Cita-cita Proklamasi Kian Rapuh
YOGYAKARTA, (PR).-
Cita-cita proklamasi dan spirit yang pernah digelorakan pendiri negara Indonesia, 62 tahun lalu, dinilai semakin memprihatinkan, bahkan mengalami kerapuhan yang nyaris sempurna. Bangsa Indonesia sekarang cenderung tidak mandiri, tidak berdaulat, dan cita-cita proklamasi pun semakin tidak utuh.
SUASANA Diskusi Terbatas "Refleksi Kemerdekaan" yang menghadirkan pembicara mantan Ketua MPR Amien Rais (kanan) di Kantor Perwakilan "PR" Jln. Bausasran Yogyakarta, Senin (13/8).*EVIYANTI/"PR"
Demikian benang merah dari Diskusi Terbatas "Refleksi Kemerdekaan" yang diselenggarakan Pikiran Rakyat di Kantor Perwakilan "PR" Jln. Bausasran, Yogyakarta, Senin (13/8). Diskusi menghadirkan pembicara mantan Ketua MPR Amien Rais dan Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), Cornelis Lay.
Menurut Amien, ada beberapa fenomena yang menunjukkan kondisi rapuhnya bangsa Indonesia. "Yang pertama, kita kehilangan kemandirian. Kedua, kebanggaan nasional semakin tipis. Ketiga, jelas sekali telah tergadaikannya bidang kehidupan kita," ujarnya.
Selain fenomena tersebut, Amien menambahkan, meningkatnya kemiskinan, pengangguran, dan kerusakan ekologis yang terkadang disengaja menjadi bukti kerapuhan bangsa. "Yang terakhir, rekonstruksi mental kita semakin tidak jalan. Hal ini ditunjukkan dengan masih digunakannya jalan pintas untuk mencapai sesuatu, bahkan korupsi seolah telah menjadi way of life," ujarnya.
Dicontohkannya, pengelolaan tambang, baik gas maupun migas, yang cenderung merugikan negara merupakan salah satu indikasi kelemahan bangsa Indonesia di bidang ekonomi. Salah satunya yakni kasus gas alam di Natuna yang dikeruk ExxonMobil tanpa memberikan manfaat sesen pun kepada negara. "Ini justru kejahatan korporasi yang dipermudah oleh pemerintah. Saya sudah cek ke Komisi VII DPR RI dan Bupati Natuna, memang bangsa kita tidak mendapatkan apa-apa," ungkapnya.
Hal kedua yang disoroti oleh Amien, yakni kedaulatan bangsa Indonesia yang mulai diinjak-injak bangsa lain karena begitu rapuh. Bahkan, untuk menghadapi Singapura pun, Indonesia dinilai tidak berdaya. "Saya telah baca draf DCA (Defence Cooperation Agreement -red.) yang karut-marut dan menghina eksistensi bangsa Indonesia. Yang menarik, sampai sekarang Komisi I DPR RI belum pernah diberi draf oleh pemerintah. Jadi disembunyikan, " ungkap Amien.
Dalam draf tersebut, Singapura meminta untuk diperkenankan melakukan latihan perang di wilayah Indonesia dengan menggunakan peluru tajam serta melibatkan pihak ketiga. Hal ini berlaku untuk 21 tahun dan tidak boleh direvisi kecuali setelah 12 tahun. Selain itu, sejumlah perusahaan Indonesia pun telah mulai beralih tangan ke negara lain.
Melihat kondisi tersebut, kata Amien, bangsa Indonesia perlu segera melakukan pemikiran ulang yang radikal supaya Indonesia tidak menjadi bangsa kuli.
"Yang saya tidak mengerti, lebih dari enam dasawarsa kita merdeka, tetapi kita semakin seperti kerbau dicocok hidung dalam menghadapi fenomena globalisasi. Kelemahan kita yakni tidak bisa belajar dari negara lain," ujarnya.
Meski demikian, Amien tetap yakin bahwa permasalahan ini masih bisa teratasi asalkan ada kesungguhan komprehensif, baik dari pemerintah maupun masyarakatnya.
Perlawanan
Cornelis Lay juga mengatakan, langkah radikal untuk melawan korporasi asing perlu segera dilakukan dengan kalkulasi yang cermat. Apalagi, hingga saat ini pemimpin negara belum pernah melakukan langkah radikal untuk melawan korporasi asing.
"Saya rasa kita belum pernah menghitung secara cermat seberapa besar ancaman konkret itu jika memang perlawanan kolektif serta frontal kita lakukan. Berdasarkan pengalaman beberapa negara, risikonya tidak sebesar yang kita takutkan," ungkap Cornelis.
Permasalahan fundamental kita, menurut dia, yakni tidak memanfaatkan akumulasi investasi politik terbatas yang telah diletakkan oleh pemimpin sebelumnya, sehingga kebijakan pemerintah pun sering berubah-ubah dan cenderung tidak jelas.
Cornelis menegaskan, semua ini tidak akan terjadi jika pemimpin bangsa kita mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan. "Tugas pemimpin sederhana sekali, yakni memutuskan. Setelah diputuskan, semua risiko harus berani ditanggung," kata Cornelis. Dia menyimpulkan, memang tidak mudah untuk mengambil keputusan, kecuali pemimpin itu mempunyai keberanian. (A-155)*
Permainan Hari Merdeka!
Selasa, 14 Agustus 2007
BURAS
Permainan Hari Merdeka!
H.Bambang Eka WIjaya:
"KENAPA permainan rakyat setiap Hari Kemerdekaan 17 Agustus selalu itu-itu saja, seperti menggigit koin dari jeruk yang dilumuri arang, makan kerupuk digantung dengan tangan ke belakang, balap karung, tarik tambang, dan panjat pinang?" tanya cucu.
"Yang jelas karena semua itu lucu dan bisa menghibur!" jawab kakek. "Tapi memang, kalau mau dilihat sebagai teater massal di seantero pelosok Tanah Air, permainan Hari Merdeka itu bisa jadi pantomim, parodi kehidupan rakyat itu sendiri!"
"Sudah kuduga begitu!" timpal cucu. "Lomba menggigit koin di jeruk yang tergantung, misalnya, parodi betapa sulitnya rakyat mendapatkan uang, sampai wajah kotor mirip badut belum tentu berhasil! Demikian pula lomba makan kerupuk yang berayun-ayun di ujung tali, begitu susah hidup rakyat untuk sekadar bisa makan kerupuk saja pun!"
"Balap karung melukiskan selalu terbatasnya langkah rakyat dalam mencapai tujuan, jatuh-bangun pun belum tentu bisa mendapat apa yang diharapkan-- dalam permainan itu disimbolkan dengan hadiah!" sambut kakek. "Tarik tambang lebih realistis, hanya kelompok yang kuat yang berhak atas hadiah--survival of the fittest--sedang yang kalah cuma bisa jadi penonton kelompok kuat menikmati hasil kemenangannya! "
"Tapi panjat pinang, sebagai puncak semua permainan itu, kayaknya menggambarkan struktur sosial-politik masyarakat!" potong cucu. "Orang yang paling bawah harus menyangga orang-orang yang berada di struktur atasnya agar bisa bertahan tidak jatuh sekaligus yang paling atas mampu meraih tujuannya!"
"Dalam panjat pinang, meski orang yang berada paling bawah menanggung beban paling berat, setelah yang paling atas mampu meraih tujuan hasilnya dibagi-bagi, dengan orang yang terbawah mendapat nilai bagian terbesar--dengan pembagian hadiah sesuai dengan urutan beban ke atas!" tegas kakek. "Dalam struktur sosial-politik nyata berbeda! Orang yang diusung beramai-ramai untuk mencapai puncak dan meraih tujuannya, setelah berhasil menikmati sendiri hadiah yang diperolehnya! Sedang orang-orang yang di bawahnya, meski masih terus-terusan menyangga dirinya agar tetap bertahan di posisinya, tidak mendapat pembagian dari hadian yang telah berhasil diraihnya itu!"
"Huahaha..! Kenyataannya justru sangat konyol!" entak cucu. "Berarti lomba panjat pinang itu memberi pelajaran kepada para pemimpin, terutama politisi, agar setelah ia mencapai tujuan di posisi puncak dan meraih kenikmatan, jangan lupa pada rakyat yang bahkan masih terus menyangganya untuk bertahan di posisi itu!"
"Itu kalau saja para pemimpin dan politisi cukup arif untuk memahami filosofi apa yang setiap hari kemerdekaan dipertontonkan rakyat untuk mengingatkan mereka!" tegas kakek. "Termasuk pesan yang disampaikan lewat berbagai permainan lain, mengingatkan para pemimpin betapa susahnya rakyat menggapai sekadar uang receh atau untuk sekadar makan kerupuk saja pun! Pokoknya tak pada tempatnya para pemimpin berfoya-foya menghambur-hamburka n uang rakyat, padahal rakyatnya sedang kelimpungan! "
__
Presiden Harapkan Generasi Muda Belajar Patriotisme dari Pendahulu
Refleksi: Presiden, Pendahulu tidak membakar buku, tetapi belajar dari buku. Generasi sekarang diajar membakar buku. Heinrich Heine dalam karyanya Almansor (1821) menulis: "Dort, wo man Bücher verbrennt, verbrennt man am Ende auch Menschen." [Dimana buku dibakar, akan juga berakibat membakar manusia].
YOGYAKARTA, (PR).-
Cita-cita proklamasi dan spirit yang pernah digelorakan pendiri negara Indonesia, 62 tahun lalu, dinilai semakin memprihatinkan, bahkan mengalami kerapuhan yang nyaris sempurna. Bangsa Indonesia sekarang cenderung tidak mandiri, tidak berdaulat, dan cita-cita proklamasi pun semakin tidak utuh.
SUASANA Diskusi Terbatas "Refleksi Kemerdekaan" yang menghadirkan pembicara mantan Ketua MPR Amien Rais (kanan) di Kantor Perwakilan "PR" Jln. Bausasran Yogyakarta, Senin (13/8).*EVIYANTI/"PR"
Demikian benang merah dari Diskusi Terbatas "Refleksi Kemerdekaan" yang diselenggarakan Pikiran Rakyat di Kantor Perwakilan "PR" Jln. Bausasran, Yogyakarta, Senin (13/8). Diskusi menghadirkan pembicara mantan Ketua MPR Amien Rais dan Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), Cornelis Lay.
Menurut Amien, ada beberapa fenomena yang menunjukkan kondisi rapuhnya bangsa Indonesia. "Yang pertama, kita kehilangan kemandirian. Kedua, kebanggaan nasional semakin tipis. Ketiga, jelas sekali telah tergadaikannya bidang kehidupan kita," ujarnya.
Selain fenomena tersebut, Amien menambahkan, meningkatnya kemiskinan, pengangguran, dan kerusakan ekologis yang terkadang disengaja menjadi bukti kerapuhan bangsa. "Yang terakhir, rekonstruksi mental kita semakin tidak jalan. Hal ini ditunjukkan dengan masih digunakannya jalan pintas untuk mencapai sesuatu, bahkan korupsi seolah telah menjadi way of life," ujarnya.
Dicontohkannya, pengelolaan tambang, baik gas maupun migas, yang cenderung merugikan negara merupakan salah satu indikasi kelemahan bangsa Indonesia di bidang ekonomi. Salah satunya yakni kasus gas alam di Natuna yang dikeruk ExxonMobil tanpa memberikan manfaat sesen pun kepada negara. "Ini justru kejahatan korporasi yang dipermudah oleh pemerintah. Saya sudah cek ke Komisi VII DPR RI dan Bupati Natuna, memang bangsa kita tidak mendapatkan apa-apa," ungkapnya.
Hal kedua yang disoroti oleh Amien, yakni kedaulatan bangsa Indonesia yang mulai diinjak-injak bangsa lain karena begitu rapuh. Bahkan, untuk menghadapi Singapura pun, Indonesia dinilai tidak berdaya. "Saya telah baca draf DCA (Defence Cooperation Agreement -red.) yang karut-marut dan menghina eksistensi bangsa Indonesia. Yang menarik, sampai sekarang Komisi I DPR RI belum pernah diberi draf oleh pemerintah. Jadi disembunyikan, " ungkap Amien.
Dalam draf tersebut, Singapura meminta untuk diperkenankan melakukan latihan perang di wilayah Indonesia dengan menggunakan peluru tajam serta melibatkan pihak ketiga. Hal ini berlaku untuk 21 tahun dan tidak boleh direvisi kecuali setelah 12 tahun. Selain itu, sejumlah perusahaan Indonesia pun telah mulai beralih tangan ke negara lain.
Melihat kondisi tersebut, kata Amien, bangsa Indonesia perlu segera melakukan pemikiran ulang yang radikal supaya Indonesia tidak menjadi bangsa kuli.
"Yang saya tidak mengerti, lebih dari enam dasawarsa kita merdeka, tetapi kita semakin seperti kerbau dicocok hidung dalam menghadapi fenomena globalisasi. Kelemahan kita yakni tidak bisa belajar dari negara lain," ujarnya.
Meski demikian, Amien tetap yakin bahwa permasalahan ini masih bisa teratasi asalkan ada kesungguhan komprehensif, baik dari pemerintah maupun masyarakatnya.
Perlawanan
Cornelis Lay juga mengatakan, langkah radikal untuk melawan korporasi asing perlu segera dilakukan dengan kalkulasi yang cermat. Apalagi, hingga saat ini pemimpin negara belum pernah melakukan langkah radikal untuk melawan korporasi asing.
"Saya rasa kita belum pernah menghitung secara cermat seberapa besar ancaman konkret itu jika memang perlawanan kolektif serta frontal kita lakukan. Berdasarkan pengalaman beberapa negara, risikonya tidak sebesar yang kita takutkan," ungkap Cornelis.
Permasalahan fundamental kita, menurut dia, yakni tidak memanfaatkan akumulasi investasi politik terbatas yang telah diletakkan oleh pemimpin sebelumnya, sehingga kebijakan pemerintah pun sering berubah-ubah dan cenderung tidak jelas.
Cornelis menegaskan, semua ini tidak akan terjadi jika pemimpin bangsa kita mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan. "Tugas pemimpin sederhana sekali, yakni memutuskan. Setelah diputuskan, semua risiko harus berani ditanggung," kata Cornelis. Dia menyimpulkan, memang tidak mudah untuk mengambil keputusan, kecuali pemimpin itu mempunyai keberanian. (A-155)*
Permainan Hari Merdeka!
Selasa, 14 Agustus 2007
BURAS
Permainan Hari Merdeka!
H.Bambang Eka WIjaya:
"KENAPA permainan rakyat setiap Hari Kemerdekaan 17 Agustus selalu itu-itu saja, seperti menggigit koin dari jeruk yang dilumuri arang, makan kerupuk digantung dengan tangan ke belakang, balap karung, tarik tambang, dan panjat pinang?" tanya cucu.
"Yang jelas karena semua itu lucu dan bisa menghibur!" jawab kakek. "Tapi memang, kalau mau dilihat sebagai teater massal di seantero pelosok Tanah Air, permainan Hari Merdeka itu bisa jadi pantomim, parodi kehidupan rakyat itu sendiri!"
"Sudah kuduga begitu!" timpal cucu. "Lomba menggigit koin di jeruk yang tergantung, misalnya, parodi betapa sulitnya rakyat mendapatkan uang, sampai wajah kotor mirip badut belum tentu berhasil! Demikian pula lomba makan kerupuk yang berayun-ayun di ujung tali, begitu susah hidup rakyat untuk sekadar bisa makan kerupuk saja pun!"
"Balap karung melukiskan selalu terbatasnya langkah rakyat dalam mencapai tujuan, jatuh-bangun pun belum tentu bisa mendapat apa yang diharapkan-- dalam permainan itu disimbolkan dengan hadiah!" sambut kakek. "Tarik tambang lebih realistis, hanya kelompok yang kuat yang berhak atas hadiah--survival of the fittest--sedang yang kalah cuma bisa jadi penonton kelompok kuat menikmati hasil kemenangannya! "
"Tapi panjat pinang, sebagai puncak semua permainan itu, kayaknya menggambarkan struktur sosial-politik masyarakat!" potong cucu. "Orang yang paling bawah harus menyangga orang-orang yang berada di struktur atasnya agar bisa bertahan tidak jatuh sekaligus yang paling atas mampu meraih tujuannya!"
"Dalam panjat pinang, meski orang yang berada paling bawah menanggung beban paling berat, setelah yang paling atas mampu meraih tujuan hasilnya dibagi-bagi, dengan orang yang terbawah mendapat nilai bagian terbesar--dengan pembagian hadiah sesuai dengan urutan beban ke atas!" tegas kakek. "Dalam struktur sosial-politik nyata berbeda! Orang yang diusung beramai-ramai untuk mencapai puncak dan meraih tujuannya, setelah berhasil menikmati sendiri hadiah yang diperolehnya! Sedang orang-orang yang di bawahnya, meski masih terus-terusan menyangga dirinya agar tetap bertahan di posisinya, tidak mendapat pembagian dari hadian yang telah berhasil diraihnya itu!"
"Huahaha..! Kenyataannya justru sangat konyol!" entak cucu. "Berarti lomba panjat pinang itu memberi pelajaran kepada para pemimpin, terutama politisi, agar setelah ia mencapai tujuan di posisi puncak dan meraih kenikmatan, jangan lupa pada rakyat yang bahkan masih terus menyangganya untuk bertahan di posisi itu!"
"Itu kalau saja para pemimpin dan politisi cukup arif untuk memahami filosofi apa yang setiap hari kemerdekaan dipertontonkan rakyat untuk mengingatkan mereka!" tegas kakek. "Termasuk pesan yang disampaikan lewat berbagai permainan lain, mengingatkan para pemimpin betapa susahnya rakyat menggapai sekadar uang receh atau untuk sekadar makan kerupuk saja pun! Pokoknya tak pada tempatnya para pemimpin berfoya-foya menghambur-hamburka n uang rakyat, padahal rakyatnya sedang kelimpungan! "
__
Presiden Harapkan Generasi Muda Belajar Patriotisme dari Pendahulu
Refleksi: Presiden, Pendahulu tidak membakar buku, tetapi belajar dari buku. Generasi sekarang diajar membakar buku. Heinrich Heine dalam karyanya Almansor (1821) menulis: "Dort, wo man Bücher verbrennt, verbrennt man am Ende auch Menschen." [Dimana buku dibakar, akan juga berakibat membakar manusia].
No comments:
Post a Comment