Tuesday, August 21, 2007

Aku Tidak Mau Miskin

Aku Tidak Mau Miskin

Aku tidak mau miskin, tapi orang tuaku hidup dari
belas kasihan orang lain, dan keluarga besarku
menjadikan aku seperti seorang pembantu, mungkin juga
karena mereka yang membiayai uang sekolahkuk. Aku
merasa ditekan sana sini.

Apakah keluargaku memang ditakdirkan miskin?

Takdir. Apa sih takdir? Sebuah ketentuan atau
kepastian? Bahwa sekeras apapun usaha yang kita
lakukan, kalau sudah ditakdirkan begini, ya nggak akan
berubah? Kalau bukan, kenapa banyak banget orang di
luar sana yang kerja keras, pantang menyerah, tetapi
setelah tahunan, bahkan terkadang, puluhan tahun,
hidupnya nggak berubah?

Lalu kenapa, karena takdir? Manusia termasuk makhluk
yang kompleks. Ya, kompleks, karena banyak sekali
fakta bahwa banyak orang yang sukses dan berhasil
karena usaha mereka yang tidak kenal menyerah. Tetapi
di lain sisi pula, banyak juga orang yang sepertinya,
usahanya nggak keras-keras amat, tapi juga berhasil,
yang tentu saja seperti bumi dan langit, kalau
dibandingkan dengan orang-orang yang mungkin sudah
puluhan tahun bekerja keras, tapi hidup mereka nggak
berubah-ubah juga.. Takdir?

Jawaban yang mudah, namun ternyata, kita bisa melihat
lebih dari itu. Ketika seseorang punya pola pikir
sukses (bisa juga disebut pola pikir kaya), maka
terjadi perubahan pada citra diri orang tersebut (yang
menentukan gaya bahasa, bahasa tubuh, dll), sistem
kepercayaan dalam hati orang tersebut (yang menentukan
kepercayaan diri, keberanian, konsistensi, dll), dan
juga kebiasaan yang dilakukannya (disiplin, keuletan,
dll). Jadi, ketika seseorang memiliki pola pikir
sukses, maka ciri-ciri orang tersebut adalah orang
yang tidak mau menyerah begitu saja pada kehidupan,
kreatif dan selalu mencari cara lain untuk mencapai
tujuannya (apalagi bila cara yang ditempuhnya sekarang
tidak jalan seperti yang dimauinya), punya tujuan yang
dikejar, dan mampu menahan sakit yang menghalangi
untuk mencapai tujuannya tanpa mengeluh (karena yakin
bahwa suatu saat dia pasti bisa mencapai apapun yang
diinginkannya) .

Coba lihat ciri-ciri ini. Ternyata, yang membedakan
antara orang yang sukses (winner) dan yang menyerah
(looser, saya tidak mau menggunakan kata gagal,
kenapa? Karena gagal itu wajar dan biasa, orang yang
tidak berani gagal, tidak akan pernah berhasil), bukan
sekedar usahanya, tapi apa yang mendasari usahanya
tersebut, yang ada di dalam pikirannya.

Jadi bagaimana caranya merubah nasib atau takdir ini?
Mulai ubah cara berpikir kita, misalnya, daripada
bilang "nggak mungkin saya mencapai posisi itu", coba
ubah kata-kata di pikiran kita dengan "gimana caranya
saya mencapai posisi itu?". Daripada bilang "Gak
bisa", lebih baik berkata "Belum bisa". Sesederhana
itu? Iya, kenapa mesti dibuat rumit? Otak kita
merupakan alat yang luar biasa, di dalamnya bekerja
pikiran kita. Beri perintah yang tepat, maka otak kita
akan mengerjakan apa yang kita perintahkan dengan
tepat. Masalahnya, banyak orang yang belum memberikan
perintah dengan tepat. Harap diingat, bahwa pikiran
kita terbagi menjadi pikiran sadar dan bawah sadar.
Yang menjalankan perintah kita (utk sukses, kaya,
bahagia, dll) itu adalah pikiran bawah sadar, yang
tentu punya cara dan waktu sendiri untuk memenuhi
keinginan dan harapan kita itu. Yang dibutuhkan adalah
kesabaran dan kesadaran, untuk setiap usaha dan apapun
yang terjadi pada diri kita.

Coba dulu, kita akan menemukan hal-hal besar dari
hal-hal kecil yang kita biasakan setiap harinya...

Bagaimana aku bisa lepas dari tekanan dan tuntutan
balas budi?

Pertanyaan menarik, jawabannya sederhana... hidup ini
pilihan, so, pilih aja untuk lepas dari tekanan dan
tuntutan balas budi itu, gampang kan? Lho, nanti
dibilang "gak tau diuntung", atau "gak tau balas
budi". Ya, kalau begitu, jangan dilupakan, tapi
ditunda sebentar..

Maksudnya gimana? Gini, ketika seseorang berbuat
"baik" (apakah baik secara tulus maupun secara
pamrih), maka rata-rata orang akan merasa sebuah
perasaan berhutang, yang kita sebut sebagai hutang
budi. Nah, perasaan ini merupakan perasaan yang sangat
wajar, yang menjadikannya tidak wajar apabila terjadi
secara berlebihan, yaitu menjadikan kita membenarkan
"apa saja" yang dilakukan oleh orang yang memberikan
kita "kebaikan" tersebut. Yang bisa kita lakukan
gimana?
1. Lihat secara seimbang, kalau seseorang kita
membantu kita dengan sebuah pertolongan, katakan pada
diri kita untuk bersiap suatu saat menolong dia saat
dia kesulitan, dan saat itu hutang budi kita terbalas.
2. Hutang budi TIDAK harus dibayar sekejab dan
kontan... pikirkan aja seperti konsep bank... kan ada
kredit.. apalagi kalau yang memberi itu memberikannya
secara tulus, maka kita bisa membayarnya di waktu dan
kesempatan lain ketika kita juga sudah mampu
membayarnya (lebih mudah lagi kalau terhitung, seperti
bantuan uang dan semacamnya)
3. Rata-rata bantuan diberikan dengan tulus, jadi akan
lebih menghormati pemberi bantuan tersebut, kalau kita
membalasnya suatu saat juga pada saat dia
membutuhkannya, dan bisa dalam bentuk apapun (tenaga,
materi, teman dikala duka, dll), selama kita
membalasnya juga dengan tulus (tanpa keterpaksaan
bahwa kita HARUS balas budi).

Jadi? Ya, mulai untuk berpikir bahwa kita adalah
manusia bebas, manusia yang penuh dengan potensi...
hari ini mungkin kita yang diberi bantuan (tangan
dibawah), tapi yakinlah (bukan mungkin, yakin..),
bahwa suatu saat kita yang akan memberikan bantuan
(tangan diatas, baik untuk balas budi, maupun pada
orang lain).

No comments: