atau ke tiga kalinya dan
gagal, mereka lalu mencanangkan motto, "Jika anda gagal di langkah pertama,
sudahlah menyerahlah dan lakukan sesuatu yang lain." Jelas saja mereka
melakukan itu, karena mereka bukan pemimpin. Para pemimpin itu tahu apa yang
ada di balik tembok batu, dan mereka akan selalu berusaha menggapainya. Lalu
mereka mengajak orang lain untuk terus berusaha. Apakah anda dikenal sebagai
seseorang yang ulet, tangguh, dan berdaya tahan tinggi? Jika ya, anda layak
menjadi seorang pemimpin yang luar biasa. (yakin tidak anda dengan pemimpin
yang anda pilih !!!!???????? ???)
6. Katalistis.
Seorang pemimpin adalah seseorang yang secara luar biasa mampu menggerakkan
orang lain untuk melangkah. Mereka bisa mengajak orang lain keluar dari zone
kenyamanan dan bergerak menuju tujuan mereka. Mereka mampu membangkitkan
gairah, antusiasme, dan tindakan dari para pengikut. Apakah anda dikenal
sebagai seseorang yang mampu menggerakkan orang lain? Jika ya, anda layak
menjadi seorang pemimpin yang luar biasa. (tergantung seberapa besar pemimpin
membangun trustworthy pada banyak orang, kalau tidak akan dianggap angin
lalu saja)
7. Berdedikasi/ komit.
Para pengikut menginginkan seseorang yang lebih mencurahkan perhatian dan
komit ketimbang diri mereka sendiri. Pengikut akan mengikuti pemimpin yang
senantiasa bekerja dan berdedikasi karena mereka melihat betapa pentingnya
pencapaian tugas-tugas dan tujuan. Apakah anda dikenal sebagai seseorang
yang komit dan senantiasa mencurahkan perhatian anda pada tujuan? Jika ya,
anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa. (ehem, ini harus dibukti
kan sungguh2 dengan hati nurani kalau tidak hanya lip service saja)
(Chris Widener, Character Traits of Extraordinary Leaders)
Siapa yang mengganti popok kita sewaktu kita masih bayi dan tanpa daya ?
Saudaraku yang baik,
Bangsa ini tgl 21 April lalu baru saja merayakan hari Kartini. Kartini adalah seorang perempuan Indonesia yang jangkauan dan kekuatan pikirannya menembus benua dan menembus zamannya. Kesataraan merupakan obsesinya yang masih tetap relevan hingga kini.
Tapi apakah benar laki-laki memandang hormat dan menyetarakan perempuan, yang oleh Ahmad Dhani dilukiskan sebagai makhluk Tuhan yang paling sexy ?
Hari Kartini mengingatkan saya pada suatu kejadian 5 tahun yang lalu sa'at cucu pertama saya lahir. Cucu saya lahir dari anak perempuan satu-satunya yang dianugerahkan Allah kepada saya.
Tentu saya bersyukur dan sangat bahagia. Beberapa teman di kantor datang keruangan saya dan mengucapkan selamat dengan kata-kata yang menyejukan hati. Namun ada salah satu teman, yang bicara begini, saya juga sudah punya cucu, tapi dari anak perempuan saya. Dia meneruskan, saya masih punya anak laki-laki, sebentar lagi menikah. Nah kalo dapat cucu dari anak laki-laki saya, barulah saya merasa benar-benar happy. Saya terdiam tidak bisa bilang apa-apa. Sa'at saya menulis e-mail ini mengenang kejadian itu, hampir tidak bisa saya lanjutkan. Saya laki-laki, tapi saya menangis.
Saya sedih, sangat sedih. Kegembiraan saya lenyap seketika. Saya pulang kerumah, cerita kepada istri saya. Istri saya sangat emosi, marah dan merasa sakit hati. Istri saya ngomong begini; "Pak bilang sama orang itu, kenapa anak perempuan-nya nggak di kubur hidup-hidup begitu istrinya melahirkan".
Istri saya ngoceh lagi;" Bilang sama dia, dia itu hidup dizaman modern, tetapi pola berpikirnya masih di zaman jahiliyah, sangat jahilliyah. Kenapa dia nggak tiru Umar Bin Khatab sewaktu belum tobat, dan masih menjadi preman Arab yang langsung menimbun anaknya dengan tanah, begitu dia tahu anaknya perempuan".
Saya diam saja sambil meneteskan air mata. Istri saya juga menangis, namun menangisnya lebih keras dari say, dengan sesenggukan, diselingi ocehan-ocehan, yang merupakan wujud dari sakit hatinya.
"Bapak penakut, kenapa ngga ngomong sama dia langsung. Nanti dia pikir apa yang dia bilang bener lagi" Saya diam sambil menundukan kepala. Bila ketidak setujuan saya pada waktu itu disampaikan langsung, saya khawatair merusak suasana dan lagi pula didepan orang banyak. Saya tidak ingin berbantah-bantahan dalam suasana yang membahagiakan.
Yang ingin saya katakan adalah suatu kenyataan bahwa banyak, tidak semua, laki-laki masih memandang rendah kepada perempuan, kendati perempuan itu putri mereka sendiri.
Saya memandang perempuan setara dengan laki-laki untuk pencapaian-pencapai an dalam bidang apapun. Bahkan mereka punya kelebihan dibanding laki-laki. Perempuan bisa melahirkan, sedangkan laki-laki tidak bisa melahirkan. Perempuan memiliki kelembutan yang sangat dahsyat, yang bisa melumerkan baja sekuat apapun.
Saudaraku, bila masih ada diantara kita, walau dalam hati, masih memandang perempuan sebagai makhluk kelas dua, mari sama-sama kita renungkan fakta berikut ini: Ibu kita, yang melahirkan kita, yang sangat kita muliakan dan hormati, yang mengandung kita selama 9 bulan, yang merawat kita dengan ikhlas dan penuh kasih, yang bangun tengah malam buta untuk sekedar mengganti popok, adalah perempuan
Saya harus menghentikan tulisan ini, karena.....saya menangis.... ....sungguh saya menangis.... ..
Sekian dulu, semoga dapat memberi inspirasi bagi kita.
Terima kasih dan salam sukses dengan menghargai perempuan
"The greatest glory in living lies not in never falling, but in rising every time we fall."
Nelson Mandela
South African Statesman and Nobel Prize Winner
The Beach-Ball Effect
Every aspect of ourselves that we've denied, every thought and feeling that we've deemed unacceptable and wrong, eventually makes itself known in our lives. When we are busy building a business, creating a family, or taking care of those we love, when we are too busy to pay attention to our emotions, we have to hide our dark impulses and shame-filled qualities, which leaves us at risk for an external explosion. In a matter of minutes, when we least expect it, a rejected or unwanted aspect of ourselves can pop up and destroy our lives, our reputations, and all of our hard work. This is what I call the Beach-Ball Effect.
Think of the amount of energy it takes to hold an inflated beach ball underwater for an extended period of time. The moment you relax or take your attention away from keeping it submerged, the ball will bounce back up and splash water in your face. The Beach-Ball Effect is at work when you have suppressed something deep within your psyche, stored it in the recesses of your subconscious, and then, just when you think everything is going your way, something happens: You send a slanderous e-mail to the wrong colleague. You get lured into betraying someone you love for a night of meaningless passion. You get behind the wheel of a car after having three drinks and get arrested for drunk driving. You get caught dipping into your family's trust fund. You fly off into a rage in front of your new lover. You make an inappropriate comment that costs you your job. You blow an important deadline right before your big review. You haul off and hit your child in a moment of frustration. In other words, the beach ball-your repressed urges and your unprocessed pain-pops up and hits you in the face, sabotaging your dreams, robbing you of your dignity, and leaving you drenched in shame.
How many more blatant acts of self-sabotage do we have to witness to understand the devastating effects of denying and suppressing our unprocessed emotional garbage?
Don Imus is a perfect example. Here is a man who worked hard to become one of the biggest radio and TV celebrities in the country over the course of thirty-five years. His entire career was based on communication. And in less than one minute the career he had spent years building was destroyed. The beach ball bounced up and hit him in the face.
Mel Gibson built the persona of someone who takes a moral and ethical stand for others and creates movies with strong spiritual messages. And although he vehemently denied accusations of anti-Semitism in his movie The Passion of the Christ, in one drunken tirade the attitudes and beliefs that were hidden in his shadow couldn't be held down. When pulled over and arrested for driving under the influence, he shamed himself with a barrage of outrageous statements.
There are countless ways for the beach ball to pop up and smack us back into reality. It could be something as small as picking a fight with your husband right before you are about to go out on a long-overdue date, or criticizing your child in front of her friends after spending months trying to build her trust. It might be procrastinating on updating your resumé and missing a huge opportunity, or spending a night in front of the refrigerator after dieting for three months. Maybe it manifests itself as oversleeping and missing your best friend's bridal shower or calling your lover by the wrong name. Maybe it's making a smart-ass comment to yourself while thinking someone had already hung up the phone when actually they had not. As long as we are unwilling to look at the beach balls that are lying just beneath the surface of our consciousness, we will unknowingly have to live in fear of the moment they will pop up and the effects they will have on our lives and the lives of others when they do. And believe me, it is a rare case when we are the only ones who get hurt; more often than not, our unprocessed pain will hurt many people. Many lives will be inconvenienced, many hearts will be broken, and some nearby innocent spectators will get caught in the splash.
Let's think of our suppressed emotions and disowned qualities as human lava. Lava exists beneath the surface of the earth. If there are no steam vents at the earth's surface to release the pressure of the powerful force that lies beneath, its only outlet comes in the form of an eruption. Likewise, within our psyches our dark urges and impulses build up, and unless we find safe, healthy ways to release them, they express themselves in inappropriate and potentially dangerous ways. By acknowledging, accepting, and embracing our dark side, we create natural steam vents within ourselves. By providing an opening, we eliminate the worry about an explosion because we are allowing the pressure to be released in a safe and appropriate way. But when it is concealed in darkness, repressed out of shame, and denied out of fear, the shadow has no choice but to erupt. The mental and emotional outpouring that follows has less to do with our circumstances and who is around us than it does with our need to release the pressure.
Debbie Ford
From Why Good People Do Bad Things: How To Stop Being Your Own Worst Enemy
Graduation
After a break of about nine years, I returned to my career (part time at first) to find that the old diploma qualification that I had got had been replaced with a degree and I felt less qualified than the younger counterparts.
I decided to do something about this, especially since I had always felt that I should have taken a degree course in the first place, so I returned to college and did a diploma in a related subject. I next did a post-graduate diploma and finally graduated in 1996 with a Master's degree. By that time I was exhausted. I had been working full time and had two children. Without the love and support of all my family (especially my husband) I would never have got through it, the thesis I wrote was my "Mount Everest." My husband would take over the housework so I had no excuse not to study, and take the children out somewhere every Sunday so I had some peace and quiet to write my thesis.
I did NOT want to go to the presentation ceremony. I just wanted to get my piece of paper and put it all behind me - to get on with my life again. However, my husband insisted that I attended the formal event. He said he deserved it after all he had been through!! I reluctantly agreed and sent off for the tickets. When the tickets arrived there was an extra one and I casually mentioned it to my mother. She immediately said "Why not invite your father to come along?" I thought it was unfair to invite just one of my parents but she said she really wanted him to go and told me why.
When my father had studied for his degree in the 1940's, it had been a struggle. His parents were not wealthy and he had had to work his way through, doing road mending and all sorts of jobs to help fund his learning. He met my mother whilst he was studying and they were deeply in love. When he eventually qualified, he spent all his remaining money on an engagement ring for my mother and so he could not afford to travel up to London to collect his degree. So he never went to his award ceremony and never got to wear the gown to which he was entitled.
I was very glad to invite him to come to my ceremony.
When I got to the robing room, I mentioned the fact that my father had never been to his award ceremony to one of the staff who were handing out the pre-ordered robes. He asked me what university it was and what year. I told him, and he asked me to wait. When he returned, he had found the correct robe for my father and absolutely insisted that we borrow it free of charge. My father felt a bit silly at first, but everyone convinced him that it was his right to wear the robe and we had our photographs taken together for my mother. It was an absolutely magical day that I could never have expected. I am so glad that my husband insisted that I went.
My son expects to graduate next year, and God willing, we plan to have another picture taken, this time with all three of us.
From Julie, an Insight of the Day subscriber.
Be a Leader
The following was written by a high school student writing an essay for her final exam:
"A true leader has the confidence to stand alone, the courage to make tough decisions, and the compassion to listen to the needs of
others. He does not set out to be a leader, but becomes one by the quality of his actions and the integrity of his intent. In the end,
leaders are much like eagles... they don't flock, you find them one at a time." Hard work, profound dedication, and encouragement
toward others are what entitle an individual to be a leader.
A strong work ethic is one important quality of an adroit leader. As the saying goes: "There are always two choices, two paths to take.
One is easy. And its only reward is that it's easy." Hard work and intense dedication can only make you better, both mentally and
skillfully. If others see one person working as hard as they can 100% of the time, they will work harder for that one person. No matter
how unmotivated people are, if just one person steps up and takes the lead, everybody else will follow. Leaders motivate others.
Many people find themselves working harder when they know that they get something out of it. Just by hearing a few pushing words
that motivate and encourage, people force themselves to work harder. Leaders are usually the ones who ignore their own
accomplishments to commend others for theirs. The leader keeps everybody's head up at all times, as they work harder and harder, and
more diligently toward their goals. The number one thing that a leader tries to avoid is making people feel guilty or to look down on them
because leaders bring others higher in the world, usually with the result being success. As a noble person once said, "There are high
spots in all of our lives, and most of them come through encouragement from someone else."
Hard work from one person makes other work harder. Vehement dedication shows others the success that comes through it.
Encouragement and support for others make others feel good about themselves and give them something else to work for. These are all
very significant traits that a leader must possess. Don't wait around for things to happen, make this world what you really want it to be,
be a leader.
Memihak kaum perempuan
Tanggal : 21 Apr 2008
Sumber : Harian Terbit
HARI ini adalah Hari Kartini, hari yang oleh bangsa kita dijadikan simbul kebangkitan kaum perempuan. Dalam konteks demokrasi yang marak di tanah air, kiranya perlu kita ingatkan agar para kontestan pemilu, apakah itu pemilu calon Presiden, Wakil Presiden, Gubernur dan Wakilnya, Bupati/Walikota dan Wakilnya, atau bahkan anggota DPRR dan DPRD, akan makin pentingnya mengangkat isu tentang pemberdayaan kaum perempuan. Seperti di banyak negara, negara maju maupun negara berkembang, usia rata-rata kaum perempuan lebih baik dari kaum laki-laki.
Oleh karena itu umumnya, kaum perempuan jumlah atau proporsinya lebih besar dibandingkan kaum laki-laki. Tetapi ironisnya, kondisi sosial ekonomi kaum perempuan umumnya lebih rendah dibandingkan kaum laki-laki.
Biarpun berulang kali dianjurkan, bahkan tidak bosan-bosannya para politisi senior dunia menghasilkan deklarasi global agar upaya kesetaraan gender menjadi perhatian. Para orang tua seakan tidak peduli dan selalu saja menempatkan anak laki-lakinya pada posisi lebih baik dibandingkan anak perempuan. Protes keras secara nyata, disertai bukti konkrit, bahwa kualitas anak perempuan tidak kalah dengan anak laki-laki tidak digubris. Prestasi anak perempuan di kelas, di kampus, atau di ruangan kerja, sedikit menggetarkan, tetapi tidak banyak mengubah sikap dan persepsi orang tua. Pada umumnya orang tetap melihat dan percaya bahwa secara totalitas pada setiap bangsa umumnya kondisi sosial ekonomi kaum perempuan lebih rendah dibanding kaum lelaki.
Karena anggapan dan kepercayaan tersebut, anak perempuan biasanya mendapat prioritas yang kedua atau kesekian dalam hal pendidikan, kesehatan atau kesempatan untuk memperoleh pekerjaan. Prioritas ini tidak saja karena eks-pektasi yang keliru tetapi juga dalam hal-hal tertentu masih dibatasi aturan-aturan budaya dan agama yang disalah tafsirkan. Kadang juga kekawatiran yang berlebihan bisa berkurang karena dilonggarkannya batasan tersebut. Budaya atau larangan agama memperoleh interpretasi yang lebih "modern". Larangan bekerja malam hari menjadi lebih longgar. Tetapi kalau kelonggaran itu dilanggar, misalnya membawa akibat pergaulan yang lebih bebas dengan akibat yang fatal, akan terjadi pembalikan yang merugikan. Misalnya, terjadi pelanggaran susila, orang tua yang mulai mengendorkan larangan anak perempuannya kembali terhenyak dan menarik ijin dan kesempatan yang sudah dibukanya.
Oleh karena itu, kalau dewasa ini banyak sekali para politisi mengumbar janji, ada baiknya kaum perempuan menuntut dibukanya isu kesetaraan gender lebih gegap gempita. Kalau mereka terpilih segera ditagih apakah para wakil rakyat, atau para pemimpin tersebut, betul-betul memberikan dukungan yang kuat terhadap pengembangan pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja atau kesempatan usaha untuk kaum perempuan. Apakah mereka memberi perhatian yang tinggi terhadap isu-isu kekerasan terhadap kaum perempuan, yang notabene mungkin saja menyangkut ibunya, adik atau kakak perempuannya, atau bahkan kekerasan terhadap anak-anak atau cucu-cucunya. Kekerasan gender dalam lingkungan rumah tangga bisa terjadi bukan saja monopoli mereka yang pendidikan dan keadaan sosial ekonominya rendah, juga terjadi dalam lingkungan keluarga modern dengan tingkat pendidikan tinggi dan tergolong terhormat.
Tontonan tv yang selalu mengetengahkan kekerasan tidak mustahil menjadi contoh untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Alasan untuk meniru diberi contoh dan multi alasan yang dipertontonkan secara telanjang. Latar belakang yang direka yasa cocok dengan kondisi di rumahnya, sehingga kasusnya menjadi sangat meyakinkan. Tuntunan agama yang diberikan dengan abstrak sukar diikuti. Tontonan sinetron yang telanjang dan sederhana dengan mudah dicerna. Lebih-lebih contoh praktisnya bisa diulang at no time, kapan saja dan dimana saja.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan para aktifis sudah berusaha keras. Setiap kali pidato berapi-api, yang dimuat media hanyalah peristiwanya semata. Substansi yang menjadi perhatian sukar ditampilkan karena ruang yang terbatas. Penampilan di TV yang apa adanya tidak menarik. Kalau mau lebih menarik biayanya mahal. Pemerintah "berhemat" atau pejabat pemerintah "merasa bisa". Segan atau "sayang" menyerahkan "proyeknya" kepada tim ahli yang bisa mem-"paketkan" program sesuai selera penonton. Sebaliknya ajakan merokok, yang dikemas perusahaan iklan, tampil tegar dan selalu menarik. Biarpun kita menganjurkan anti rokok, anjuran itu kalah seru dibanding ajakan merokok yang aduhai.
Tiba waktunya para politisi dihimbau untuk pasang iklan tentang dirinya agar dipilih dengan mengangkat tema memperjuangkan kaum perempuan. Kita sebaliknya, menganjurkan dengan tegas kepada setiap pemilih, utamanya kaum perempuan, untuk hanya memilih kandidat yang nyata-nyata pro pembangunan kaum perempuan. Tindakan ini pasti, apabila Ibu kita Kartini masih hidup, akan menjadi bahan baru dari surat yang ditulis untuk sahabatnya di Belanda.
Agar dampak dari ajakan itu mempunyai arti yang besar, kita harus bisa menggerakkan kaum perempuan untuk hadir dalam berbagai kampanye. Pada kesempatan itu, yang biasanya kandidat sangat terbuka dan mudah di akses, secara berani kaum perempuan mengutarakan isunya untuk diangkat. Kalau kandidat belum mau mengangkatnya, dalam kesempatan kampanye di tempat lain, isu yang sama harus disampaikan. Begitu seterusnya.
Dalam kampanye, setiap calon menyampaikan gagasan agar dipilih. Kaum perempuan menjadikan forum kampanye untuk menyampaikan isu penting. Suatu kesempatan dimana pejuang perempuan tidak perlu keluar dana untuk mengangkat isu dan meyakinkan pokitisi senior demi kesetaraan gender dan kesejahteraan kaum perempuan. Ibu Kartini pasti tersenyum bahagia melihat anak cucunya tidak menulis surat seperti dirinya, tetapi mempunyai cara perjuangan yang lebih modern dan demokratis. (penulis adalah pro perempuan/haryono. com
Budaya Inggris
Tidak ada pelatih asal Inggris yang menangani empat wakil Inggris di Liga Champion musim ini. Manchester United dipegang Sir Alex Ferguson (Skotlandia), Chelsea oleh Avram Grant (Israel), Arsenal ditukangi Arsene Wenger (Prancis), dan Liverpool diasuh Rafael Benitez (Spanyol).
Dalam 13 tahun terakhir, hanya sedikit pelatih Inggris yang menangani enam klub top Premier League (United, Chelsea, Arsenal, Liverpool, Tottenham Hotspur, dan Newcastle United). Di antaranya Glenn Hoddle, Kevin Keegan, Sir Bobby Robson, dan Roy Evans.
Tentu ada alasannya. “Klub-klub selalu mencari bekas pemain terkenal. Begitulah budaya di Inggris,” kata Andy Cale dari FA dalam buku Italian Job, yang ditulis Gianluca Vialli, eks bintang Italia yang pernah membela Chelsea.
Modal untuk menjadi pelatih tak hanya pengalaman sebagai pemain. Ada aspek-aspek lain yang mesti dipelajari. Meski UEFA sudah mewajibkan pelatih di Premiership harus punya lisensi, budaya tersebut tidak hilang. Klub mengakali dengan memberi jabatan pelatih sementara.
“Inggris tertinggal karena tak memiliki pendekatan akademis. Di Prancis, sejak lama ada kursus berlisensi. Saya pertama kali ikut saat berusia 25 tahun. Ketika itu saya sudah ingin menjadi pelatih dan sadar harus banyak belajar. Di Inggris, jika Anda pemain bagus, jalan sangat mudah,” ujar Wenger.
FA sudah membentuk sekolah untuk menciptakan pelatih berkualitas, tapi itu dinilai masih kurang.
“Saya mengambil lisensi pro UEFA di Coverciano dan lisensi B UEFA di FA. Saya melihat kursus di Inggris mengikuti Italia, tapi masih lemah dalam beberapa hal,” kata Vialli.
“Saya tidak belajar banyak dari kursus di sini. Saya pikir itu karena kita belum siap untuk berdialog dan berdebat,” kata David Platt, eks pelatih Sampdoria, Nottingham Forest, dan Inggris U-21. (man)
Final Kepagian
Apakah kerajaan Inggris siap bangkit setelah sekian lama tertidur? Liga Champion bisa menjadi kisah lanjutan Premier League, kecuali Barcelona bisa mengalahkan Manchester United.
Tiga klub Inggris kembali mendominasi semifinal Liga Champion. Pertanda bahwa pemerintah kolonial bakal kembali berkuasa di Eropa.
Terlepas dari hal itu, semifinal Liga Champion terdiri dari dua pertarungan yang berbeda. Barcelona versus Manchester United sepantasnya menyuguhkan tontonan penuh aksi saling menyerang antara kedua kubu. Di sisi lain, Liverpool versus Chelsea merupakan pertempuran musiman antara dua pihak yang tidak pernah lelah dalam bertahan.
Untuk memperjelas perbedaannya, Michael Ballack, gelandang Jerman yang kini memperkuat The Blues, mengatakan bahwa Liga Champion adalah tujuan utama yang ia dan semua juta- wan yang bercokol di Chelsea ingin raih.
“Kami di sini bekerja bersama. Kami membutuhkan gelar ini,” ucap Ballack pekan lalu.
“Hasil pertandingan melawan Liverpool selalu saja tipis, seperti 1-0, dan itu akan terulang kembali. Namun, tidak peduli bagaimana caranya kami bermain, yang terpenting adalah kemenangan,” lanjut mantan pemain Bayern Muenchen tersebut.
Saya menyukai Ballack, tapi persetan dengan filosofinya. Ucapan yang keluar dari mulutnya hanya alasan untuk sebuah pertandingan seharga miliaran rupiah yang membosankan dan memaksa dua klub mengeluarkan seluruh kelihaian mereka hingga salah satu pihak mendapat kesempatan emas, diuntungkan kesalahan wasit atau hal lain.
Menyerang vs Bertahan
Sebagai pembanding, Manchester United di bawah arahan Sir Alex Ferguson telah menyusun rencana peperangan satu hari selama 21 tahun. Dia berkata, “Saya memang mengincar mereka.”
Berdasarkan versi Ferguson, keinginan untuk bertahan di sepakbola harus dilenyapkan. Nantinya yang tersisa adalah hasrat untuk menghabiskan sang rival melalui kemampuan menyerang.
Johan Cruyff, mantan pemain, pelatih, dan mentor Barcelona, punya keyakinan kuat bahwa El Barca tidak akan mengulangi penampilan buruk mereka di La Liga. Skuad yang kini ditangani pelatih asal Belanda, Frank Rijkaard, tersebut mampu menjadi lawan yang tangguh bagi Man. United.
Seperti halnya Red Devils, Barcelona punya talenta hebat di semua lini. Mari kita telaah lebih lanjut.
Cristiano Ronaldo akan beroperasi di sayap kanan, sedangkan Lionel Messi di kiri. Wayne Rooney bakal menjadi ujung tombak United, sementara Samuel Eto’o menjalankan peran yang sama untuk Barcelona.
Anderson melakukan tusukan ke jantung pertahanan dan Paul Scholes dengan kecerdikannya bakal menjadi otak di lini tengah Manchester. Sementara Xavi atau Andres Iniesta harus diwaspadai karena kerap menciptakan umpan-umpan akurat bagi Barcelona.
Jika kondisi fisik Nemanja Vidic pulih seratus persen, Manchester bakal punya tembok kokoh di barisan pertahanan. Jika tidak, kita akan melihat pertandingan klasik, terlepas dari masalah yang mendera Barcelona di turnamen domestik dan fakta menyedihkan mengenai hilangnya ikatan cinta antara Barca dengan Ronaldinho.
Inti Liga Champion
Sungguh disayangkan partai itu tidak akan digelar di Moskow pada Mei mendatang. Duel Barcelona melawan Manchester United akan menjadi mahakarya luar biasa.
Pertarungan keduanya merupakan inti dari Liga Champion. Ya, Barcelona versus Manchester United merupakan adu kehebatan antara dua kekuatan dahsyat Eropa.
Di sisi lain, kebangkitan Premier League tampaknya membuat UEFA takut. Pasalnya kini hanya dua atau tiga dari 52 negara anggota UEFA saja yang mampu mendominasi Liga Champion.
Musim lalu, AC Milan sukses membawa pulang trofi Liga Champion tanpa mencoba menjuarai kompetisi Serie A. Barcelona meraih gelar juara satu musim sebelumnya. Tepatnya ketika Ronaldinho masih punya semangat membara seperti yang dimiliki Lionel Messi dan dua bocah fantastis, Bojan Krkic dan Giovani, saat ini.
Kelincahan pemain Amerika Latin dalam balutan kostum klub Eropa memang selalu menjadi aksi sensasional. Sebagaimana ayah kita memberi tahu betapa hebatnya Alfredo Di Stefano berkolaborasi dengan Ferenc Puskas dalam seragam putih kebanggaan Real Madrid.
>> Kembali ke Atas
Uang yang Menggelikan
Waktu terus berjalan. Inggris kembali menjadi penguasa. Namun, dominasi Inggris yang terjadi akhir-akhir ini tidak lebih dari sekedar uang, uang, dan uang.
Saya sengaja mengulang kata uang sebanyak tiga kali karena bagi saya sungguh menggelikan jika turnamen bergengsi seperti Liga Champion bisa meloloskan tiga klub yang berasal dari satu negara hingga babak empat besar.
Tentu saja saat ini ada jutaan penonton televisi yang menjadi pendukung fanatik salah satu dari empat klub yang selama bertahun-tahun menjadi penghuni the big four Premier League. Para penggila sepakbola tersebut rela merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk menyaksikan penampilan klub-klub tersebut.
Sadarlah bahwa uang yang selama ini kalian bayarkan hanya akan membuat klub-klub tersebut lebih kaya dari tahun ke tahun. Anda dan para suporter di sekitar 200 negara membuat klub-klub Inggris mampu membeli pemain bertalenta dari seluruh penjuru dunia.
Dengan kata lain, berkat kontrak hak siar televisi termahal, klub-klub itu punya kemampuan untuk memiliki sumber daya pemain yang ada di muka bumi ini
Tidak ada lagi yang namanya tim Inggris di klub Premier League. Kami memang punya tim asli Inggris. Namun, ironisnya pasukan The Three Lions bahkan tidak mampu untuk meraih tiket menuju putaran final Piala Eropa 2008.
Tidak. Sekali lagi, saya tidak termasuk ke dalam golongan yang menentang adanya interaksi legiun asing dengan semangat untuk berlari ke seluruh penjuru lapangan dan berjuang yang menjadi ciri khas pemain Inggris di Premier League.
Sungguh, sejujurnya saya merasa sedih melihat Arsenal tidak berhasil lolos ke semifinal Liga Champion. Walau The Gunners nyaris tidak diperkuat oleh bintang lokal, anak buah pelatih Arsene Wenger itu selalu menyuguhkan gaya bermain ala Inggris paling murni ketimbang Manchester United, Chelsea, atau Liverpool.
Citra Gerrard
Sayang, Arsenal kehabisan energi karena punya jumlah amunisi yang terlalu sedikit. Akibatnya Liverpool pun berhasil menggebuk mereka tanpa harus mengalami kesulitan.
Namun, sejujurnya saya hanya punya sedikit petunjuk apakah Liverpool, yang didanai pengusaha asal Amerika, akan berlaga di Moskow? Atau mungkin Chelsea, yang dimiliki pengusaha asal Rusia, yang lebih berpeluang untuk bisa unjuk gigi di laga pamungkas?
Kedua kubu punya sederet pemain berkualitas. Fakta itu tidak perlu diragukan lagi.
Sebagian besar penghuni Liverpool atau Chelsea bukan pemain asli Inggris. Namun, masyarakat Inggris masih bisa berbangga hati melihat penampilan Steven Gerrard.
Mungkin tidak ada pemain yang mampu menampilkan citra kebanggaan orang Inggris sebaik Gerrard.
Namun, metode yang diterapkan kedua klub lebih bersifat pragmatis. Berbeda 180 derajat jika dibandingkan dengan Manchester United.
Demi kualitas sepakbola, Manchester United atau bahkan Barcelona lebih pantas untuk ambil bagian dalam petualangan di kompetisi antarklub terbaik di dunia.
Mungkin pada saatnya nanti, UEFA akan menggunakan sistem unggulan guna mencegah satu liga mendominasi Liga Champion.
Kontradiksi Awal Babak
Barcelona memiliki tendensi untuk memulai pertandingan dengan kecepatan tinggi. Entah itu di awal babak pertama atau setelah jeda. Apalagi saat Azulgrana tampil di Camp Nou, yang jika seluruh tiketnya terjual ludes, bakal menampung lebih dari 98.000 pendukung.
Tujuannya jelas: memberi terapi kejut bagi lawan yang datang bertamu. Kebiasaan ini terbukti ampuh dan itu terefleksi dalam gol yang mereka ciptakan selama kampanye LC musim ini. Masing-masing empat gol mampu dilesakkan Barca pada 15 menit awal babak I dan babak II.
Hingga perempatfinal II kontra Schalke, The Catalans juga membuktikan bahwa dengan mencetak gol antara menit 0-15 dan dalam rentang menit 46-60, kemenangan bisa dijamin. Setidaknya delapan kemenangan mereka ditentukan oleh terciptanya gol-gol di awal babak.
Anomali terjadi pada kemenangan melawan VfB Stuttgart, di mana Barca menang 3-1 meski wakil Jerman itu yang mencetak gol pada menit ke-3. Namun, ini sulit dijadikan acuan lantaran saat itu Barca sudah lolos ke 16 besar.
Selain itu, Barca juga mempertahankan grafik saat Eto’o mencetak gol pada menit ke-57. Artinya tren untuk menang jika mampu mencetak gol di awal babak II tetap bisa dipakai sebagai pembenaran hipotesis.
Perbandingan di kancah domestik juga bisa dipakai. Dalam situasi mencetak gol lebih dulu, tendensi Barca untuk keluar sebagai pemenang cukup signifikan. Dari 22 percobaan, skuad Frank Rijkaard ini berhasil menang 16 kali, seri empat kali, dan hanya kalah sekali.
Meski demikian, gol di awal juga memunculkan kontradiksi tersendiri bagi Carles Puyol dkk. Rekor akan berbalik 180 derajat jika mereka tak mampu atau bila lawan yang justru membuat gol pada awal babak pertama. Hasil imbang menjadi ganjaran saat lawan Barca tak bisa mengoyak gawang Rangers di awal babak ini.
Di Primera rekor ini semakin nyata tak bersahabat. Memang jarang lawan bisa mencetak gol duluan. Hanya ada tujuh kesempatan. Namun, kalau sampai muncul kondisi seperti ini, kans Barca untuk menang sangat tipis. Terbukti Barca cuma menang sekali, imbang dua kali, dan kalah empat kali. (shr)
No comments:
Post a Comment