Greysia Yakin walau Rangkap
Konsentrasi tinggi dan tenaga ekstra harus dipersiapkan Greysia Polii. Bukan apa-apa, cewek yang baru ultah ke-20 ini jadi satu-satunya pemain rangkap dalam tim.
Selain berpartner dengan Jo Novita di ganda putri, ia juga harus membagi tenaganya di ganda campuran bersama Muhammad Rizal. Bahkan, Greysia juga harus bisa mengayomi Rizal, yang baru kali ini terjun di arena seakbar kejuaraan dunia.
“Persiapan sudah maksimal. Bagi saya sendiri, fisik juga sudah ditingkatkan supaya bisa maksimal di dua nomor. Pokoknya tinggal main dan optimistis saja,” lanjut Greysia.
Ia menambahkan berpasangan dengan Rizal, yang baru pertama kali ikut kejuaraan ini, memang memunculkan tantangan berbeda. “Memang berbeda dengan pemain yang sudah pernah ikut. Namun, selama latihan, kami sudah saling bicara dan nanti di pertandingan setidaknya saya harus terus memompa motivasinya agar tidak takut,” tambahnya.
Rasa tidak takut dan sikap optimistis berulang kali ditekankan Greysia. Ia mencontohkan kemenangan rekan satu pelatnas, Vita Marissa/Lilyana Natsir, di Cina Super Series lalu menjadi dorongan kuat baginya agar tidak mudah menyerah. “Kalahnya pemain ganda putri Cina yang merupakan terkuat di dunia oleh Vita dan Butet membuktikan bahwa tidak ada yang tak mungkin,” tegasnya. Setuju! (dede)
Play-off 2 IBL
Jago Lama Masih Perkasa
Jangan bosan menyaksikan Satria Muda Britama dan Aspac Putra Riau kembali bertemu dalam final A Mild IBL. Kedua tim itu sukses menundukkan lawannya dalam play-off kedua A Mild IBL di GOR Bima Sakti, Malang, 11-12 Agustus. Hanya dua pertandingan yang mereka perlukan dalam play-off berformat best of three ini.
Satria Muda masih perkasa. Usaha keras Garuda membuat kejutan dimentahkan dengan kemenangan 62-56 dan 69-46. Di pertemuan pertama, Garuda amat menjanjikan. Kelly Purwanto dkk. bahkan unggul saat kuarter ketiga usai.
“Kami sempat deg-degan, untung kemenangan bisa jadi kenyataan,” kata Amin Prihantono, forward SM. “Anak-anak memang capai, tapi semangat mereka luar biasa. Ini yang jadi kunci,” kata Fictor Gideon Roring, pelatih SM seusai kemenangan Rony Gunawan dkk.
Ito memuji perlawanan yang diberikan Garuda. “Di pertandingan kedua kami juga coba bermain seperti gim pertama, namun mental juara memang belum ada pada Garuda,” aku Johannis Winar, asisten pelatih Garuda.
Sementara itu, Andrie Ekayana membuktikan tekad menunjukkan permainan terbaik di kampung halaman. Pemain Aspac Putra Riau kelahiran Malang ini mampu mencetak 22 angka, tiga rebound, dan tiga assist. “Sejak awal saya memang ingin tunjukkan kemampuan terbaik di Malang,” kata Yayan, sapaannya.
Putra Riau menang telak 77-64 dan 90-53 atas Bhinneka. Kini Putra Riau menatap sasaran merebut gelar juara di bawah arahan pelatih asal Filipina, David “Boycie” Zamar.
“Kami memang datangkan dia untuk membawa tim ini jadi juara. Kalau gagal konsekuensinya dia harus pergi,” kata manajer tim Aspac Putra Riau, Tjetjep Firmansyah. (Indra Ita)
Hasil
Sabtu, 11 Agustus
Putra Riau vs Bhinneka Solo 77-64
SM Britama vs Garuda Bandung 62-56
Minggu, 12 Agustus
Garuda Bandung vs SM Britama 46-69
Bhinneka Solo vs Putra Riau 53-90
Lolik Masih Terbaik
I Made “Lolik” Sudiadnyana masih jadi yang terbaik. Bintang Bhinneka Solo ini dinobatkan sebagai Most Valuable Player A Mild IBL tahun ini. Torehan 447 poin, 138 rebound, 48 assist, 23 steal, dan 20 blockshot membuatnya memimpin.
“Lolik wajar jadi yang terbaik. Minute play dia di atas rata-rata pemain lain,” kata Eddy Santoso, pelatih Bhinneka Solo. Lolik bisa bermain 35 menit lebih dalam satu gim.
“Saya tak pernah berpikir jadi MVP. Konsentrasi saya adalah bagaimana tim bisa menjadi pemenang,” kata Lolik, pria kelahiran 16 November 1970.
Kontrak Lolik dengan Bhinneka akan berakhir musim ini. “Belum tahu mau terus di Solo atau pindah klub. Tapi, kalau ke Jakarta, tampaknya terlalu modern buat saya yang wong ndeso ini,” candanya kepada BOLA. Lolik pun ingin merasakan gelar juara yang belum pernah dikecapnya, baik bersama Bhinneka ataupun klub sebelumnya, Bima Sakti.
Gelar Rookie of the Year menjadi milik center Bima Sakti, Ponsianus Nyoman. Ini gelar kedua bagi Bima Sakti. Dua tahun lalu, pemain mereka, Dimas Aryo Dewanto, juga terpilih sebagai Rookie of the Year. (idr)
Royals Memang Die Hard
Cerah, mendung, gerimis, mendung, cerah berangin kencang, dan diakhiri teriknya sinar matahari yang menyengat. Begitulah perubahan cuaca di Manchester yang BOLA rasakan pada Minggu (12/8), saat Manchester United menjamu Reading.
Perubahan cuaca ini setali tiga uang dengan naik-turunnya gelombang euforia di seantero Inggris menyikapi hasil-hasil pekan pertama Premier League 2007/08. Kemenangan 2-0 Manchester City atas West Ham di London pada Sabtu (11/8), misalnya, sontak membuat nama Sven-Goran Eriksson menjadi populer di Manchester.
Pembahasan soal debut ajaib sang mantan pelatih timnas Inggris di Premier League itu terus berlangsung di jaringan radio dan televisi di Manchester hingga keesokan harinya dan mengalahkan berita kesuksesan Liverpool, Arsenal, dan Chelsea, yang juga meraih tiga angka di laga pertama.
Tapi, bukan faktor Eriksson yang membuat pasukan Sir Alex Ferguson terbebani dan tampil mandul di Old Trafford. Hasil 0-0 semata muncul karena perlawanan die hard The Royals, terutama karena kiper Marcus Hahnemann tampil dengan performa terbaiknya.
BOLA juga melihat buruknya kebugaran sejumlah muka baru yang didatangkan United musim ini menjadi kendala Fergie untuk menurunkan tim terbaik. Owen Hargreaves, Anderson, dan Carlos Tevez bahkan tidak ada di bangku cadangan United pada Ahad lalu.
Tidak mengherankan apabila Fergie saat konferensi pers di Carrington, Jumat (10/8), sempat menyatakan penyesalannya tidak langsung membeli Tevez dari West Ham setelah musim 2006/07 berakhir.
“Carlos Tevez dalam kondisi fisik yang buruk. Mungkin karena setelah Copa America ia sempat menjalani liburan sambil menunggu kepastian kontrak di sini,” ujar manajer Red Devils itu.
Tekel Tinggi Kitson
Anehnya Fergie dalam starting eleven-nya melawan Reading tidak mencoba menurunkan Luis Nani. Sang bos malah memasang dua pemain bertipe bek di sayap kiri, Mikael Silvestre dan Patrice Evra. Imbasnya, 74% penguasaan bola United jadi mentah lantaran timpangnya tusukan di lini depan.
Nani baru diturunkan di babak kedua menggantikan Wayne Rooney, yang mengalami nyeri di telapak kaki kirinya. Peluang United untuk memenangi laga sempat membesar setelah pasukan Steve Coppell kehilangan Dave Kitson di menit ke-73.
Kitson diganjar kartu merah karena high tackle pada Evra. Uniknya, Kitson sendiri baru berada di lapangan selama 37 detik setelah menggantikan striker Kevin Doyle. Well, ternyata nasib United memang tidak berubah lantaran tiga kali di sisa waktu yang ada, bahkan hingga injury time, Hahnemann melakukan penyelamatan gemilang.
Seusai laga, Ferguson menyebut kemungkinan Rooney tidak mengalami cedera parah. “Ia masih bisa berdiri dan berjalan, saya rasa ini tidak seperti ketika tulang metatarsal-nya dulu patah,” tandasnya. (Darojatun)
Tuesday, August 21, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment