Tuesday, August 21, 2007

Julio Baptista

Julio Baptista
Mencaplok Kesempatan

The Beast. The Tank. Brazilian Steven Gerrard. Entah apa lagi julukan yang diberikan pada Julio Cesar Baptista. Ia punya tiga peran di lapangan. Tapi, hanya satu targetnya musim ini: bertahan di Real Madrid!

Selama karier profesionalnya, pria Brasil berusia 25 tahun ini pernah dipercaya sebagai gelandang serang, gelandang tengah, dan second striker. Lalu, di mana peran yang akan membuatnya menemukan kembali kepercayaan diri? Ini pertanyaan penting menyikapi keberadaannya di Bernabeu.

Setelah digaet Madrid dari Sevilla tahun 2005, karakter Baptista dianggap tidak cocok dan dipinjamkan ke Arsenal. Setahun di Inggris, The Beast bersikukuh Madrid adalah rumahnya. Terlebih ketika pelatih Bernd Schuster mengatakan Baptista adalah bagian dari rencananya.

“Hanya ada satu dalam benak saya, yakni bertahan di Madrid dan membuktikan saya pantas untuk itu,” tegas Baptista usai mencetak gol saat Madrid kalah 1-2 dari Deportivo La Coruna (9/8).

Gelandang menyerang, jangkar, atau pelapis striker? “Saya sudah bicara dengan Schuster. Dia ingin memakai saya sebagai second striker,” kata Baptista.

Ruud van Nistelrooy adalah tumpuan utama Schuster di lini depan. Nah, Baptista harus mengalahkan Raul Gonzalez, Javier Saviola, hingga Robinho dan Gonzao Higuain bila ingin membuktikan ucapannya. Setiap menit ia mengenakan kostum Real Madrid di lapangan adalah kesempatan emas.

“Saya punya banyak hal yang bisa ditawarkan untuk Madrid. Ingin saya buktikan bahwa saya pantas menjadi bagian tim ini,” jelas Baptista.

Namun, seperti kata Baptista pascakekalahan 0-1 di Sevilla, publik Madrid harus bersabar. Begitu pula terhadap performanya di awal musim. Ini kunci menuju kesuksesan yang harus diperoleh. (wesh)

Drenthe Ditanggapi Dingin

Madridistas seolah sudah keburu pesimistis menyangkut kebijakan transfer yang dilakoni petinggi Santiago Bernabeu menjelang bergulirnya Primera Division La Liga musim 2007/08. Buktinya pendukung setia Real Madrid ini menanggapi dingin perekrutan Royston Drenthe.

Royston Drenthe, dianggap bakal sulit menggantikan Roberto Carlos.

Kekecewaan publik ibu kota Spanyol itu tak bisa dilepaskan dari kesuksesan besar Barcelona di lantai transfer. Maklum, empat pemain yang direkrut Barca, Yaya Toure, Thierry Henry, Erik Abidal, dan Gabi Milito, berkelas bintang dan sudah teruji di klub mereka sebelumnya.

Sementara itu, amunisi baru Madrid, Jerzy Dudek dan Javier Saviola, kadar bintangnya mulai meredup. Okelah, Cristophe Metzelder dan Pepe juga punya mutu ciamik. Akan tetapi, Metzelder baru sembuh dari cedera. Pepe? Belum terlalu canggih di panggung Eropa.

Drenthe sendiri? Full-back yang kerap mengisi posisi winger kiri tersebut merupakan salah satu hot property dunia sepakbola Eropa saat ini. Selain itu, Bernd Schuster, pelatih anyar El Real, juga sedang mencari pemain dengan kriteria persis seperti yang dimiliki Drenthe.

Artinya, jika dipikir secara logis, seharusnya Madridistas senang bukan kepalang menyambut keberhasilan transfer Drenthe dari Feyenoord Rotterdam bernilai 14 juta euro ini. Tapi, yang ada, menurut jajak pendapat yang dibuat situs As dan Marca, publik Bernabeu justru kurang antusias.

Kesimpulan Madridistas

As menjabarkan sebanyak 71 responden tidak yakin pada masa depan bocah berumur 19 tahun itu di Madrid. Sementara itu, Marca menulis bahwa lebih dari 52 pengunjung situs mereka merasa Madrid telah mengeluarkan dana yang tidak sebanding.

Jika ditarik garis merah, intinya Madridistas berkesimpulan bahwa masuknya Drenthe tak akan membawa pengaruh signifikan dalam upaya Madrid mempertahankan mahkota La Liga. Katanya, Drenthe bakal sulit menambal lubang yang ditinggalkan Roberto Carlos.

Schuster punya pendapat lain. “Saya merasa sangat bahagia. Ini seperti Hari Natal,” aku sang entrenador soal perekrutan Drenthe. “Saya harap transfer ini akan disusul sejumlah nama lain dalam waktu dekat. “Madrid sedang berusaha keras di bursa transfer. Jadi, tolong bersabar sedikit.”

Menurut media ranah Matador, Schuster masih menanti kabar dari Arjen Robben, Rafael van der Vaart, dan Michael Ballack. Ketiganya masih masuk dalam daftar wajib dibeli. Meski begitu, para petinggi Bernabeu memilih bungkam saat diminta konfirmasi.

Dewan direksi malah menegur Schuster, yang dianggap terlalu terbuka dalam memaparkan pemain incarannya. Wah, belum-belum sudah tidak kompak. (Sapto Haryo Rajasa)


Uang bukan segalanya......

Korban Lumpur Kembalikan Kelebihan Dana Ganti Rugi Rp 429 Juta (Republika Online)

Surabaya-RoL- - Waras (56), warga Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, korban luapan lumpur panas Lapindo Brantas Inc. mengembalikan kelebihan dana pembayaran ganti rugi lahan terdampak lumpur sebesar Rp429,4 juta kepada PT Minarak Jaya Lapindo (MLJ).

Sebagai penghargaan atas kejujuran dan ketulusan Waras, manajemen PT Minarak Lapindo Jaya memberikan tali asih berbentuk uang tunai Rp20 juta dan perhiasan senilai Rp20 juta.

Pemberian tali asih ini diberikan Dirut PT MLJ Bambang kepada Waras disaksikan Komisaris Utama PT MLJ Gesang Budiarso, Vice President PT MLJ Andi Darussalam Tabusalla, dan Komisaris PT MLJ Ari Santosa, di Surabaya, Selasa. "Kami apresiasi kejujuran saudara Waras yang mengembalikan uang kelebihan itu," kata Vice President PT Minarak Lapindo Jaya, Andi Darussalam Tabusalla.

Waras mengatakan, sebidang sawahnya seluas 2.440 meter persegi ikut terendam lumpur panas. Berdasarkan persetujuan, ia memperoleh ganti rugi sebesar Rp56 juta dari MLJ. Namun, saat ia mengecek uang di rekeningnya, ternyata dana yang diterima sekitar Rp486 juta. "Kami sekeluarga langsung klenger (tak sadar,red) saat tahu di rekening kami kelebihan dana Rp429 juta. Bayangkan mestinya hanya terima Rp56 juta, kok rekeningnya kelebihan Rp 429 juta. Rasanya tidak enak makan dan tidur," kata Ny Astiyah, istri Waras.

Karena itu, ia langsung mendukung keputusan suami mengembalikan uang itu, karena ia meyakini petuah masyarakat Jawa, yakni harta (uang) yang bukan hak keluarga mereka harus dikembalikan. Baginya, menerima harta yang bukan menjadi hak hanya akan menyiksa diri. "Hidup kami bakalan tidak tenang, jika kami tidak mengembalikan uang yang memang bukan hak kami. Buat apa hidup dibuat susah. Kami ingin hidup tenang," katanya dengan penuh keluguan.

Bukan hanya Astiyah yang mendukung suami mengembalikan uang itu. Anak mereka, Sri Wahyuni dan Iswanto yang sedang jadi pengangguran akibat pabrik tempat kerja mereka ikut terendam lumpur juga mendukung sang ayah. "Kami berdua memang sedang menganggur dan butuh uang, tapi buat kami kejujuran adalah hal yang utama. Kalau memang bukan hak kami, harus dikembalikan, " kata Sri Wahyuni.

Meski mengakui uang Rp 429 juta itu sangatlah besar bagi keluarga mereka, namun Wahyuni tidak akan menyesali keputusan keluarga mereka mengembalikan uang milik PT Minarak Lapindo Jaya. "Apa enaknya kami makan uang yang bukan menjadi hak kami. Sebelum uang itu resmi kami kembalikan, kami sekeluarga tidak bisa makan dan tidur. Alhamdulillah, akhirnya uang itu bisa kami kembalikan," kata Wahyuni.

Untuk mengamankan kelebihan uang itu, Waras langsung memindahkan uang Rp429 juta itu ke Bank Rakyat Indonesia (BRI), karena ia khawatir, bila uang itu tetap tersimpan di rekening lama, tiba-tiba ada yang memindah. "Setelah itu, saya lapor kepada Kepala Desa dan akhirnya bisa dimasukkan ke rekening PT Minarak Lapindo Jaya," tambah Waras. antara

Islamabad: Pakistan's prime minister vowed to stop any "foreign power" from violating the country's borders as millions of people celebrated 60 years of independence on Tuesday with parties, fireworks -- and much introspection.

"I want to make it clear that not under any circumstances will we allow any foreign power to enter Pakistan's territory," Prime Minister Shaukat Aziz said at a traditional flag-hoisting ceremony in the capital Islamabad to mark Independence Day.

Aziz's comments came amid signs of growing unease in Pakistan over questions in the United States whether President Pervez Musharraf's government was doing enough to battle Al Qaida and pro-Taliban militants on its border with Afghanistan.


Some US politicians recently said the United States must be willing to strike Al Qaida targets in Pakistan even without Islamabad's permission -- drawing rebuke in the country.

In some parts of the country, there was a more celebratory atmosphere.

Several thousand people gathered for a midnight firework display in the garrison town of Rawalpindi, called Islamabad's twin city. People waved national flags and danced to the tune of patriotic songs.

In the eastern city of Lahore, troops hoisted the national flag at the Wagah border with India, as up to 200 people present at the ceremony raised "Long-live Pakistan" slogans.

"We pray for peace and progress in Pakistan and an end to the wave of violence across the country," said Arshad Mehmood, a college student.

Newspapers were packed with opinion pieces analysing Pakistan's 60 years. Many focused on what one commentator called an "orgy of pessimism" surrounding Pakistan's troubled years of military rule and struggles with democracy.

"True, we have made blunder after blunder, committed terrible crimes against our own people," Dawn newspaper said in one editorial.

"All said and done, there has been progress, though, admittedly, the rate could have been faster."

On Monday night Musharraf, who came to power in a 1999 coup, dismissed threats of any US action inside Pakistan, and said President Bush telephoned him and gave guarantees with regard to Pakistan's sovereignty.

"I am fully confident and very sure that there will be no action from across the border," he said during a question and answer programme broadcast on television, in an apparent reference to US-led foreign troops fighting Taliban insurgency in Afghanistan.

No comments: