Tetap Tuntut Merdeka

*TPN/OPM Perwakilan di Vanimo Minta Dialog
JAYAPURA- Perwakilan Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) di Vanimo, Papua New Guine (PNG) minta dialog dengan DAP, Ketua DPRP John Ibo dan Ketua MRP Agus Alua serta Gubernur Papua Barnabas Suebu.
Hal tersebut terungkap dalam dialog antara Perwakilan TPN/OPM Markas Victoria di PNG dengan para tokoh agama, masyarakat, BEM ( Badan Eksekutif Mahasiswa) dan Kontras di Aula Makorem 172/PWY, Sabtu (19/4).
Pertemuan Sabtu (19/4) itu, merupakan pertemuan kedua atau lanjutan dari pertemuan pertama yang digelar 24 Maret lalu di Korem dan dihadiri 7 orang tokoh TPN/OPM termasuk Jor Kogoya dan Alex Mebri. Hasil pertemuan tersebut, pada prinsipnya mereka menyambut baik apa yang sudah dilakukan Pemprov Papua terbaik dengan pembangunan yang dilakukan. Namun begitu, dalam uneg-unegnya itu, mereka tetap menuntut kemerdekaan West Papua atau Republik Papua Barat. Tuntutan mereka itu sudah merupakan harga mati, yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Itu, berdasarkan pandangan dari sudut perjuangan dan sejarah di Papua yang dianggap keliru oleh mereka.
Selain itu, tuntutan merdeka yang diperjuangkan mereka itu akibat ketidaktahuan situasi dan kondisi pembangunan serta sistem pemerintahan yang berlaku di Provinsi Papua pasca diberlakukannya Otonomi Khusus. Sebab, mereka bergabung dengan TPN, sebelum diberlakukannya UU Otsus.Selama ini, mereka membandingkan bahwa PNG tidak lebih maju dari Papua karena sistem pemerintahannya yang dipimpin oleh seorang Perdana Menteri, sedangkan di Indonesia adalah sebuah Negara Republik yang dipimpin oleh seorang Presiden. Seperti dikatakan Yor Kogoya, sekarang ini orang Papua banyak menipu rakyat termasuk dirinya yang berjuang di hutan dengan alasan dan mengatasnamakan OPM. Mereka banyak bepergian ke Jakarta dan Luar Negeri dengan alasan untuk kepentingan perjuangan TPN/OPM.
" Kami harus mencari kejelasan pihak-pihak yang memanfaatkan kami. Ini hanya bisa dilakukan dengan pertemuan yang lebih besar dengan melibatkan Gubernur, John Ibo dan Agus Alua, agar tidak ada anggapan bahwa pejabat pemerintah yang telah memanfaatkan kami," ujarnya.Tidak jauh beda dikatakan Alex Mebri. Mereka menilai selama ini para pejabat daerah tidak pernah memperhatikan mereka atau mendekati mereka untuk diajak dialog. Selama ini yang selalu mendekati adalah TNI saja.
" Seharusnya pejabat daerah seperti John Ibo yang harus mendekati kami, karena mereka inilah yang memegang otonomi. Dari tahun 1961 sampai saat ini kami OPM yang paling banyak berjuang dan banyak jatuh korban. Makanya kami inilah yang harus menuntut bagaimana penyelesaiannya, " jelasnya.
Menurutnya, pihaknya mau kembali ke NKRI, tapi dengan catatan masalahnya harus dituntaskan dulu. Jika lembaga yang ada di Papua tidak bisa menyelesaikan masalahnya, dirinya minta para pejabat di daerah jangan membuat rakyat Papua sengsara, karena OPM ada dibarisan depan rakyat Papua. Dialog yang berlangsung empat jam mulai pukul 14.00 dan berakhir pukul 18.00 WIT, sempat tegang. Dua tokoh masyarakat dan Agama Papua, Ramses Wally dan Pendeta Alexander Maury sempat ditentang Jos Kogoya. Dia menilai, kedua tokoh tersebut ikut menipu rakyat.
Kejadian itu bermula saat Jos Kogoya dan Prissila Takadewa mempertanyakan Pepera yang tidak dilakukan one man one vote ( satu orang saty suara). Mereka menilai, Pepera merupakan paksaan dan tidak sah, karena tidak melibatkan seluruh rakyat Papua.
Nah, disaat Rames Wally dan Pendeta Alex Mebri mengatakan bahwa dalam pemerintahan adat tidak ada mengenal one man one Vote, tapi setiap masalah diputuskan dalam musyawarah di para-para adat, saat itulah Jor Kogoya dengan lantang mengatakan " kamu yang tipu" kami.
Namun, saat diberikan penjelasan secara gamblang secara berulang-ulang, dari pendeta Servara yang juga mantan TPN/OPM, akhirnya mereka memahami. Pada prinsipnya mereka mengakui bahwa dirinya sama sekali tidak mengerti dan memahami sejarah Pepera, Resolusi PBB no 2504 dan New York Aggrement. Apa yang didapat selama ini mengenai Pepera, hanya diperoleh atau berdasarkan cerita dari orang tuanya yang sudah puluhan tahunan berjuang menunut merdeka di hutan.Dalam kesempatan ini, Jor Kogoya kembali menegaskan, untuk minta dialog dengan DPRP, MRP, DAP termasuk minta dihadirkannya Frans Yoku dan Nicolas Messet. Sebab, pihak-pihak ini dianggap ikut menipu rakyat, bahkan dirinya termasuk orang yang dijadikan alat/objek untuk kepentingan mereka.
"Mereka ini yang selalu menghasut rakyat untuk minta referendum, hingga kami yang menjadi korban. Mereka harus ikut bertanggungjawan karena telah menipu kami. Jika Otsus merupakan langkah baik untuk mensejahterakan rakyat, mengapa kami tidak diberi pemahaman yang baik. Otsus itu untuk siapa, saya tidak tahu,"paparnya. Meski apa yang diperjuangkannya selama ini salah dan sia-sia, dirinya bersama anggotanya belum bisa memutuskan untuk kembali ke NKRI, dan masih tetap berjuang untuk kemerdekaan Republik Papua.
Alasannya, organisasi TPN/OPM bukan hanya dirinya, tapi ada di berbagai daerah. Sehingga untuk memutuskannya, terlebih dahulu harus ada pertemuan antara semua kekuatan TPN/OPM. " Kami dan anggota saya tidak bisa putuskan apakah saya harus kembali ke NKRI atau tetap berjuang. Sebab, kami ini hanya Perwakilan, bukan markas pusat," tandasnya. Di tempat yang sama Danrem 172/PWY Kolonel Kav Burhanuddin Siagian mengatakan, pihaknya menfasilitasi pertemuan antara tokoh-tokoh TPN/OPM dengan tokoh-tokoh masyarakat, adat, agama dan Kontras itu, karena TPN/OPM itu bukankah musuh TNI, melainkan bagian dari saudara-saudara sebangsa yang belum sepaham dengan saudara-saudara lain.
" Tugas kami adalah menyadarkan mereka agar bisa sepaham dan sepandangan dengan kita. Mereka juga harus diberikan pemahaman yang benar bahwa apa yang diperjuangkannya selama ini salah dan sia-sia. Sebab, sampai kapan pun yang namanya minta merdeka tidak akan dikasih," tegasnya. Danrem menambahkan, sebenarnya mereka ini hanyalah korban dari hasutan pihak-pihak tertentu yang membuat mereka masih tetap berjuang di hutan-hutan. Contohnya, soal Pepera. Sesuai pemahaman yang mereka terima, seolah-olah pepera itu merupakan rekayasa Indonesia untuk menjajah Papua.
Buktinya, setelah mereka diberikan pemahaman yang baik dan benar, mereka baru tahu dan sadar bahwa selama ini mereka hanya korban penipuan dan hasutan pihak-pihak tertentu. Seperti diketahui, alam dialog yang difasilitasi Danrem 172/PWY Kolonel Kav Burhanudian Siagian, pihak TPN/OPM Perwakilan Vanimo PNG dihadiri 23 orang, diantaranya 'Letkol' Jor Kogoya ( Panglima Kodak Wilayah Bewani PNG), Alex Mebri Panglima TPN/OPM Mamta ( Mambramo dan Muara Tami), Welly Wenda ( penasehat Matias Wenda), Prisilah Takadewa, tokoh perempuan TPN/OPM pengibar bendera bintang kejora di Kantor Gubernur 1988, dan 'Mayor' Arnold Ab ( Danyon TPN/OPM wilayah Vanimo, PNG). Sementara, anggota lainnya yang hadir adalah TPN/OPM berpangkat 'kapten' dan 'Mayor' yang memiliki jabatan setingkat Kompi dan Pleton, bahkan empat diantara mereka adalah perempaun.
Sebelum dijemput anggota Korem dan pihak mediatior di daerah perbatasan, 23 anggota TPN/OPM tersebut harus berjalan selama sehari penuh dari Bewani, PNG untuk menuju perbatasan Wutung. Awalnya, keinginannya untuk pergi ke perbatasan, sempat dihalang-halangi bahkan sempat dikejar-kejar oleh polisi PNG. Akhirnya, usahanya untuk pergi ke perbatasan berhasil setelah dibantu salah satu anggota polisi setempat. Yang menarik dari mereka, tujuh anggota TPN/OPM tidak bisa berbahasa Indonesia, kecuali bahasa Inggris Fiji. Mereka tidak berbahasa Indonesia, karena mereka lahir di sana. Orang tua mereka ini adalah TPN/OPM yang melakukan pelarian ke PNG dan meninggal di sana. Untuk menyampaikan uneg-unegnya, mereka harus dibantu oleh Prisilah yang fasih berbahasa Fiji.(mud
Upeti Bintan ke Senayan
Sepuluh tahun reformasi, kita seolah-olah menyaksikan sesosok makhluk asing di Senayan. Ototnya menggelembung nyaris sempurna, sorot matanya mencerminkan percaya diri luar biasa. Berumah di gedung jangkung yang belakangan terasa semakin tak ramah, Dewan Perwakilan Rakyat telah bermetamorfosis menjadi sebuah kekuatan nyaris tak terbendung.
Lalu berlakulah perkataan Lord Acton yang biasa dipakai untuk menyimpulkan konsentrasi sebuah kekuasaan: power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely. Badan legislatif itu memiliki perlindungan konstitusional yang membuatnya mustahil dibubarkan presiden. Dia kekuatan menentukan dalam mengesahkan undang-undang, juga dalam memutuskan siapa yang pantas dinobatkan sebagai hakim Mahkamah Agung, duta besar, gubernur bank sentral, dan puluhan hak lagi—tak terkecuali hak mengatur jangkauan wewenangnya sendiri.
Dan sekonyong-konyong, di mata sebagian anggotanya yang bernaluri dagang, aneka perangkat demokrasi—desentrali sasi misalnya—menjadi ”peluang bisnis” yang tidak mungkin disia-siakan. Siapa pun tak bisa menyangkal bahwa dunia di luar Gedung Bundar di Senayan itu penuh iming-iming. Selalu ada pengusaha atau eksekutif yang berusaha menyelaraskan produk Dewan dengan kepentingannya, dan untuk itu mereka bersedia membayar sangat mahal.
Ya, ironis sekali, sepuluh tahun reformasi, trio korupsi-kolusi- nepotisme yang pernah menjadi ”musuh bersama” semua elemen pro-reformasi itu tumbuh hampir tanpa kendali. Dua pekan terakhir, seorang anggota Dewan dan pejabat sebuah kabupaten meringkuk di tahanan kepolisian Ibu Kota karena dugaan penyuapan. Ada sejumlah uang di tangan anggota Dewan ini, juga di dalam mobilnya. Keduanya, Al-Amin Nasution dari komisi yang mengurus status hutan di lembaga legislatif itu, dan Azirwan dari Pemerintah Daerah Bintan, diduga berkolusi. Diperkirakan Azirwan memberikan upeti kepada Al-Amin yang berjasa melebarkan jalan dalam mengubah status hutan lindung di Bintan menjadi hutan tanaman industri. Al-Amin dari Partai Persatuan Pembangunan bertugas di komisi yang, bersama Menteri Kehutanan, mempunyai wewenang mengubah status itu.
Sebenarnya ada mekanisme kontrol internal yang sedikit bisa menghambat kolusi semacam ini dan terjadi dalam kasus Bintan. Itu bukan produk hukum, melainkan sesuatu yang lahir dari konflik politik. Itu efek samping sistem multipartai, sistem yang menghasilkan heterogenitas sekaligus keragaman kepentingan anggotanya. Indikasi pertama kemungkinan kolusi ini muncul dari sesama anggota Dewan. Djalaludin As-syatibi, politikus dari Partai Keadilan Sejahtera, yang bekerja dalam komisi yang sama dengan Al-Amin, melaporkan: ia telah menerima beberapa amplop uang dalam kunjungan kerjanya ke Bintan akhir tahun lalu. Laporan ini kemudian disampaikan ke Komisi Pemberantasan Korupsi, dan melalui badan inilah kasus Al-Amin terkuak.
Itulah kontrol internal yang tentu saja tidak bisa diharapkan bekerja efektif dalam segala kondisi. Waktu itu As-syatibi sendiri baru sebulan bekerja di komisi Al-Amin. Dia mengaku bingung; tak paham apakah kejadian yang baru dialaminya merupakan kebiasaan lama di komisi itu atau hanya menimpa dirinya. As-syatibi memilih berterus terang. Tapi pelajaran dari perkembangan ini adalah persamaan dan perbedaan kepentingan di antara anggota Dewan bisa menghasilkan konflik, bisa juga kerja sama. Dengan kata lain, bisa jadi sebuah kartel lahir dari tarik-ulur kepentingan ini.
Lantas apa yang mesti dilakukan untuk mengerem penyelewengan ini? Tentu organisasi non-pemerintah, organisasi massa, media massa, dan segenap kekuatan masyarakat berkewajiban meluruskan penyalahgunaan wewenang itu. Tekanan melalui demonstrasi, penerbitan, dan cara demokratis yang lain akan mengingatkan anggota Dewan akan satu hal. Bahwa sebelum sampai ke tangan partai-partai, mandat kekuasaan lewat pemilihan umum itu berasal dari rakyat, dan mereka harus menghentikan kegiatan yang melukai perasaan masyarakat pemilih.
Bermacam kontrol bisa dilakukan. Komisi Pemberantasan Korupsi, yang patut mendapat pujian sebagai pembongkar kasus Bintan, bisa lebih agresif menyorot para wakil rakyat. Komitmen lebih serius partai politik, misalnya dengan melakukan recall terhadap anggota yang terlibat, perlu terus dijaga. Dengan begitu, peradilan terhadap pelaku penyelewengan bisa dilakukan, umpamanya dengan menerapkan asas pembuktian terbalik bagi mereka yang dicurigai. Tapi yang paling menentukan adalah kesadaran anggota Dewan sendiri. Mereka harus menciptakan akses yang memungkinkan masyarakat mengontrol sepak terjangnya. Ini penting untuk menolong anggota Dewan sendiri: menghapus citra buruknya belakangan ini.
Proyek Sulap Bertabur Amplop
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Al-Amin Nasution, ditangkap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi dua pekan lalu. Dia diduga menerima suap dari Azirwan, Sekretaris Daerah Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, yang juga Komisaris Utama PT Bintan Inti Sukses. Azirwan ikut ditangkap bersama Al-Amin.
Diduga uang itu diberikan guna mempermulus proses alih fungsi 8.300 hektare hutan lindung di Bintan. Kawasan tersebut akan disulap menjadi ibu kota kabupaten dan kawasan bisnis raksasa. Proyek besar itu melibatkan konsorsium perusahaan wisata dari negeri Singapura dan seorang pengusaha di Jakarta. Total proyek Rp 13 triliun.
Dari Bintan, Tempo melaporkan sebagian hutan lindung itu sudah digarap terlebih dulu sebelum lembaga legislatif memberi restu, 9 April lalu. Sejumlah gedung bertingkat sudah berdiri di sana.
Bagaimana silang-sengkarut proyek ini? Dan betulkah cuma Al-Amin yang diduga ”berselingkuh?” Sejumlah sumber Tempo menuturkan dua anggota Dewan lainnya hadir di Ritz-Carlton pada malam ketika Al-Amin dibekuk. Inilah kisah lengkapnya
----------
Singapura Melarang Penjualan Keju Mozzarella
[SINGAPURA] Singapura melarang penjualan semua jenis keju mozzarella yang terbuat dari susu kerbau, setelah Italia pada Jumat (28/3) memerintahkan penarikan produk tersebut. Penarikan itu terkait dengan dugaan kandungan dioxin penyebab kanker dalam keju tersebut.
Badan Pangan Pertanian dan Hewan Singapura (AVA) telah menghentikan semua penjualan yang telah dites di laboratorium sebagai langkah pencegahan.
Seperti dilaporkan Reuters, Sabtu (29/3), impor terakhir dari keju kerbau mozzarella Italia ke Singapura pada 6 Januari, tapi karena informasi yang terbatas, keju impor tersebut belum jelas statusnya dan baru diputuskan kemudian.
Kementerian Kesehatan Italia pada Jumat mengatakan, telah menarik produk dari 25 perusahaan di wilayah Campania , di mana produk ini dibuat. Bahkan, Perancis sebelumnya ini juga melarang penjualan keju produk Italia ini.
Namun, Prancis menarik kembali larangan tersebut setelah ada jaminan dari Italia bahwa tidak ada keju yang diekspor ke Prancis.
Sedangkan, Jepang dan Korea Selatan sudah memblokir impor produk itu.
Uni Eropa
Sementara di Brussel, Belgia, dilaporkan spektral dari kelangkaan makanan baru, mulai terdengar di Eropa pada Kamis (27/3) ketika Italia menghadapi kemungkinan larangan Uni Eropa (UE) pada impor keju mozzarella karena dioxin tingkat tinggi pada susu yang terkandung di dalamnya. UE mengingatkan Italia bahwa UE dapat mengikuti Jepang dan Korea Selatan untuk melarang.
Setelah pukul 18.00 waktu setempat, batas waktu yang diberi untuk Italia agar menyediakan informasi lengkap, badan eksekutif UE meminta tindakan mendesak dan peringatan untuk langkah "Komisi percaya bahwa ukuran yang dipakai tidak cukup untuk meyakinkan bahwa produk yang tidak terkontaminasi dapat memasuki pasar," demikian salah seorang pejabat UE Kamis.
Italia memproduksi 33.000 ton mozzarella per tahun, 80 persen di antaranya dibuat di Campania , di mana seperempat dari jutaan kerbau di wilayah itu diternakkan untuk produksi susu. [Rtr/AFP/MRS/ M-15]
Menggila Menjelang Akhir
Di arena Premier League, Manchester United dikenal ganas dalam mengawali sebuah pertandingan. Pengambilan inisiatif serangan sejak menit awal memang biasa dilakoni Wayne Rooney dkk. Tak peduli apakah laga kandang atau tandang.
Sepanjang musim kompetisi 2007/08 ini, telah terjadi 27 situasi di mana United mampu menggetarkan jala musuh lebih dulu. Hasilnya? Bisa dikatakan mencengangkan karena Fergie’s Babes berhasil memetik 23 kemenangan, satu seri, dan hanya kalah sekali.
Dalam persentase, jumlah itu mencapai 80%. Distribusi gol United di rentang ini juga terbilang ciamik. Pasukan ofensif Old Trafford tersebut mampu memasukkan 64 gol dan cuma kebobolan 11 gol! Rasanya gila jika kita tak menganggap surplus 53 gol ini mencengangkan.
Uniknya, hujan gol United jarang muncul pada menit-menit awal. Dalam 10 bentrokan di panggung LC, mulai fase grup hingga perempatfinal, tercatat hanya sekali Red Devils menyoyak jala musuh dalam 15 menit pertama. Ini terjadi lewat gol Rio Ferdinand ketika mereka bertamu ke Dynamo Kyiv.
Kaki dan kepala para pemain Setan Merah justru menggila saat wasit siap meniupkan peluit tanda jeda atau peluit tanda bubar. Lima kali United sukses menjebol gawang lawan di antara menit 31-45 serta empat di antara menit 76-90.
Ini jelas membuktikan kepiawaian juara Eropa dua kali itu dalam mengoptimalkan lawan, yang mulai mengalami penurunan konsentrasi. Biasanya kuda-kuda lawan memang kerap melemah tatkala peluit tanda istarahat sudah di depan mata.
Fokus pemain yang mulai siap-siap menyambut berakhirnya waktu normal juga sering melorot. Di momen-momen krusial inilah United justru menggandakan konsentrasi mereka dan mengintensifkan serangan secara sporadis. Strategi ini terbayar lunas mengingat sembilan kali mereka berhasil menjebol gawang lawan.
Untuk mencari kebiasaan bobol, terutama di LC, bisa dibilang agak sulit. Soalnya lima gol yang masuk ke gawang United tersebar di lima durasi waktu berbeda. Masing-masing gol lahir di rentang menit 16-30, 31-45, 46-60, 61-75, dan 76-90.
Kesimpulannya: United paling kuat justru pada 15 menit pertama karena tak ada satu lawan pun yang bisa menceploskan bola di masa ini. (shr)
Barcelona vs Man. United
Camp Nou (23/4)
------------------------------
Upaya Membalikkan Opini
Hingga kapan pun, Camp Nou akan selalu lekat di hati para pendukung fanatik Manchester United. Wajar, pada Mei 1999 lalu, di kandang Barcelona itu, Red Devils memastikan label juara Eropa yang sekaligus melengkapi musim treble winner mereka.
Pada Rabu (23/4), Sir Alex Ferguson akan membawa kembali pasukannya ke ibu kota Catalonia berjuluk teater sepakbola dunia itu. Aroma kesuksesan sembilan tahun silam itu pun ikut diseret, terutama oleh media yang berbasis di daratan Inggris Raya.
Tapi, yang sedikit dilupakan, adalah kenyataan bahwa kali ini lawan yang akan dihadapi di semifinal I Liga Champion ini adalah si empunya stadion. Bukan Bayern Muenchen, raksasa Jerman yang mereka kalahkan lewat dua gol injury time Teddy Sheringham dan Ole-Gunnar Solskjaer.
Pada kompetisi musim ini, yang melibatkan tim-tim terbaik Benua Biru tersebut, gawang Barca baru kebobolan sekali. Itu pun ketika langkah menuju babak knock-out sudah mereka kantongi. Selain itu, di laga home Primera Liga 07/08, jala Azulgrana juga paling jarang bergetar, sembilan kali.
Artinya, United butuh ekstra tenaga untuk memaksa Victor Valdes memungut bola dari dalam gawangnya, kendati di sisi lain rekor away mereka terbukti mengkilap. Cristiano Ronaldo tak boleh menyamakan kesuksesan saat bertamu ke Roma, Lisbon, dan Kyiv, sebagai perbandingan.
Di tengah perjalanan yang bergerinjal di Primera, Barca jelas bukan lawan enteng tatkala tampil di Eropa. Xavi Hernandez memastikan hal ini. “Semua pemain tampak sangat fokus ke LC. Kami akan mencapai target jika menjadi juara di sini,” ujar sang playmaker di situs resmi klub.
Optimisme Xavi berbanding sejajar dengan Ricardo, kiper Osasuna yang sempat membela Setan Merah. “Manchester United jelas tidak sesuperior itu di hadapan Barcelona, seperti yang dikatakan orang. Barca mungkin tidak konsisten di liga, tapi potensi mereka terbukti dahsyat di LC,” kata Ricardo.
Dalam kolom yang dikelolanya di harian El Periodico, Johan Cruyff juga melihat tidak adanya kebenaran dalam hal dominasi ini. “Tak ada penjelasan yang bisa membenarkan hal ini. United memang tim terkuat di antara klub Inggris lain, tapi Blaugrana jelas terkuat di semifinal,” begitu ucapnya.
Hindari Agresivitas Berlebih
Opini publik soal dominasi calon kuat juara Premier League itu kadung terbentuk melihat kesuksesan United belakangan ini. Ya, mereka memenangi tujuh dari delapan partai terakhir di seluruh kompetisi. Satu laga lagi berujung seri. Enam di antara kemenangan ini dilewati dengan clean-sheet.
Sebaliknya, Lionel Messi dkk. melalui 12 bentrokan dengan hanya memetik empat nilai penuh. Sisanya berakhir dengan empat hasil imbang dan juga empat kekalahan! So, memang ada alasan kuat di balik anggapan publik akan superioritas United atas Barca.
Bagi kedua pelatih, kini waktunya menyiasati coret-coretan di atas kertas tersebut. Rijkaard jelas punya obligasi untuk menang yang jauh lebih besar. Selain faktor kebanggaan yang tinggal tersisa di LC, hasil bagus di 1st leg ini bisa menjamin kelolosan menuju empat besar.
Kuncinya, Barca tak boleh bermain terlalu agresif dengan menyerang membabi-buta sejak wasit meniupkan peluit awal. Soalnya, United justru bertahan lebih ketat di partai away dan akan melancarkan serangan balik kilat lewat kombinasi maut Ronaldo, Wayne Rooney, maupun Carlos Tevez.
“United adalah tim yang sangat bagus karena dihuni pemain-pemain bagus. Hampir sulit mencari kelemahan mereka. Tapi, jika kami berada pada kondisi puncak, kami akan menjadi tim yang sangat tangguh dan bakal menyulitkan United,” ujar Lionel Messi pada El Mundo. (Sapto Haryo Rajasa)
PRAKIRAAN FORMASI
---------------------------------------
BARCELONA (4-3-3) 1-Valdes; 11-Zambrotta, 5-Puyol, 3-Milito, 22-Abidal; 6-Xavi, 24-Y. Toure, 7-Gudjohnsen; 19-Messi, 9-Eto’o, 27-Bojan Cadangan: 13-Pinto; 4-Marquez, 21-Thuram, 16-Sylvinho, 20-Deco, 10-Ronaldinho, 14-Henry. Pelatih: Frank Rijkaard (Bld)
MAN. UNITED (4-4-2) 1-Van der Sar; 6-W. Brown, 22-O’Shea, 5-Ferdinand, 3-Evra; 7-Ronaldo, 4-Hargreaves, 18-Scholes, 11-Giggs; 10-Rooney, 32-Tevez Cadangan: 29-Kuszczak; 19-Pique, 15-Vidic, 16-Carrick, 8-Anderson, 13-Park J.S., 17-Nani. Pelatih: Sir Alex Ferguson (Sko)
PRAKIRAAN PELUANG
---------------------------------------
Bet Brain
Barcelona Menang 2,36
Imbang 3,08
Man. United Menang 2,96
Soccerstats
Barcelona Menang 39%
Imbang 30%
Man. United Menang 31%
Interwetten
Barcelona Menang 2,30
Imbang 3,20
Man. United Menang 2,90
BOLA
Barcelona Menang 40%
Imbang 35%
Man. United Menang 25%
Andalkan Trisula
Frank Rijkaard bisa merotasi delapan pemain untuk mengisi pos trisula di depan. Sayangnya, Rijkaard tak punya kombinasi paten. Trio yang menghuni lini depan dalam skema 4-3-3 ini terus berubah hampir di setiap laga.
Kembalinya Ronaldinho dan Messi bisa menambah daya magis Barca di kedua sayap. Keduanya bisa bahu-membahu dalam menyokong Eto’o. Tapi, jika Dinho masih belum dipercaya main, Henry atau Bojan yang akan masuk.
Mengacu pada overall laga-laga Bara sepanjang musim, bisa dipastikan Rijkaard bakal kembali merumputkan komposisi 4-3-3. Kuartet bek akan diperkuat Zambrotta, Puyol, Milito, dan Abidal, di depan kiper Victor Valdes.
Di tengah, biasanya tiga pos gelandang diisi Yaya Toure, Xavi, dan Gudjohnsen. Tapi, jika Deco dan Iniesta sembuh tepat waktu, maka Barca punya kans untuk lebih menyulitkan Man. United lewat kekayaan kreasi serangan.
Yang patut dicatat, jika Barca tampil terlalu ofensif, United bisa menghukum mereka dengan serangan balik kilat andalan Old Trafford. (shr)
Speedy R&R
Berkaca pada empat pertemuan sebelumnya di Camp Nou, yang berujung dengan tiga kekalahan dan satu imbang, tampaknya Man. United tak akan mengumbar serangan sejak menit awal.
Sir Alex Ferguson ada kemungkinan besar akan memaksimalkan serangan balik, yang notabene merupakan keunggulan utama Red Devils. Lewat kecepatan R&R (Rooney dan Ronaldo), pertahanan Barcelona bisa dibuat kocar-kacir.
Kedua pemain ini pun lihai dalam mematahkan perangkap off-side, yang kebetulan menjadi salah satu kelemahan Barca. Duet muda ini juga bisa menghadirkan bencana bagi The Catalans jika menyerang dari kedua sisi lapangan.
Meski begitu, yang pasti sebelum terfokus dalam menggedor gawang Victor Valdes, United harus lebih dulu memastikan keamanan di lini belakang mereka sendiri. Pasalnya, Barca termasuk tim yang sangat agresif sekaligus paling sedikit kebobolan di kandang. (shr)
Liverpool vs Chelsea
Anfield (22/4)
------------------------------
Kenisbian Rumah Pertama
Liverpool dan Chelsea bagai berjodoh di Liga Champion. Untuk ketiga kalinya dalam empat tahun, mereka bertemu di semifinal. Mampukah Chelsea kali ini meraih keberuntungan kali ketiga dengan kondisi berbeda dari dua benturan sebelumnya?
Perbedaan duel kali ini adalah Anfield sebagai tuan rumah laga pertama. Jadilah pendukung kedua kubu menunggu apa yang terjadi di Merseyside pada Selasa (22/4) sebelum bertolak ke Stamford Bridge sepekan berselang.
Sebelum bertarung dengan situasi berbeda ini, pelatih Liverpool, Rafael Benitez, sudah mengungkapkan kenisbian faktor tuan rumah first leg. “Tak dapat dipastikan apakah lebih baik tampil di kandang lebih dulu,” ucap Rafa, yang membawa Steven Gerrard cs. dua kali melaju ke final dengan menekuk The Blues.
Hal senada juga dituturkan predator utama Si Merah yang juga menjadi salah satu distingsi karena baru bergabung musim ini. “Yang jelas akan lebih baik jika kami tak kemasukan gol,” tambah El Nino di Mirror.
Reds sadar betul mesti mendulang keunggulan besar di kandang, mirip kala mendepak Inter di 16 besar. Kesuksesan Reds menyingkirkan sesama Inggris lebih banyak disandarkan pada keuntungan sebagai tuan rumah laga kedua.
Well, kondisi memang terbalik kali ini. Yang lebih pasti, duel akan keras tergelar seperti pada dua semifinal sebelumnya meski total enam pertemuan Eropa kedua klub hanya menghasilkan tiga gol. Pemandangan semusim berpotensi menjadi indikasi yang tepat akan keketatan laga ini.
Beban Mourinho
Musim ini, Si Merah dan Si Biru telah bertemu tiga kali. Satu-satunya duel di Anfield berakhir imbang 1-1. Namun, Chelski mampu menang tiga kali dalam lima lawatan terakhir mereka ke Anfield. Dua laga di London berakhir dengan kemenangan The Blues dan satu kali seri.
“Luar biasa betapa seringnya kami berada dalam situasi ini. Kami tahu semuanya mengenai mereka dan mereka tahu segalanya tentang kami. Laga nanti akan ketat. Penting bagi kami memperlihatkan konsentrasi seperti saat menghadapi Fenerbahce,” sebut Frank Lampard.
Toh Chelski mungkin akan merasakan nasib seperti yang dialami Inter. Selain faktor keangkeran Anfield, mereka juga mulai goyah di luar rumah. Kekalahan dari Fenerbahce di Istanbul pada perempatfinal adalah kekalahan tandang pertama di yang diderita Chelsea musim ini di Liga Champion.
Absennya Michael Essien karena akumulasi kartu juga akan mengurangi ketangguhan tamu. Kekurangan ini membawa kita pada hal terakhir yang jadi pembeda, yakni Avram Grant. Arsitek asal Israel itu mendapat beban mesti lebih baik dari catatan pendahulunya, Jose Mourinho, yang sudah dua kali harus mengakui keunggulan Benitez di semifinal Benua Biru. (Christian Gunawan)
PRAKIRAAN FORMASI
---------------------------------------
LIVERPOOL (4-2-3-1) 25-Reina; 23-Carragher, 37-Skrtel, 4-Hyypia, 12-F. Aurelio; 20-Mascherano, 14-Alonso; 18-Kuyt, 8-Gerrard, 19-Babel; 9-Torres Cadangan: 30-Itandje, 3-Finnan, 6-Riise, 21-Lucas, 11-Benayoun, 10-Voronin, 15-Crouch. Absen: Kewell, Agger, Pennant* (cedera). Pelatih: Rafael Benitez (Spa).
CHELSEA (4-1-4-1) 23-Cudicini; 5-Essien, 6-Carvalho, 26-Terry, 3-A. Cole; 4-Makelele; 10-J. Cole, 13-Ballack, 8-Lampard, 21-Kalou; 11-Drogba Cadangan: 40-Hilario, 33-Alex, 18-Bridge, 35-Belletti, 12-Mikel, 24-Wright-Phillips, 39-Anelka. Absen: Cudicini (cedera); Essien (akumulasi kartu). Pelatih: Avram Grant (Isr).
Rotasi Alternatif
Di Liga Champion, perjudian bernama rotasi tetap tak segan dilakukan Rafael Benitez. Jamie Carragher digeser ke kanan. Untuk menemani Sami Hyypia, Rafa menempatkan Martin Skrtel. Kurang dikenalnya Skrtel oleh sesama tim Inggris memberikan keuntungan seperti saat melawan Arsenal.
Dua gelandang bertipe petarung menambah ketenangan bagi lini belakang dan sekaligus untuk tiga gelandang serang. Motor serangan tetap ada pada Steven Gerrard. Sudah bukan rahasia lagi kalau kesehatian Stevie G. dengan Fernando Torres adalah faktor utama ketajaman The Reds.
Benitez mesti mencari alternatif lain di luar rahasia umum tersebut. Kejutan itu bisa dihasilkan dari dua sayap. Dirk Kuyt sekali lagi melakoni tugas di kanan. Ryan Babel juga punya kapasitas merepotkan dengan kecepatannya dari sisi kiri. (chrs)
Pilihan Balla-Lamps
Lini belakang kuat tetap jadi andalan Chelsea. Kehadiran kembali Petr Cech dan adanya Claude Makelele sebagai pelakon tugas gelandang angkut air bisa memudahkan kerja pertahanan. Michael Essien bisa ditarik lebih ke belakang juga untuk membantu Chelski semakin defensif.
Grant juga tak bakal mengambil risiko kekurangan gedoran dari tengah dengan mencadangkan salah satu antara Frank Lampard atau Michael Ballack. Menduetkan keduanya di lini tengah sudah terbukti sebagai pilihan yang bagus.
Salomon Kalou juga masih dipercaya Grant. Namun, si pelatih bisa menempatkan sang forward di sayap kiri seperti yang beberapa kali terjadi di liga. Efeknya, Didier Drogba akan sendirian di depan. Namun, tanggung jawab besar seperti ini biasanya mengangkat semangat penyerang yang mobil ini. (chrs)
Sampai Titik Akhir
Liverpool, teristimewa di Liga Champion, dikenal sebagai tim yang ngotot sampai bunyi terakhir peluit, apalagi jika hidup-mati mereka dipertaruhkan. Jadilah periode menit-menit akhir menampilkan sensasi ala Reds.
Berkat delapan gol tanpa balas ke gawang Besiktas saat fase grup, Liverpool memiliki produktivitas mengesankan: 31 gol. The Reds juga terangkat berkat lima gol ke gawang Toulouse di kualifikasi III. Akan tetapi, “kegilaan” yang dibuat Liverpool tak sampai di sana.
Hampir separuh catatan tersebut, tepatnya 14 gol, tercipta pada 15 menit terakhir. Meski tiga di antaranya dihasilkan saat injury time, itu tentu tak menyurutkan opini bahwa juara lima kali ini menggila kala laga memasuki menit-menit pengujung. Menit ke-16 sampai 30 ada di tempat kedua dengan enam gol. Sisanya, mereka “hanya” membuat dua sampai tiga gol.
Kerap kali semangat besar itu terangkat setelah tertinggal lebih dulu. Ya, Si Merah bagai hendak memperlihatkan kekuatan mental hingga tetes darah terakhir. Hanya, periode buntut ini juga menjadi salah satu rentang yang rawan. Pada 15 x 60 detik terakhir itu, Si Merah menderita cukup banyak gol.
Tiga gol di periode itu menjadi yang terbanyak, sama seperti pada 15 menit pertama. Hanya, kekhawatiran lebih pantas diarahkan pada kuarter pertama. Liverpool beberapa kali mampu membalas gol lawan pada kuarter terakhir.
Kekhawatiran untuk menit-menit awal itu bisa diartikan Jamie Carragher dkk. kerap gugup di periode tersebut. Pekerjaan rumah ini mesti diselesaikan segera karena Chelsea sering langsung menggebrak sejak awal.
Jika hendak membandingkan dengan Chelsea, The Reds jelas unggul jauh dalam soal menciptakan gol. Chelsea dua kali lipat lebih sedikit. Namun, jumlah kemasukan klub Merseyside itu juga dua ratus persen dari catatan Chelsea. Pertahanan perlu berkonsentrasi sejak peluit pembuka berbunyi. (Christian Gunawan)
Kokoh-Gencar dari Awal
Jika Liverpool punya catatan oke dalam jumlah gol yang dicetak, Chelsea juga tapi dengan sisi berbeda. The Blues memang hanya membuat 15 gol atau hampir separuh dari perolehan Liverpool, namun mereka hanya kebobolan empat gol, setengah dari jumlah gol ke gawang The Reds.
Kebobolan empat gol itu jelas membuktikan pertahanan Chelski sangat kokoh. Konsentrasi paling tinggi klub London ini terletak pada lima belas menit sebelum dan sesudah jeda. John Terry cs. tak kemasukan pada setengah jam pertengahan itu.
Empat kuarter lain masing-masing memberikan satu gol ke gawang Si Biru. Patut pula diperhatikan dua gol terbaru yang diderita skuad Avram Grant terjadi saat bertandang ke markas Fenerbahce. Selain menjadi yang pertama musim ini, kekalahan tersebut juga adalah satu-satunya yang terjadi saat Chelsea mencetak gol lebih dulu.
Liverpool tampaknya akan paham tak boleh membiarkan Chelsea menguasai permainan sejak awal. Sepertiga koleksi gol The Blues tercipta pada 900 detik pertama. Produkstivitas pada lima belas menit kedua dan keempat juga termasuk oke, masing-masing tiga gol.
Namun, Chelsea perlu mewaspadai catatan mereka sendiri. Kemantapan di belakang beberapa kali bersanding dengan produktivitas minim. Musim ini, The Blues tiga kali mendapat skor kacamata dari 10 lakon. Dua skor 0-0 itu memang diraih di kandang lawan, tapi itu didapat dari tim yang terbilang lebih lemah.
Jumlah gol yang dibikin juga memperlihatkan ketergantungan lini depan pada sosok Didier Drogba. Striker pekerja keras ini menjadi pencetak gol terbanyak klub dengan sumbangan empat gol, tapi tidak diikuti torehan bagus penyerang lain.
Dari deretan striker, Andriy Shevchenko dan Salomon Kalou membantu dengan satu gol. Lini tengah malah lebih produktif dengan tujuh gol. Pencapaian ini sangat membantu ketika Drogba tengah mati kutu. Entah apakah resep tak kejebolan bisa terus menutupi lemahnya produktivitas. (chrs)
Inggris Kurang Kompetitif
Pada saat klub Inggris mendominasi semifinal Liga Champion, sebuah komentar unik dilontarkan striker andalan Liverpool, Fernando Torres. Menurutnya, Liga Inggris sebetulnya bukan kompetisi yang tingkat persaingannya merata.
“Empat klub teratas di Inggris dan Spanyol sama-sama hebat, tapi saya pikir klub papan tengah La Liga lebih kompetitif. Ada perbedaan yang terlalu besar di antara empat tim teratas Inggris dengan tim di bawah mereka,” ujar Torres pada Goal.
Apa yang dikatakan Torres cukup masuk akal. Bukti yang paling gampang adalah perbandingan konstelasi klasemen yang sekarang ada di Liga Inggris dan Spanyol.
Di Inggris, empat klub teratas memiliki keunggulan poin yang signifikan dibandingkan klub-klub di bawah mereka. Di Spanyol, posisi 4 besar yang akan memberikan tiket ke Liga Champion diperebutkan dengan sengit. Kondisi yang sama terjadi di Italia, yaitu persaingan di peringkat keempat.
Jarak antara empat tim teratas Inggris dan tim-tim di bawah mereka juga bisa dilihat di pentas Eropa. Manchester United, Liverpool, Chelsea, dan Arsenal melangkah jauh di Liga Champion. Tapi, di Piala UEFA, tidak ada wakil Inggris yang mencapai perempatfinal. Tottenham Hotspur, Bolton, dan Everton telah tersingkir di babak 16 besar.
Penyebab perbedaan kelas di antara klub-klub Inggris tak bisa jauh dari persoalan kekuatan keuangan. Dengan modal yang lebih mapan, bisa dimengerti Manchester United dkk. mampu menyusun skuad yang lebih kuat. (wid)
No comments:
Post a Comment