Wednesday, April 23, 2008

" Mana Yang Lebih Hebat? "




Kakek meletakkan surat kabar yang ia baca, kemudian menatapku melewati kaca mata plusnya yang tebal.

"Apa itu cerdas?" tanyanya.

"Pandai berpikir." jawabku.

Kakek mengangguk. "Lalu apa itu rajin?"

"Suka bekerja." jawabku lagi.

"Kemarilah." Ia melambaikan tangan agar aku duduk di sisinya. Aku mendekat dan duduk di kursi di sampingnya. Melihat dari dekat wajah kakek yang diukir guratan usia tua, dibingkai sepasang mata teduh yang menyimpan selaksa kebijaksanaan.


"Nah, sekarang katakan, apa yang kau naiki kemarin waktu menuju ke rumah kakek?"

"Mobil."

"Benar, mobil. Apa yang membuatnya bergerak?"

"Mm... Roda."

"Apakah roda hanya dapat melaju lurus ke depan?"

Aku menggeleng. "Tidak, roda dapat berbelok-belok. "

"Mengapa demikian?"

"Karena ada kemudinya." Jawabku lagi. Masih tak memahami apa hubungan semua ini dengan pertanyaanku tadi.

Kakek tersenyum.

"'Roda' adalah 'rajin', karena ia selalu bergerak. Itulah kewajibannya, pekerjaannya, tugas yang harus selalu ia lakukan. 'Kemudi' adalah 'cerdas', karena ialah yang berpikir, menentukan kemana roda harus berbelok, ke kanan, atau ke kiri."

"Berarti 'cerdas' lebih hebat, karena tanpa kemudi, roda tak dapat mengerti kemana harus mengarahkan lajunya!" Aku berseru.

"Begitukah? Jika tak ada roda apakah ia akan tetap hebat? Apa jadinya kemudi tanpa roda, apakah mobil tetap dapat melaju?" Kakek bertanya.

"Berarti... 'rajin' lebih hebat. Walaupun tanpa kemudi, ia masih dapat melaju." sahutku ragu-ragu.

"Dan membiarkan mobilnya menabrak segala sesuatu, karena tidak mengikuti alur jalan yang berliku?"

Aku memandang kakek.

"Cucuku... Keduanya tidak akan menjadi hebat, bila berdiri sendiri-sendiri, terpisah, tanpa mau bergabung. Karena kehebatan itu hanya muncul bila mereka saling mendukung dan bekerja sama. Kemudi yang menentukan arahnya, dan roda yang melajukan mobil sesuai tugasnya."

Kakek menatapku, "Kau tahu, apa yang membuat keduanya bekerja bersama?"

Aku menggeleng.

"Pengemudi mobilnya. Yang mengatur kemudi dan roda agar saling mendukung dan berjalan bersama. Bagaimana laju mobilmu, halus atau kasar, menabrak atau lancar, tergantung siapa yang duduk di tempat itu." jawab Kakek.


"Ia adalah hatimu." Telunjuknya terarah ke dadaku.


"Yang mengatur lajunya langkahmu. Dengannya kau memilih, apakah hanya menjadi cerdas, atau hanya menjadi rajin, atau memutuskan mendudukkan keduanya bersisian dan saling melengkapi satu sama lain.


Secerdas apapun seseorang, sebesar apapun idenya, tak akan berguna tanpa kerja keras yang mewujudkannya menjadi nyata.


Serajin apapun seseorang, bila itu dilakukan tanpa pemikiran, hasilnya hanya akan menjadi sia-sia."

Kakek menatapku dengan bijak.

"Jadi, menurutmu, mana yang lebih hebat, menjadi cerdas atau menjadi rajin?"

"Menjadi keduanya." Kataku mantap, dengan senyum lebar membalas senyumnya.



Did I Marry The Right Person? "

Dear All,

Hanya copas aja, semoga bermanfaat.. .


Posted on 17-04-2008 16:59

Quote
Cerita di bawah ini sangat bagus, bagi yang masih single maupun yang sudah menikah. Bagi mereka yang masih single bisa mengambil pelajaran dari cerita ini, dan bagi yang sudah menikah cerita ini bisa jadi guideline untuk meningkatkan ikatan pernikahan yang udah dijalani.

"Apakah saya menikah dengan orang yang tepat?"

Dalam sebuah seminar rumah tangga, seseorang audience tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sangat lumrah, "Bagaimana saya tahu kalo saya menikah dengan orang yang tepat?" Saya melihat ada seorang lelaki bertubuh besar duduk di sebelahnya jadi saya menjawab "Ya.. tergantung. Apakah pria disebelah anda itu suami anda?"

Dengan sangat serius dia balik bertanya "Bagaimana anda tahu?!"

"Biarkan saya jawab pertanyaan yang sangat membebani ini."

Inilah jawabannya…

SETIAP ikatan memiliki siklus.Pada saat-saat awal sebuah hubungan, anda merasakan jatuh cinta dengan pasangan anda. Telpon darinya selalu ditunggu-tunggu, begitu merindukan belaian sayangnya, dan begitu menyukai perubahan sikap-sikapnya yang bersemangat begitu menyenangkan.

Jatuh cinta kepada pasangan bukanlah hal yang sulit. Jatuh cinta merupakan hal yang sangat alami dan pengalaman yang begitu spontan. Nggak perlu berbuat apapun.. Makanya dikatakan "jatuh" cinta…

Orang yang sedang kasmaran kadang mengatakan "aku mabuk cinta". Bayangkan ekspresi tersebut! Seakan-akan anda sedang berdiri tanpa melakukan apapun lalu tiba-tiba sesuatu datang dan terjadi begitu saja pada anda. Jatuh cinta itu mudah. Sesuatu yang pasif dan spontan. Tapi…setelah beberapa tahun perkawinan, gempita cinta itu pun akan pudar. Perubahan ini merupakan siklus alamiah dan terjadi pada SEMUA ikatan. Perlahan tapi pasti.. telpon darinya menjadi hal yang merepotkan, belaiannya nggak selalu diharapkan dan sikap-sikapnya yang besemangat bukannya jadi hal yang manis tapi malah nambahin penat yang ada.

Gejala-gejala pada tahapan ini bervariasi pada masing-masing individu. Namun bila anda memikirkan tentang rumah tangga anda, anda akan mendapati perbedaaan yang dramatis antara tahap awal ikatan, pada saat anda jatuh cinta, dengan kepenatan-kepenatan bahkan kemarahan pada tahapan-tahapan selanjutnya.

Dan pada situasi inilah pertanyaan "Did I marry the right person?" mulai muncul, baik dari anda atau dari pasangan anda, atau dari keduanya.. Nah Lho!

Dan ketika anda maupun pasangan anda mencoba merefleksikan eforia cinta yang pernah terjadi, anda mungkin mulai berhasrat menyelami eforia-eforia cinta itu dengan orang lain. Dan ketika pernikahan itu akhirnya kanda. Masing-masing sibuk menyalahkan pasangannya atas ketidakbahagiaan itu dan mencari pelampiasan di luar. Berbagai macam cara, bentuk dan ukuran untuk pelampiasan ini, menginkari kesetiaan merupakan hal yang paling jelas. Sebagian orang memilih untuk menyibukan diri dengan pekerjaannya, hobinya, pertemanannya, nonton TV hingga merasa bosan, ataupun hal-hal yang menyolok lainnya.

Tapi tahu tidak?! Bahwa jawaban atas dilema ini tidak ada di luar, justru jawaban ini hanya ada di dalam pernikahan itu sendiri. Mencari pelarian?? Silahkan. Anda bisa! Bisa saja ataupun boleh saja anda mencari pelarian. Mungkin pada saat itu anda akan merasa lebih baik. Tapi itu bersifat temporer, karena setelah beberapa tahun anda akan mengalami kondisi yang sama (seperti sebelumnya pada perkawinan anda).

Karena (pahamilah dengan seksama hal ini)

KUNCI SUKSES PERNIKAHAN BUKANLAH MENEMUKAN ORANG YANG TEPAT, NAMUN KUNCINYA ADALAH BAGAIMANA BELAJAR MENCINTAI ORANG YANG ANDA TEMUKAN, DAN TERUS MENERUS..!

Cinta bukanlah hal yang PASIF ataupun pengalaman yang spontan. Cinta TIDAK AKAN PERNAH begitu saja terjadi. Kita tidak akan bisa MENEMUKAN cinta yang selamanya, tapi kita harus MENGUSAHAKANNYA dari hari ke hari.

Benar juga ungkapan "diperbudak cinta" Karena cinta itu BUTUH waktu, usaha, dan energi. Dan yang paling penting, cinta itu butuh sikap BIJAK. Kita harus tahu benar APA YANG HARUS DILAKUKAN agar rumah tangga berjalan dengan baik. Jangan membuat kesalahan untuk hal yang satu ini. Cinta bukanlah MISTERI.

Ada beberapa hal spesifik yang bisa dilakukan (dengan ataupun tanpa pasangan anda) agar rumah tangga berjalan lancar. Sama halnya dengan hukum alam pada ilmu fĂ­sika (seperti gaya Gravitasi), dalam suatu ikatan rumah tangga juga ada hukumnya. Sama halnya dengan diet yang tepat dan olahraga yang benar dapat membuat tubuh kita lebih kuat. Beberapa kebiasaan dalam hubungan rumah tangga juga DAPAT membuat rumah tangga itu lebih kuat. Ini merupakan reaksi sebab akibat. Jika kita tahu dan mau menerapkan hukum-hukum tersebut, tentulah kita bisa "MEMBUAT" cinta bukan "JATUH". Karena cinta dalam pernikahan sesungguhnya merupakan sebuah DECISION, dan bukan cuma PERASAAN...!

” Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna “.

Man thrives, oddly enough, only in the presence of a challenging environment
« on: April 09, 2008, 05:09:26 AM »

The Japanese have always loved fresh fish. But the waters close to Japan have not held many fish for decades. So to feed the Japanese population, fishing boats got bigger and went farther than ever. The farther the fishermen went, the longer it took to bring in the fish.

If the return trip took more than a few days, the fish were not fresh. The Japanese did not like the taste.

To solve this problem, fishing companies installed freezers on their boats. They would catch the fish and freeze them at sea. Freezers allowed the boats to go farther and stay longer.

However, the Japanese could taste the difference between fresh and frozen and they did not like frozen fish. The frozen fish brought a lower price. So fishing companies installed fish tanks. They would catch the fish and stuff them in the tanks, fin to fin. After a little thrashing around, the fish stopped moving. They were tired and dull, but alive.

Unfortunately, the Japanese could still taste the difference. Because the fish did not move for days, they lost their fresh-fish taste.

The Japanese preferred the lively taste of fresh fish, not sluggish fish.

So how did Japanese fishing companies solve this problem? How do they get fresh-tasting fish to Japan?

To keep the fish tasting fresh, the Japanese fishing companies (still) put the fish in the tanks. But now they add a small shark to each tank. The fish, in an attempt to run away from the shark, stay constantly alert and hence, fresh. The shark may eat a few fish, but most of the fish arrive in a very lively state.


Lessons from the story:

Like the Japanese fish - "Man thrives, oddly enough, only in the presence of a challenging environment."- L. Ron Hubbard.

Challenges are what keep us FRESH! Instead of avoiding challenges, jump into them. Beat the heck out of them.

Enjoy the game. If your challenges are too large or too numerous, reorganize the challenge, team up, be resourceful and do not give up. Failing makes you tired.

If you have met your goals, set some bigger goals.

Once you meet your personal or family needs, move onto goals for your group, the society, even mankind.

Don't create success and lie in it.

You have resources, skills and abilities to make a difference.

Put a shark in your tank and see how far you can really go!







Momentum Grant 'Kubur' Mourinho

Jakarta - Sampai saat ini Avram Grant masih terus terpenjara dalam bayang-bayang manajer Chelsea sebelumnya, Jose Mourinho. Momentum untuk keluar kini tersaji usai memetik hasil 1-1 kontra Liverpool di leg pertama semifinal Liga Champions.

Memang sulit melupakan sosok Mourinho yang tingkah polahnya sedemikian atraktif, plus mampu membawa Chelsea meraih banyak kesuksesan. Sudah tergusur dari Stamford Bridge pun namanya masih acap disebut-sebut fans "Si Biru".

Hal ini jelas jadi beban buat Grant yang menggantikan posisinya. Dibanding-bandingkan, diremehkan dan setumpuk keraguan pun jadi makanan sehari-hari manajer asal Israel tersebut, meski prestasinya juga tak buruk-buruk amat.

Mulai menangani "Si Biru" sejak September 2007 lalu, Grant perlahan-lahan membawa Chelsea merangkak naik di papan klasemen Liga Primer Inggris. Persaingan dengan pemuncak klasemen Manchester United pun masih setia dipelihara. Tapi itu sepertinya belum cukup.

Peluang lain untuk unjuk gigi dan membuktikan diri kini hadir di depan Grant pada ajang Liga Champions. Hasil 1-1 ketika dijamu "Si Merah" di Anfield membuat Chelsea sedikit di atas angin berkat gol tandang. Hal itu bisa jadi krusial, mengingat pertandingan kedua tim di Liga Champions dalam tiga musim ke belakang selalu berjalan sengit dan minim gol.

Pada semifinal musim 2004/05, hanya hadir satu gol, yang mana diciptakan oleh Liverpool dalam returning leg. Dua musim setelahnya, juga di babak empat besar, kedua tim sama-sama menorehkan kemenangan 1-0 di kandang sendiri dan Liverpool baru maju ke partai puncak usai menang adu penalti.

Pun demikian pada musim 2005/06 saat kedua tim berhadapan di fase grup. Laga tetap ketat dan skor 0-0 selalu hadir dalam dua pertemuan mereka.

Pertarungan kedua tim di Premiership musim ini pun setali tiga uang. Di Anfield pada 19 Agustus 2007, hasil 1-1 tersaji --sama seperti hasil di Liga Champions, Rabu (23/4/2008) dinihari WIB. Di kandang Chelsea pada tanggal 10 Februari 2008, kedua tim malah berbagi skor "kacamata". Sebagai catatan, kalau skenario ini terulang di Liga Champions, maka tim Avram Grant dipastikan ke final.

Jika itu terwujud, artinya akan sangat besar buat Grant. Jika bisa membawa klub London itu ke partai puncak dengan mengandaskan Liverpool, maka Grant dalam satu aspek akan melampaui Mourinho, yang sudah dua kali gagal membawa Chelsea ke final, di mana kedua-duanya dikandaskan Steven Gerrard cs.

Bahkan, jika bisa membawa Chelsea menempati tahta juara pentas prestisius klub se-Eropa tersebut, nama Grant akan terpatri jadi manajer pertama yang bisa mempersembahkan gelar itu buat "The Blues". Sebelumnya klub tersebut hanya mampu juara Piala Winners (1971 & 1998) serta Piala Super Eropa (1998).

Namun demikian, jangan dulu bicara juara karena semifinal leg kedua sudah menanti, Kamis (1/5/2008) dinihari WIB. Modal ke final --yang diperoleh dari gol tandang atas Liverpool-- sudah ada, tinggal bagaimana bagaimana mempertahankannya.

Kalau berhasil lolos ke final, apalagi ditambah dengan gelar juara, Grant pun niscaya bakal menggeser sosok Mourinho di Stamford Bridge.

Bisa, Grant?

"I have always grown from my problems and challenges, from the things that don't work out, that's when I've really learned."


Carol Burnett
Actress and Comedian


Misi Chelsea Belum Tuntas

Liverpool - Hasil imbang 1-1 melawan Liverpool jelas menempatkan Chelsea sedikit di atas angin pada returning leg di Stamford Bridge pekan depan. Namun "Si Biru" belum mau menepuk dada karena misinya saat ini belumlah tuntas.

Didier Drogba cs bak mendapat durian runtuh ketika John Arne Riise membobol gawang timnya sendiri di menit-menit akhir pertandingan laga pertama semifinal Liga Champions antara Liverpool kontra Chelsea.

Gol bunuh diri itu membawa kedudukan jadi 1-1 setelah sebelumnya Dirk Kuyt membuat "Si Merah" unggul semenjak menit akhir paruh pertama pertandingan. Tak pelak hasil ini disambut baik kubu Chelsea.

Dengan skor dan gol tandang tersebut, klub London itu relatif diuntungkan karena pekan depan bakal ganti jadi tuan rumah menjamu Liverpool. Artinya, hasil 0-0 di Stamford Bridge pun cukup untuk menjamin tempat di final.

"Tapi walaupun hasil imbang ini bagus, kami sadar akan alot di Stamford Bridge," komentar Manajer Chelsea Avram Grant seperti dikutip BBC.

Memastikan tiket ke partai puncak memang tak bakal mudah bagi Chelsea, walau juga bukannya tak mungkin. Grant pun memastikan kalau Liverpool bakal menghadapi pertarungan ketat di Stamford Bridge.

"Selalu sulit buat tim-tim bermain di Anfield dengan dukungan yang diciptakan fans Liverpool, namun mengunjungi Stamford Bridge juga bisa mengintimidasi. Kami tahu ini adalah langkah besar ke final Liga Champions, dan kami yakin kami bisa menuntaskan tugas itu di leg kedua," tegas Grant.

Kewaspadaan memang tak boleh dilepaskan oleh punggawa Chelsea jika ingin mengandaskan Liverpool, sekaligus juga menyelesaikan misi di kandang sendiri. "Ini belum selesai. Saya harap di kandang kami bisa melakukannya," tandas Petr Cech.

Gerrard Kecewa Tapi Optimistis

Jakarta - Steven Gerrard mengakui bahwa dia frustasi dengan hasil imbang melawan Chelsea di Anfield. Namun kapten Liverpool ini membantah jika hasil tersebut telah menutup peluang The Reds ke final.

Liverpool memang sempat unggul setelah Dirk Kuyt menjebol gawang Peter Cech sebelum turun minum. Meski demikian pertandingan leg pertama di Anfield ini berakhir imbang 1-1 menyusul gol bunuh diri John Arne Riise di saat injury time.

"Tentu saja kami kecewa dengan gol di menit akhir namun itu telah terjadi. Kami harus mendapatkan hasil yang baik dan memberikan segalanya yang dapat kami lakukan di Stamford Bridge," tegas Gerrard seperti dilansir situs resmi Liverpool.

Bagi gelandang internasional Inggris pertarungan dengan Chelsea untuk ke final masih belum berakhir. "Ini tugas saya sebagai kapten mengangkat semangat pemain dan memastikan bahwa mereka telah siap untuk pertandingan pekan depan," ujarnya.

Gerrard pun tidak gentar meskipun Chelsea diuntungkan dengan gol tandang."Biarkan orang mengatakan Chelsea adalah favorit. Kami tahu apa yang kami akan lakukan. Kami yakin dapat mengalahkan Chelsea di laga selanjutnya," tukasnya.

Ia pun tidak membicarakan mengenai gol bunuh diri Riise. "Chelsea akhirnya mendapatkan sedikit keberuntungan di sini di saat akhir. Namun kami mungkin akan beruntung di Stamford Bridge. Tim ini menang, kalah atau seri pun tetap bersama-sama." (key/krs)


Grant: Kami Pantas Mendapatkannya

Liverpool - Hasil imbang 1-1 bagi manajer Chelsea Avram Grant adalah hasil yang adil. Meskipun satu gol tersebut adalah gol bunuh diri namun bagi Grants Chelsea pantas menerimanya.

The Blues sempat tertinggal lebih dulu saat semifinal leg pertama Liga Champions setelah Dirk Kuyt menjebol gawang Peter Cech sebelum turun minum. Namun Chelsea akhirnya mendapat keuntungan gol tandang setelah John Arne Riise membuat gol bunuh diri di saat injury time.

Meskipun gol tersebut adalah hasil bunuh diri pemain Liverpool namun Grant menyatakan bahwa hasil tersebut merupakan hasil yang adil. "Kami sangat pantas menerimanya. Itu adalah pertandingan tanpa banyak peluang," ungkap manajer Chelsea ini seperti dilansir Sky Sport.

"Mereka memiliki peluang di babak pertama, Kami juga memiliki peluang di babak pertama. Hal yang ama juga terjadi di babak kedua. Tidak banyak peluang di babak kedua ini. Ini adalah tipikal untuk petandingan semifinal," ujar Grant mengenai permainan kedua tim tersebut.

Namun, Grant menyebut dua gol tersebut merupakan hasil kesalahan. "Dua gol tersebut berasal dari sebuah kesalahan. Hingga gol petama kami mengontrol pertandingan. Kami mengontrol pertandingan dan kemudian kami membuat sebuah kesalahan," ungkap pelatih asal Israel ini.



Dua Kekecewaan Rafa

Liverpool - Menjamu Chelsea, kemenangan Liverpool yang sudah di depan mata melayang di injury time. Manajer "Si Merah" Rafael Benitez yang kecewa pun menyoroti wasit, bukan untuk mencerca membabibuta tapi sekadar mempertanyakan durasi waktu tambahan.

Sampai dengan menit 90, gol sematawayang Dirk Kuyt beberapa menit sebelum turun minum sepertinya cukup untuk mengunci kemenangan Liverpool dalam laga pertama kontra Chelsea di semifinal Liga Champions.

Namun demikian, saat pertandingan memasuki akhir-akhir menit tambahan, John Arne Riise justru bikin blunder fatal. Dia menanduk bola masuk ke dalam gawang timnya sendiri.

"Saya pikir, pada akhirnya, Anda harus merasa kecewa," sesal Benitez seperti dilansir Goal, Rabu (23/4/2008).

Salah satu ketidakpuasan Benitez jelas bersumber dari gol balasan lawan yang justru dicetak pemainnya sendiri. Yang lainnya adalah masalah durasi waktu tambahan, yang berujung dengan gol bunuh diri itu.

"Satu menit (injury time) di babak pertama, empat menit di babak kedua -- dan dua ratus pelanggaran! Lalu gol bunuh diri di akhir pertandingan, jadi saya sangat kecewa," getir dia.

Komentar itu dikatakannya beberapa menit usai peluit akhir dibunyikan. Dalam konperensi pers resmi, pandangannya pun tak banyak berubah. Maka ketika ditanyakan apakah dia kecewa dengan ofisial pertandingan, Benitez pun lugas menjawab, "Yeah."

"Ini bukan kali pertama. Saya benar-benar kecewa. Anda tak bisa menyalahkan wasit untuk gol bunuh diri itu, tapi --saya tak tahu waktu tepatnya-- ada satu menit tambahan waktu di babak pertama dan empat di babak kedua, bahkan lima...itu sulit dijelaskan," pungkas dia.


Hicks Hadir di Anfield

Tom Hicks (kanan) & anaknya hadir di Anfield (AFP)
Liverpool - Salah satu pemilik klub Liverpool Tom Hicks hadir di Anfield. Pengusaha Amerika Serikat ini tetap memberikan dukungan kepada Steven Gerrard cs meskipun mendapatkan cacian.

Ini adalah kehadiran pertama Hicks di Anfield sejak terakhir hadir Desember lalu. Ia pun bergabung bersama ribuan fans Liverpool menyanyikan lagu kebanggaan klub “You’ll Never Walk Alone” sebelum kick off dilakukan.

Sementara putra Hicks, Tom Hicks Jr turut membentangkan scarf Liverpool. Beberapa fans memang sempat mencaci maki Hicks namun kekhawatiran adanya protes besar dari fans tidak terbukti hingga pertandingan berakhir imbang 1-1.

Hicks duduk di tempat duduk direktur atau hanya beberapa kaki di depan kepala eksekutif Rick Parry yang dimintanya untuk mengundurkan diri. Sementara satu lagi pemilik Liverpool George Gillett tidak hadir dalam laga tersebut.

Gillett telah berencana menjual 50 persen sahamnya kepada Dubai International Capital namun diancam akan diblok oleh Hicks. Gillett pun telah berencana hadir dalam pertandingan tersebut namun tidak dilakukannya atas saran dokter.

Pihak kepolisian pun telah mengingatkan akan potensi terjadinya protes dari fans kepada Hicks dan Gillet. "Tindakan pengamanan telah diberikan kepada klub dan terus dilakukan dengan standar yang berlaku," kata pihak Kepolisian Merseyside seperti dilansir Yahoo Sport.

No comments: