Perjalanan Pahit Anak-anak Korban G-30-S/PKI (5)
Caci Maki dan Hinaan
Menjadi Makananku Sehari-hari
PADA kisah sebelumnya diceritakan, Elvi dan Bobby dibawa oleh suami dari sepupu jauhnya ke kampung halaman neneknya yang cukup jauh. Meskipun terlepas dari ancaman orang-orang sekampungnya, Elvi tetap mendapat tekanan batin. Saudaranya pun seolah-olah membencinya dan selalu menampakkan sikap tidak bersahabat. Bagaimana nasib Elvi selanjutnya? Inilah lanjutan kisahnya yang ditulis M. Irfan Ar.
KEPINDAHANKU ke kampung halaman nenekku tidak membawa perubahan baik terhadap ketenteraman jiwaku. O iya, aku memanggil nenekku dengan sebutan "emak" karena panggilan "nenek" hanya kuperuntukkan buat kakak kakekku (Nenek Tursina) yang kemudian merawatku hingga dewasa. Di tempat kelahiran ayahku ini aku malah semakin tertekan. Semua saudara-saudara dari ayahku tidak ada yang mau bersimpati terhadap nasib yang kualami. Semua memandang kami dengan pandangan penuh rasa sinis.
Kami sering diolok-olok dan dicaci maki. Mereka tidak segan-segan menghinaku dan dengan sengaja membuat hatiku sakit. Tapi aku tidak bisaberbuat banyak, karena keadaan sedang tidak berpihak padaku. Sebenarnya aku tidak betah berada di sini, tapi aku haruspergi ke mana? Ayah ibuku ditahan, saudara-saudara dari pihak ibu takseorang pun yang mau menerima kehadiranku. Mereka sangat membenci kami. Aku tahu kebencian itu ditujukan pada ayahku, tetapi merekamenumpahkanny a pada kami. Sebetulnya perbuatan itu tidak adil. Aku dan kakakku hanyalah anak yang tidak tahu menahu soal kesalahan orangtua. Mengapa mesti kami yang harus menanggung semua kesalahan itu? Mengapa?
Aku masih ingat pada ucapan anak kepala desa saat aku bermain dekat rumahnya. Aku tidak akan melupakan kata-katanya yang pedas dan menyakitkan. Kupikir, kata-kata itu tidakperlu terlontar dari "orang terhormat" seperti dia.
Saat itu aku sedang bermain di rumah Uak Burhan, kakak sepupu ayahku, ayahnya Teh Luciana. Layaknya seorang anak kecil seusiaku, aku bermain congkak di atas tanah menggunakan kerikil, di bawah pohon cengkih. Ketika aku tengah asyik bermain,tiba- tiba dari rumah kepala desa yang terhormat itu keluar anak sulungnya yang perempuan, namanya sebut saja Teh Septia (sekarang sudah meninggal). Wanita bertubuh tambun berusia 25 tahunan (terpaut 20 tahun denganku) itu menghampiriku sambil memandangku sinis.
"Ini Elvi, 'kan?" tanyanya.
Aku menoleh lalu mengangguk. Kulihat bibirnya mencibir. Aku segera menunduk. Tidak tahan melihat wajahnya yang kecut.
"Kasihan kamu Elvi. Dulu orang-orang selalu memanggilmu Neng Elvi, sekarang enggak ada lagi yang menyebut begitu karena orangtuamu dimasukkan ke penjara, ya? Kasihan amat," katanya sambil berlalu.
Ada sebilah sembilu menoreh hatiku. Sakit sekali. Aku ingin menangis sejadi-jadinya, tetapi rasanya air mata ini sudah kering. Dalam batinku aku berteriak memanggil ayah ibuku, "Ayah, mengapa aku harus menerima penghinaan seperti ini? Apa salahku?"
Cacian, makian, hinaan menjadi santapanku setiap hari. Ke mana pun aku pergi selalu saja ada orang yang mengatakan aku sebagai anak PKI. Kalau ada sedikit kekhilafan yangkuperbuat, saudara-saudara dari pihak ayahku selalu mengatakan, "Dasar anak PKI." Aku sedih sekali. Seandainya aku bisa melihat, mungkin hatiku telah tercabik-cabik dan penuh luka karena hinaan orang.
Ketika memasuki masa sekolah, aku pun sekolah meski pada awalnya nenekku hampir tidak menyekolahkanku karena alasan biaya. Emak bilang, biaya sekolah kakakku pun belum tentu terpenuhi. Aku sakit sekalimendengar hal itu, Emak memang agak pilih kasih. Kakakku diperlakukan lebih baik dariku karena ia sempat tinggal cukup lama dengannya. Orangtua sendiri saja bersikap seperti itu, apatah lagi orang lain.
Beuntung aku masih punya saudara jauh, keponakan jauh ayahku yang bekerja di kantor kecamatan. Namanya sebut saja Kang Praja dan istrinya Teh Sartika. Usia mereka terpaut cukup jauh dengan ayahku. Mereka lebih tua belasan tahun dari ayahku, tetapi karena silsilah keluarga, aku memanggil mereka Akang dan Teteh.
Kedua orang ini sangat baik dan penuh perhatian. Mereka menyayangiku seperti anak mereka sendiri.Tatapan mata mereka selalu menyejukkan hatiku dan setiap ucapan yang terlontar dari mulut mereka penuh dengan ungkapan kasih sayang. Mereka menawariku agar aku mau tinggal bersama mereka, tetapi aku sudah lebih dulu memutuskan tinggal bersama Nenek Tursina. Untuk membalas kebaikanmereka setiap hari aku datang ke rumah mereka, kadang-kadang menginap sampai dua tiga hari.
Di tempat Kang Praja aku bisa makan dan minum secara leluasa, tidak seperti di rumah saudara-saudara dekat dari ayahku. Di tempat mereka aku makan sambil makan hati, karena setiap sedang makan selalu diceramahi dengan kata-kata yang cukup menyakitkan. Setelah itu disediakan pekerjaan yang lumayan berat untuk ukuran anak-anak.
"Silakan kamu makan dulu, tapi ingat ya, setelah makan kamu cuci piring dan bersihkan halaman. Kamu harus bisa menitipkan diri, karena ayahmu dipenjara tak mungkin menolongmu," kata Teh Luciana di depan ibunya dan neneknya.
Aku tidak menjawab. Sepiring nasi dan sepotong tempe yang ada di hadapanku sama sekali tidak mengundang selera makanku, meskipun aku lapar. Kata-kata Teh Luciana itu telah membunuh selera makanku. Ingin sekali aku beranjak dari hadapan mereka dan pergi ke rumah Kang Praja, tapi aku tak berani. Mereka pasti marah. Apa pun harus kulakukan, mesti menyakitkan. (bersambung)
Puluhan Calon Pekerja Tertipu
Sabtu, 18 Agustus 2007 | 19:01 WIB
TEMPO Interaktif, POnorogo: Puluhan calon pekerja Indonesia dengan tujuan Korea Selatan ditipu oleh Subowo, anggota Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Dia diperkirakan menerima ratusan juta dari aksinya.
Menurut Agus, seorang calon pekerja, Subowo mendatangi rumah calon pekerja. "Dia berjanji untuk mempercepat proses pemberangkatan dengan syarat harus membayar uang," katanya di Ponorogo pada Sabtu (18/8).
Ia mengaku sudah menyetorkan uang muka Rp 25 juta untuk biaya pemberangkatan. Karena tidak segera berangkat ia
kemudian mendatangi Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Ponorogo untuk mempertanyakannya.
"Ternyata dia tidak datang dan pegawai lainnya juga tidak mengetahui keberadaannya, " ujarnya.
menanggapi kasus ini, Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Ponorogo, Sutiyas Hadi Riyanto meminta Pemerintah Kabupaten POnorogo bertanggung jawab atas ulah salah satu pegawainya. "Cara bagaimana ia mengelabui calon TKI itu sangat terencana dan sistematis," ujarnya. Ia juga meminta agar polisi menelusuri kemungkinan keterlibatan pegawai lain dalam kasus ini. DINI MAWUNTYAS
Masih ingat krismon?
Banyak orang di phk, kehilangan mata pencaharian dan nafkah......
Dampaknya sampai juga di Lembaga Pendidikan tempat aku dipercaya untuk memimpin.
Begitu banyak siswaku yang menyatakan tidak mampu membayar uang sekolah, karena ayah-ibunya kehilangan tempat untuk mendapatkan nafkah......
Pagi itu, menghadap padaku seorang siswa yang dikenal pandai, kita sebut saja si A.
A mulai berkeluh kesah,
"Ibu, saya mau berhenti dari sini. Karena kalau saya melanjutkan sekolah. Adik-adik saya tidak bisa sekolah, bahkan kami tidak bisa makan. Saya tidak mau melanjutkan sekolah, ibu."
AKu tercekat. Tidak tahu apa yang harus aku katakan. Tapi akhirnya, ini yang aku katakan,
"Kalau kamu tidak mau melanjutkan, ya sudah. Saya tidak bisa apa-apa. Kamu yang lebih tahu apa yang baik untuk kamu dan keluargamu." Hari-hari kemudian, A tidak melanjutkan sekolah. Siang harinya, datang seorang siswa lain, menghadapku sebut saja si B. A berkata dengan perlahan,
"Ibu, saya ingin bersekolah. Saya ingin tetap bersekolah. Tetapi ayah saya memutuskan untuk menghentikan sekolah saya demi kelangsungan sekolah kakak saya di Jogja. Ayah hanya seorang pedagang warung, dalam situasi seperti sekarang ini, ayah bilang dia tidak sanggup membiayai kakak dan saya sekaligus. Saya diminta untuk mengalah, tetapi saya ingin sekali bersekolah, saya tidak ingin berhenti, apakah ada jalan bagi saya untuk bersekolah disini?" Hati saya berdesir, namun desirannya berbeda dengan desiran tadi pagi ketika saya menghadapi si A. Entah kenapa, ini yang terucap untuk si B,
"Kita akan cari jalan keluarnya bersama-sama. Saya minta kamu tetap bersemangat dan bersungguh-sungguh. Tunjukkan pada ayahmu bahwa kamu juga pantas untuk dipertahankan." Aku segera menghubungi salah satu sahabat baikku yang selalu membantuku untuk membantu siswa yang tidak mampu bersekolah, dan sahabatku menyanggupi membiayai sampai keadaan normal kembali.
Saking terharunya, ketika kakak si B yang kuliah di UGM lulus dan akan diwisuda, orangtuanya datang menyerahkan undangan wisuda kepadaku.
"Ibu yang lebih pantas datang ke wisuda anak saya. Karena ibu memberikan jalan untuk kedua anak saya." Aku tentu saja menolak dan menyatakan bahwa, "ini saatnya anak-anak bapak yang berbakti memberikan kebanggaan awal atas jerih bapak sebagai orangtua yang mengasihinya."
Sampai detik ini aku tidak pernah mendengar kabar dari si A, sedangkan saat ini, si B telah bekerja di suatu perusahaan dengan kedudukan yang baik. Kehidupan keluarganya sudah meningkat berkat anak-anak mereka.
10 tahun dari hari itu, aku disadarkan, akan kejadian itu membawa pelajaran yang sangat berarti, yaitu pertolongan datang pada pemilik 'keinginannya yang kuat', yang kemudian menggerakkan orang membantu mewujudkannya.
si A 'ingin berhenti' dan 'keinginannya' terpenuhi.
Si B "ingin melanjutkan sekolah" dan 'keinginannya' juga terpenuhi.
Berhati-hatilah akan sebuah 'keinginan', meski dalam kesulitan yang menjempit sekalipun.
Dirimu dan TuhanMu
Apakah engkau merasakan
bahwa dirimu telah letih berdoa,
letih meminta letih memohon,
agar doa dan pintamu didengar Tuhanmu?
Apakah kau sadari,
Beliau ada amat dekat denganmu?
Apakah engkau berharap doamu didengar, sedangkan
engkau sadar, bahwa Beliau Maha Mendengar?
Apakah engkau meminta didengar, padahal
doamu, bincangmu, sapamu dan gosipmu,
itu di-dengar?
Apakah engkau tetap memohon didengar, sementara
pikiran-pikiran buruk di kepalamu,
itu di-dengar?
Apakah masih engkau lalai, bahwa
lintasan iri, dengki, hasud, sombong, bangga diri di hatimu,
itu di-dengar?
Oleh-Nya, Tuhanmu yang Maha Mendengar?
Bagaimana Beliau mengabulkan doamu,
bila campuran hidupmu
adalah
doa baik dan pikiran buruk-mu?
Bagaimana doamu dikabulkan,
sedangkan yang terdengar dari-mu
keseharian hidupmu
adalah ke-tidak bersih-an-mu?
Bagaimana pinta bisa berbalas,
untuk diri yang saat meminta berbaik-baik,
dan seusai menutup pinta
kembali berkubang noda?
Dengan begitu,
terdengar baik
di doa kita,
di ucap kita,
di fikir kita,
di hati kita,
di setiap waktu
adalah keharusan untuk kita,
bila ingin didengarNya.
Dan karena itu,
terlihat baik
adalah pembuktian kita
akan betapa seriusnya
kita ingin didengarNya.
Oh Tuhanku,
betapa aku lalai
saat ku berdoa,
Engkau mendengar bukan hanya pintaku,
Engkau melihat bukan hanya doaku,
Engkau mendengar semuanya, dan
Engkau melihat semuanya.
Oh Tuhanku,
kuatkan aku,
untuk terlihat dan terdengar baik
oleh-Mu.
Tuesday, August 21, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment